Cerita pembangunan kanal bagi masyarakat Batavia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Phoa Beng Gan (Flickr/kevin_lee_andries)

Phoa Beng Gan (disebut juga Phoa Bing Gam) adalah seorang bekas Kapitan China (Kapitein der Chinezen) dan ahli irigasi yang hidup di Jakarta pada zaman penjajahan Belanda pada abad ke 17. Dirinya punya andil membangun kota Jakarta (Batavia).

Sosoknya lah yang membangun saluran atau kanal yang akan mengalirkan air ke laut untuk mengatasi banjir yang sering terjadi di Batavia dan menimbulkan penyakit malaria. Karyanya ini masih bisa dinikmati oleh masyarakat kota Jakarta hingga saat ini.

Lantas siapa sosok Phoa Beng Gan? Dan apa perannya dalam membangun kanal di Jakarta? Berikut uraiannya:

1. Batavia kota penyakit

Kali Besar (Sura Ark/Flickr)

Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC pertama (1619-1629) membangun Kota Batavia di tempat yang berawa-rawa, penuh lumpur, dan berbagai bibit penyakit. Oleh karena itu banyak penduduk Batavia yang meninggal.

Menghadapi situasi seperti itu Phoa Beng Gan seorang konglomerat China yang juga seorang ahli perairan menawarkan diri pada pemerintah VOC. Hal ini agar dirinya diijinkan membuat sebuah kanal agar rawa-rawa bisa masuk ke kanal tersebut, sehingga rawa-rawa itu jadi kering.

  Ragam cerita sejarah Sungai Ciliwung, sumber kehidupan masyarakat Jakarta

Pimpinan VOC setuju dengan rencana itu, mereka mengijinkan Phoa melaksanakan rencananya. Phoa meminta masyarakat Tionghoa ikut menyumbang. Sebab mereka pula yang akan menikmati hasilnya kelak. Dirinya merencanakan kanal itu berfungsi pula sebagai lalu-lintas sampan.

“Biayanya dipikul oleh masyarakat sendiri karena pemerintah waktu itu hanya berani membiayai dengan jumlah yang tidak berarti,” ungkap Tim Reporter dalam buku Sedjarahnya Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tambah Sia yang dimuat Historia.

Sumbangan dari orang Tionghoa mengucur. Tak hanya berbentuk dana, tetapi juga kasar. Mereka jadi penyumbang dana sekaligus buruhnya. VOC ikut membantu pengongkosannya. Tiap melihat kemajuan pembangunan kanal baru tersebut, VOC menambah pengongkosannya.

2. Proses pembangunan

Kali Besar (Tel33/Flickr)

Pada tahapan pembangunan kanal ini, Phoa diketahui turun langsung. Dirinya terjun ke lapangan mencari aliran Kali Ciliwung. Dirinya membabat hutan lebat di luar tembok kota dan sempat bertemu beberapa binatang buas.

Dia juga tidak lupa membuat peta hasil penelusurannya sehingga memudahkan pekerjaan pembuatan kanal baru. Phoa menyelesaikan semua pekerjaan kanal ini dalam waktu relatif singkat. Namun hasilnya ternyata sangat memuaskan.

  Kemuliaan andong sebagai alat transportasi bagi kalangan bangsawan di Yogyakarta

“Air-air yang menggenangi rawa-rawa, sekarang ini sudah mulai turun…Lalu lintas air itu menambah jalannya perekonomian semakin sehat,” lanjut reporter.

Orang Tionghoa kemudian menyebut kanal tersebut “Binghamvart”, merujuk pada nama Phoa Bingham atau Beng Gan. Namun kemudian pada tahun 1661, orang VOC mengubah nama kanal ini menjadi Molenveliet -kini Kali Besar- hingga menjadi saluran yang paling diminati.

Terkesan dengan hasil kerja Phoa, VOC menghadiahinya sebidang tanah di luar tembok kota (sekarang terletak di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat). Phoa kemudian menaman tebu di atas tanah itu. VOC kemudian juga meramaikan wilayah itu dengan membangun pabrik penggilingan obat.

“Dari situlah Phoa mengusulkan lagi penambahan kanal untuk menghubungkan wilayahnya di selatan ke pusat kota di utara. Sekali lagi, dirinya berhasil melakukannnya,” ucapnya.

3. Jejak yang bermanfaat

Phoa Beng Gan (Flickr/kevin_lee_andries)

Dengan adanya Kali Molenvliet, Beng Gam mendapatkan keuntungan besar sebab kini dia dapat mengangkut kayu-kayu hasil hutan dari wilayah Harmoni dan Jaga Monyet melalui kali itu untuk dibawa ke Batavia.

  Kali Besar, keindahan sungai yang membelah kota kembar Batavia

Namun pada suatu musim kemarau yang panjang, air kanal mengering sehingga perahu tidak bisa melintas. Beng Gam memutar otak bagaimana supaya kanal tetap berair. Dia pun mengadakan survei ke arah sebelah timur, dekat pejambon dan mendapati bahwa air di Kali Ciliwung masih tetap melimpah.

“Maka ia minta izin kepada pemerintah untuk membuat kanal dari daerah Pejambon persisnya di sebelah selatan Masjid Istiqal sekarang,” papar Abdul Chaer, Tenabang Tempo Doeloe.

Dari wilayah tersebut dia menggali kanal ke arah barat, lalu menyambung dengan Kali Molenvliet. Kanal yang baru dibuat tersebut kini berada di antara Jalan Juanda dan Jalan Veteran. Guna menjamin ketersediaan air di Kali Molenvliet dan kanal tersebut, maka dibuatlah sebuah pintu air.

Sampai era 1950-an Kali Ciliwung yang menjadi Kali Molenvliet maupun yang mengalir di Gunung Sahari masih dimanfaatkan penduduk untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Bahkan ada beberapa usaha binatu yang mencuci pakaiannya di Kali Gunung Sahari.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya