Daluang, kertas tradisional media tulis naskah kuno khas Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
daluang
Lukisan pada kertas daluang (Nia Janiar/flickr)

Sudah jadi pengetahuan umum jika selama ini kertas yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari berbahan dasar serat tanaman/pohon. Tapi di balik keberadaan kertas modern yang banyak digunakan, terdapat kertas tradisional Indonesia yang memiliki nilai budaya, yakni Daluang.

Kertas satu ini terbilang menarik, karena sempat dinyatakan punah lantaran nyaris tidak pernah ditemukan lagi pembuatan dan penggunaannya.

Padahal saking penting dan bernilai, Daluang sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Pencatatan Daluang sebagai WBTBI di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan disahkan pada tanggal 8 Oktober 2014, dengan SK Mendikbud Nomor 270/P/2014.

Apa keunikan daluang dan mengapa jenis kertas ini begitu istimewa?

1. Asal muasal daluang

Kertas daluang (via Kemdikbud)

Dahulu, daluang menjadi kebutuhan sandang serta media alat tulis masyarakat di Indonesia. Karena selain sebagai media tulis, alat ini juga digunakan untuk berbagai keperluan seperti bahan pakaian, pelapis, serta bahan tas.

Dasar dari daluang sendiri berasal dari sebuah tanaman/pohon yang memiliki banyak nama. Namun jika menilik nama latinnya, pohon yang dimaksud adalah Broussonetia papyrifera.

Di Indonesia khususnya wilayah Sunda, tanaman tersebut dikenal dengan nama pohon saeh, namun secara global tanaman ini dikenal dengan nama mulberry. Nama itu yang membuat daluang terkadang dikenal juga dengan sebutan paper mulberry.

  Menguak kisah kawanan binatang yang berada di bahtera Nabi Nuh

Sementara itu di bagian Indonesia lain, tanaman ini dikenal juga dengan nama sepukau, dlubang di Madura, kembala di Sumba, dan malak di wilayah Pulau Seram.

2. Cara pembuatan daluang

Batang Pohon Saeh sebagai bahan baku pembuatan Daluang (Darus Hadi/Kemdikbud.go.id)

Salah satu wilayah yang masih melestarikan kertas tradisional daluang adalah masyarakat di Kampung Adat Pulo Situ Cangkuang, Garut, Jawa Barat.

Dijelaskan jika pohon saeh yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan daluang adalah pohon yang berumur 1 sampai dengan 2 tahun. Jika pohon terlalu tua, maka akan lebih sulit dijadikan kertas karena teksturnya lebih keras.

Mengutip penjelasan di laman Kemdikbud, proses pembuatan daluang melalui proses yang panjang. Jika dijabarkan, setidaknya secara garis besar ada tujuh langkah pembuatan yang terdiri dari;

  1. Pohon saeh dipotong menggunakan alat gergaji atau golok,
  2. Batang dipotong sesuai dengan ukuran kertas yang diperlukan,
  3. Kayu dikuliti dari ujung sampai pangkal dan membuang kulit arinya,
  4. Kulit kayu yang sudah bersih direndam selama satu sampai tiga malam agar menjadi lunak,
  5. Kulit kayu ditumbuk menggunakan pameupeuh (alat penumbuk tradisional) di atas bantalan kayu hingga menjadi lebar dan membentuk lembaran kertas,
  6. Setelahnya, bahan kertas yang sudah rapih diperam dengan cara ditumpuk dalam tolombong. Tolombong sendiri adalah wadah anyaman bambu yang dialasi dan ditumpuk daun pisang. Proses peram tersebut berlangsung selama satu malam,
  7. Kemudian kerta daluang dijemur di bawah sinar matahari dengan cara menempel pada pohon pisang,
  8. Terakhir, bahan kertas tersebut dipotong sesuai ukuran yang diperlukan.
  Saluran air kuno abad 18 ditemukan dalam proyek MRT Glodok-Kota

3. Media tulis zaman kerajaan

Bahan dan Alat Pembuatan Kertas Tradisional Daluang (Agung Pandu/Kemdikbud.go.id)

Kertas daluang merupakan media tulis yang sudah digunakan sejak masa lampau selama berabad-abad. Objek ini telah digunakan oleh masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa, sejak abad ke 7 yang kemudian berkembang pesat pada periode sejarah Islam.

Kertas ini juga banyak digunakan sebagai pengganti kertas lontar yang dulu digunakan sebagai media tulis. Fungsinya telah dipakai untuk menulis naskah kuno kerajaan Nusantara, menulis Al-Quran di pesantren, dan bahan baku wayang.

Di beberapa museum, bahkan ada sejumlah naskah kuno asli yang media tulisnya menggunakan daluang yag dibuat di masa lampau.

Saat ini sudah sangat jarang masyarakat yang mempraktikkan atau membuat daluang dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, disebutkan bahwa daluang yang dibuat secara tradisional dan berbahan baku dari kulit kayu pohon saeh, memiliki kualitas tinggi dan tahan lama.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya