Catatan Marco Polo soal badak yang disebutnya unicorn

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Seorang pelaut kelahiran Italia, Marco Polo cukup termasyur sebagai penghimpun cerita-cerita yang terkesan unik bagi masyarakat Eropa. Dirinya mengawali kemashyuran Namanya ketika tiba di China, saat menelusuri jalan sutra.

Marco pada abad ke 13 menginjakan kaki di tanah Sumatra. Di sana dirinya terkejut melihat seekor bintang yang aneh tetapi nyata. Dalam catatan perjalanannya, dia menyebut binatang itu unicorn – kuda bertanduk dalam mitologi Eropa – di negeri yang dirinya sebut Java Minor (Jawa Kecil).

Unicorn tersebut mempunyai bulu seperti kerbau dan kaki menyerupai gajah. Mereka mempunyai satu tanduk besar di tengah-tengah kening,” jelasnya yang dikutip dari buku Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Lalu, bagaimana catatan Marco Polo saat melihat hewan yang disebutnya unicorn, berikut uraiannya:

1. Cerita Badak dari Sumatra

Marco Polo (Wikipedia)

Marco lalu mendeskripsikan kembali bahwa hewan ini memiliki lidah yang dilengkapi dengan duri-duri tajam dan panjang. Sehingga ketika ingin melukai siapa pun, mereka akan meremukan orang itu dengan cara berlutut di atasnya lalu mengoyaknya dengan lidah.

Disebutnya hewan ini memiliki kepala menyerupai babi hutan dan selalu menunduk ke tanah. Hewan ini juga lebih sering menghabiskan waktu dengan berkubang dalam lumpur dan lendir.

  Keindahan alam Hindia Belanda yang lahirkan sebuah aliran seni lukis

Bahkan Marco menggambarkan satwa ini tidak enak dilihat, tidak seperti cerita unicorn yang berkembang di Eropa. Karena memang dalam perkembangan ilmu pengetahuan, unicorn yang dimaksud oleh Marco adalah badak.

“,,,Dia tak kenal kata ‘badak’. Mungkin juga dia tak membaca risalah Galus Plinus Secendus dalam Naturalis Historia. Laksamana dan ilmuan Romawi yang hidup di antara dasawarsa-dasawarsa awal abad Masehi itu menggambarkan hewan yang disebut rhinoceros, mirip dengan yang dilihat Marco Polo,” tulis Goenawan Muhammad, jurnalis senior dalam esai berjudul Monster.

Diungkapkan oleh Goenawan, ‘badak’ juga muncul dalam sebuah gambar Albert Durer, seniman perupa terkenal Jerman tahun 1515. Durer disebutnya juga belum pernah melihat badak secara langsung.

Durer hanya memberi nama itu kepada bentuk hewan yang dirinya gambar bedasarkan teks dan coretan orang lain. Tetapi bagi orang Eropa, selama 300 tahun gambar itulah yang mewakili badak yang hidup di alam.

“Cukup mirip, meskipun anatominya meleset: Ada tanduk di punggung, dan kuku kakinya seperti kuku kaki sapi,” ucap Goenawan.

  Napak tilas perkebunan teh Malabar, warisan Bosscha yang mendunia

“Dia bukan hewan cantik seperti unicorn di pangkuan Maria, dia memukau karena ganjil, bukan gajah, bukan babi hutan, bukan beruang, tetapi hibriditas, jelasnya.

2. Penelitian badak di Pulau Jawa

Badak (Commons Wimedia)

Pada 1787 penelitian badak jawa (Rhiniceros sondaicus) pertama kali terjadi. Tulang badak ini dikirim kepada penyidik alam Belanda bernama Petrus Camper, yang belum sempat menerbiitkan hasil penelitiannya karena meninggal tahun 1789.

Alfred Davaucel yang menembak badak jawa di Sumatra, lalu mengirim spesimen ini ke ayah tirinya Georges Cuvier, ilmuan asal Prancis. Pada tahun 1822, Cuvier lantas mengetahui bahwa hewan yang sedang ditelitinya istimewa.

Di waktu yang hampir bersamaan, Anselme Gaetan Desmarest mengindetifikasinya sebagai Rhinocerus Sondaicus. Dahulu badak ini hanya dikenal di bagian selatan Jawa Barat dan di Gunung Slamet (Jawa Tengah), walau ada juga fosil yang diperoleh di sebelah utara Yogyakarta.

Frans Willhelm Junghuhun, seorang ahli botani dan geologi asal Jerman terkejut ketika mendaki Gunung Pangrango pada tahun 1839. Dia dikejutkan dengan dua bada jawa yang ada di dekat puncak gunung.

  Ironi buaya irian, Dianggap sakral oleh masyarakat adat tetapi tetap diburu

“Seekor sedang berendam di sungai kecil dan yang lain sedang merumput di pinggir sungai,” catatnya.

Penduduk kota Bandung hingga akhir abad 19 juga masih bisa menyaksikan adanya badak jawa, mereka menyebutnya badak priangan. Tidak mengherankan bila di Bandung kini ada daerah bernama Rancabadak.

Tetapi pada tahun 1895 seorang pemburu Belanda menembak mati bada jawa tidak jauh dari kota Bandung. Itulah badak jawa terakhir di kota Bandung.

3. Penelitian Badak di Sumatra

Badak Sumatra (Wikipedia)

Sementara itu badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) baru didokumentasikan pada tahun 1793. Ketika itu badak ini ditembak di suatu daerah yang berjarak 16 km dari luar Bentang Marlborough. Deskripsinya dikirimkan ke Joseph Banks seorang naturalis yang kelak jadi presiden Royal Society.

Dalam bahasa Inggris, badak bercula dua ini sebutannya Sumatran rhino. Juga dipanggil hairy rhino karena rambutnya yang lebat, khusunya bagian punggung, perut bawah, ujung ekor, dan ujung daun telinga.

Satwa ini tersebar di Sumatra, semenanjung Malaysia, Thailand. Di Malaysia panggilannya badak kerbau, karena badannya yang mirip kerbau.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya