Cerita rakyat duyung, mamalia laut yang dihormati masyarakat Buton

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
ikan dugong (blajar)

Desa Madongka, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara memiliki tempat wisata nan indah bernama Pantau Katambe. Hamparan pasar nan putih dengan bentangan samudera biri akan selalu diingat bagi mereka yang pernah berkunjung ke tempat ini.

Tetapi keindahan Pulau Katambe juga ditambah dengan keberadaan iring-iringan duyung atau dugong yang melintas setiap tahun. Nelayan terkadang secara kebetulan menyaksikan para duyung ini tersangkut di dalam pukat ikat.

Keberadaan mamalia laut satu ini ternyata tidak hanya dianggap sebagai hewan belaka. Masyarakat Buton sangat menghormati keberadaan duyung karena terikat dengan sebuah legenda yang dikenal oleh hampir setiap warga di sana.

Lalu bagaimana keberadaan duyung atau dugong ini bagi masyarakat Buton? Dan apa dampak dari kepercayaan ini kepada populasi mamalia laut ini di sekitar wilayah Buton, berikut uraiannya:

1. Duyung dan kepercayaan masyarakat Buton

Ikan dugong (Two Fish Driver)

Koordinator Marine Species Conservation WWF, Dwi Suprapti menyebut di Pulau Buton perlakukan masyarakat kepada dugong alias duyung sangat baik. Dugong di sini sangat dihormati. Hal ini terkait kepercayaan bahwa mamalia laut ini merupakan jelmaan seorang ibu.

  Keagungan Gunung Gede Pangrango, tempat sakral bagi masyarakat Sunda

Dinukil dari Tempo, Dwi menjelaskan kepercayaan ini berasal dari cerita rakyat Tula-tulana Wa Ndiu-ndiu. Dikisahkan ada seorang ibu dengan dua anaknya yang hidup miskin. Sang ibu selalu berusaha membahagiakan anak-anaknya.

Sampai suatu hari, dua anaknya merengek minta makan ikan. Seketika itu ibunya pergi ke laut untuk mendapatkan keinginan anaknya tersebut. Dua anaknya terus menunggu ibunya kembali membawa ikan. Nahas, sang ibu tak pernah kembali ke rumahnya. 

Kedua anaknya lalu percaya bahwa sang ibu telah menjelma menjadi duyung di laut. Kepercayaan ini membuat masyarakat Buton, memanggil nama perempuan dengan awalan “wa”. Sedangkan ikan duyung alias dugong, disebut “dlu”, jadilah cerita rakyat itu berjudul Wa Ndiu-ndiu.

2. Legenda untuk kearifan lokal

Dugong (AJNN)

Pulau Buton memang menjadi tempat yang paling sering disinggahi para duyung. Para peneliti pernah memperlihatkan data bahwa mamalia ini akan melintasi Desa Lasalimu di Buton setiap bulan Februari dan Juli setiap tahunnya.

Pada saat-saat itu, para nelayan kerap menyaksikan duyung yang secara bergerombol melintasi kawasan tersebut. Tetapi mamalia ini memang termasuk jenis langka yang sukar ditemukan. Hanya beberapa kali mamalia ini terperangkap pada jaring seorang nelayan.

  Pokja RAN, dan harapan besar untuk konservasi mamalia laut di Indonesia

“Saat itu, sang nelayan lalu menampung air matanya dan ditampung di sebuah botol, dan setelah itu dilepaskan ke laut lepas,” tulis Yusran Darmawan dalam artikelnya berjudul Duyung Seksi di Pulau Buton yang disadur dari Timur Angin.

Masyarakat Buton tak berhasrat untuk memakan daging duyung. Mereka masih menjunjung tinggi kepercayaan bahwa duyung dan manusia bersaudara. Karena itu, nyaris tidak pernah mereka memakan daging duyung sebagaimana halnya fauna laut lainnya. 

Menurut Yusran, Legenda ini juga diketahui oleh generasi muda di banyak pesisir lautan. Masyarakat juga menganggap duyung memiliki kekuatan mistik.

La Dambo seorang nelayan menuturkan bahwa siapapun yang bertatapan dengan hewan ini diyakini akan mendapatkan rezeki besar di masa depan. Dia juga mengatakan bahwa air mata duyung bisa menjadi obat. Beberapa nelayan menyimpannya sebagai jimat.

Ternyata kepercayaan tentang aspek mistik, serta manfaat lain dari duyung membuat orang memburu binatang ini. Banyak yang mengincar air mata, daging, serta minyaknya untuk diolah menjadi kosmetik atau alat kecantikan. Karena ini populasi duyung semakin lama terus berkurang.

  Kasoami, penganan singkong legendaris dari Pulau Buton

3. Habitat yang terus menurun

Dugong (seacrest)

Dugong atau duyung (Dugong dugon) merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia. Kata dugong berasal dari bahasa Tagalog yang artinya nona laut atau lady of the sea. Satwa laut ini dapat ditemukan di sepanjang perairan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Menurut data yang dilansir dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), habitat dugong meliputi daerah pesisir, perairan hangat dengan kedalaman dangkal hingga sedang. Tetapi seiring waktu keberadaan dugong terancam langka.

Menurut Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI), walaupun mamalia laut ini sudah ditetapkan sebagai biota yang dilindungi di Indonesia, namun populasinya secara nasional mengalami penurunan. Perburuan dan perdagangan secara massif karena faktor nilai ekonomi yang tinggi.

Maraknya perburuan ini karena pemanfaatan langsung bagian tubuh satwa laut ini, seperti digunakan untuk bahan makanan, obat tradisional, afrodisiak, ukiran, produk kulit bahan masak, dan pelumas. Apalagi adanya kepercayaan tentang air mata dugong yang dianggap memiliki kekuatan mistik.

Foto:

  • Wikimedia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya