Bobeto, sumpah turun-temurun masyarakat Kalaodi untuk menjaga alam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kampung Kalaodi Tidore (Berita foto1/Flickr)
Kampung Kalaodi Tidore (Berita foto1/Flickr)

Masyarakat Kalaodi, kecamatan Tidore Timur, kota Tidore Kepulauan, provinsi Maluku Utara memiliki cara sendiri untuk berinteraksi dengan alam dan kehidupan bermasyarakat. Masyarakat mengenal bobeto, sebuah sumpah turun temurun untuk menjaga alam.

Sumpah ini sangat dijunjung tinggi oleh warga. Mereka menyakini bila bobeto dilanggar maka musibah akan menimpanya. Karena itulah sumpah itu kini dipraktikan dalam beberapa aktivitas perlindungan alam. Berangkat dari hal ini, masyarakat Kalaodi pun dijuluki Kampung Ekologi Penjaga Tidore.

Lalu bagaimana awal mula bobeto muncul dalam tradisi masyarakat Kalaodi? Lalu apa juga yang masih dilakukan oleh masyarakat untuk mempraktekan kepercayaan ini untuk kepentingan alam? Berikut uraiannya:

1. Sumpah demi lingkungan

Hutan Tidore (Risval Boedhi/Flickr)
Hutan Tidore (Risval Boedhi/Flickr)

Warga Kalaodi yang bermukim di dataran tinggi Pulau Tidore, Maluku Utara sangat tahu cara mencintai alam. Bagi mereka, merusak alam tidak hanya menghina leluhur, tetapi kelak akan memberikan kesengsaraan bagi orang-orang di Kota Tidore.

Sebagai cara memperkuat aturan agar tidak merusak alam, mereka juga mengenal istilah bobeto. Hal ini semacam sumpah atau perjanjian oleh lembaga adat di Kalaodi. Mereka harus menaati sebagai hukum yang tidak boleh dilanggar.

Bunyi bobeto dalam bahasa Tidore yakni nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon yang artinya siapa yang merusak alam, nanti dirusak alam. Bobeto dipegang kuat oleh masyarakat Kalaodi. Karena itu mereka melarang menebang atau merusak pohon tertentu, mengganggu hewan, dan segala isi alam,

  Danau buatan berusia 2.500 tahun ditemukan di Sisilia, diyakini kolam suci

“Ada ucapan yang terucap jika mereka mengkhianati bobeto itu jika ke laut akan di mangsa hiu, jika ke hutan di mangsa ular,” kata Abdurahman, tokoh masyarakat Kalaodi yang dimuat Mongabay Indonesia.

Abdurahman menceritakan, sekitar 1970, Kota Tidore pernah mengalami banjir bandang karena penebangan pohon secara masif. Banjir besar itu menyebabkan Tidore nyaris tenggelam. Karena itulah, masyarakat kemudian bersepakat untuk melindungi puncak Gunung Tidore termasuk Kalaodi dan sekitarnya.

2. Ritual Paca Goya

Alam Tidore (Exploreplant/Flickr)
Alam Tidore (Exploreplant/Flickr)

Salah satu cara masyarakat Kalaodi untuk berterima kasih kepada alam adalah melakukan ritual Paca Goya. Ritual ini diyakini memiliki kekuatan mistik untuk berhubungan dengan alam. Masyarakat Kalaodi secara rutin menyelenggarakan ritual ini pasca panen besar atau ditentukan oleh para pemangku adat.

Paca Goya dilakukan bila dianggap telah tiba masanya membersihkan tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti bukit dan gunung, tempat di mana kebun dan permukiman warga juga berada. Seluruh warga Kalaodi akan datang dari berbagai penjuru Pulau Tidore untuk mengikuti ritual ini.

  Bukti konservasi hutan di zaman Kerajaan Majapahit

Menurut pemangku adat Kalaodi saat ritual berlangsung, tak ada yang boleh mengambil gambar atau diabadikan memakai kamera. Dirinya menyebut ada yang pernah mengambil gambar saat ritual tetapi tidak berhasil terekam karena ada kekuatan magis.

Goya yang jadi tempat ritual merupakan hutan sekitar seperempat hektare dengan pohon-pohon besar menjulang. Di bawah pohon-pohon besar ini saat ritual, akan mereka bersihkan dengan gotong royong. Di bawah pohon ini juga jadi tempat memanjatkan doa selamat dan acara makan bersama orang Kalaodi.

Paca Goya, ini satu rangkaian dari ritual Legu Doi atau ritual menyatu dengan alam. Legu Dou sendiri berasal beberapa ritual dan berlangsung selama sepekan. Selain itu ada juga prosesi Sabua Yahu yaitu pembuatan rumah adat dan Kabata yaitu ritual mengolah hasil panen.

“Simbol mengolah hasil panen padi itu tetap jalan karena kebiasaan orang dahulu menanam bahan makanan padi dan jagung,” katanya.

3. Jaga keserasian alam dan lingkungan

Anak Tidore (Yadi Yasin/Flickr)
Anak Tidore (Yadi Yasin/Flickr)

Beragam tradisi dan kepercayaan ini dipraktikan dalam aktivitas perlindungan alam. Pertama mereka menjaga sumber air, kedua jangan menimbulkan erosi, banjir dan bencana lingkungan yang berdampak pada daerah di dataran rendah, utamanya kota Tidore, tempat di mana istana sultan berada.

  Pesona Gua Pancur, keindahan batuan dari sumber mata air Pegunungan Kendeng

Tradisi dan budaya terjaga ini merupakan sumber kekuatan menjaga keserasian alam dan lingkungan. Misalnya ketika petani membuka lahan baru, harus meminta restu dan izin penjaga alam. Hal ini bukan masalah kepercayaan tetapi upaya memuliakan penjaga alam.

Tradisi Paca Goya juga memiliki makna penting bagi masyarakat Kalaodi karena mempertemukan warga yang telah berpencar ke berbagai tempat. Mereka biasanya akan hadir saat ada kesempatan, terutama mereka yang merantau ke Ternate, Halmahera, hingga Papua.

“Setiap orang Kalaodi yang merantau pasti diberitahu keluarga jika akan upacara adat. Biasa mereka datang jika punya waktu,” kata Abdurahman.

Namun dengan kesetiaan masyarakat Kalaodi terhadap sumpah bobeto dan tradisi Paca Goya, menjadikan mereka tidak serakah dalam mengelola sumber daya alam. Sehingga bisa menjaga pesisir Pulau Tidore dari ancaman kekeringan dan bencana lingkungan lainnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya