Berharganya cokelat yang pernah jadi alat pembayaran oleh Suku Maya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Suku M,aya (Garry Hammond/Flickr)

Cokelat menjadi salah satu komoditas paling populer di dunia. Sejarah cokelat bisa dirunut jauh hingga peradaban Suku Maya Kuno. Saat itu, cokelat tak hanya sekadar jadi makanan semata. Cokelat sempat bernilai sama berharganya dengan uang dan emas pada saat ini.

Bagi Suku Maya, biji kakao memang dianggap sebagai hadiah dari dewa dan karena itu mereka menggunakannya sebagai mata uang karena nilainya. Konon karena cokelat juga, peradaban Suku Maya yang pernah mencapai puncak kejayaan ini jatuh.

Lalu bagaimana kisah cokelat bagi Suku Maya? Dan mengapa komoditi ini begitu berharga? Berikut uraiannya:

1. Cokelat bagi Suku Maya

Suku Maya (jpstein/Flickr)

Cokelat merupakan sebutan untuk hasil olahan makanan atau minuman dari biji kakao. Ahli ekologi melacak kata “cokelat” berasal dari kata Aztec ‘xocoatl’ yang merujuk pada minuman pahit yang diseduh dari biji kakao. Karena rasanya sangat pahit, biji kakao perlu diproses agar rasanya bisa dinikmati.

Dimuat dari Medcom.id, diperkirakan tanaman kakao awalnya tumbuh di daerah Amazon Utara sampai ke Amerika Tengah, mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Konsumsi cokelat diduga merentang dari tiga hingga empat milenium yang lalu, di Mesoamerika pra-Kolombia seperti Olmec.

  Gelasa, Pulau yang menyimpan jejak misteri peradaban purba Indonesia

Residu cokelat ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh Suku Maya kuno, peradaban pertama yang mendiami daerah Mesoamerika di Rio Azul, Guatemala Utara. Ini menunjukan bahwa Suku Maya meminum cokelat sekitar tahun 400 SM.

Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoati juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin di dalamnya.

2. Jadi alat transaksi

Suku Maya (Bell.Carson/Flickr)

Kako disebut juga  Theobroma cacao yang berarti ‘makanan para dewa’. Sejak dahulu, tanaman kakao memang dijadikan hidangan mewah untuk para dewa. Bahkan selama beberapa abad, saking berharganya kakao sering digunakan sebagai mata uang.

Dikabarkan Kompas, seorang arkeolog Joanne Baron menyebut cokelat semakin sering muncul setelah abad 8 Masehi. Cokelat ketika itu telah diterima sebagai alat pembayaran untuk berbagai hal. Bukan lagi hanya sebagai benda barter semata.

Salah satu penggambaran paling awal dari penggunaan cokelat sebagai alat pembayaran ditemukan di lukisan dinding di abad ke 7 Masehi. Dalam lukisan dinding yang dipajang di piramida tersebut, tergambar sebuah pasar sentral.

  Pernah kuasai Greenland, mengapa Bangsa Viking malah meninggalkannya?

Lukisan tersebut menggambarkan seorang wanita yang tampak menawarkan semangkuk cokelat panas kepada seorang pria sebagai imbalan atas adonan untuk membuat sajian tamale. Suku Maya memang biasanya mengonsumsi cokelat panas sebagai minuman yang disajikan dalam cangkir tanah liat.

Seiring berjalannya waktu, bukti menunjukkan bahwa cokelat mulai diperlakukan seperti layaknya uang koin. Salah satunya bahwa raja-raja Suku Maya menerima biji kakao sebagai upeti. Menunjukkan bahwa biji kakao telah diterima sebagai mata uang pembayaran pada saat itu.

“Mereka mengumpulkan lebih banyak kakao daripada yang bisa dikonsumsi kerajaan,” tambah Baron.

3. Hancur karena cokelat

Suku Maya (@Doug88888/Flickr)

Kelebihan biji kakao tersebut diperkirakan digunakan untuk membayar pegawai kerajaan atau membeli sesuatu di pasar. Biji kakao memang sangat populer di peradaban Suku Maya. Biji Kakao bahkan dihargai lebih tinggi daripada hasil panen seperti jagung.

Alasannya, karena pohon kakao lebih rentan gagal panen dan tidak bisa tumbuh di semua kota-kota Maya. Beberapa ahli bahkan percaya bahwa sulitnya perolehan biji kakao jadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap runtuhnya peradaban Suku Maya Kuno.

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 2)

 “Gangguan pasokan kakao ini memicu munculnya kekuatan politik yang akhirnya menyebabkan kerusakan ekonomi dalam beberapa kasus,” terangnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya