Danau Kota Kaya dan Jejak Kejayaan Kerajaan Adonara di Pulau Flores

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pulau Adonara (Alex Journey/Flickr)

Kerajaan Adonara merupakan satu dari dua kerajaan besar di wilayah timur Pulau Flores, Adonara, Solor, Lembata hingga Alor selain Kerajaan Larantuka. Diperkirakan kerajaan ini berdiri pada tahun 1600 Masehi. Salah satu peninggalan kerajaan ini yang bisa ditemukan adalah benteng, meriam, serta puing bangunan.

Di Desa Adonara juga terdapat sebuah danau air tawar yang merupakan satu-satunya danau yang diapit perbukitan dan pantai. Ikan bandeng di danau ini melimpah dan hanya dipanen setahun sekali saat pembukaan puasa pada bulan Ramadhan.

Lalu bagaimana kisah tentang Kerajaan Adonara? Dan juga peran danau bagi jejak kerajaan ini? Berikut uraiannya:

1. Pulau Adonara

Pulau Adonara (Alex Journey/Flickr)

Pulau Adonara dan Solor merupakan dua buah pulau yang masuk kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau Adonara awalnya terdiri dari 2 kecamatan yakni Adonara Barat dan Adonara Timur. Kecamatan ini merupakan wilayah bersejarah karena sebagai pusat Kerajaan Adonara dan adanya danau Kota Kaya.

Adonara merupakan pulau yang ditumbuhi jutaan pohon kelapa yang membentang sejak pesisir pantai hingga pegunungan. Dengan bersepeda motor melewati jalan aspal mulus, namun menanjak dan meliuk-liuk ke perbukitan ke arah utara akan terhampar pepohonan kelapa.

  Mitos singa barong dan nagareja yang melindungi kawasan Pegunungan Kendeng

Dimuat di Mongabay Indonesia, bekas Kerajaan Adonara yang berdiri sekitar 1600 ini berada di pesisir utara desa Sagu. Masih tersisa susunan batu-batu ceper. Hanya tersisa dua buah bangunan rumah sederhana beratap seng dan persis disampingnya terdapat sebuah sumur tua yang masih digunakan.

“Dahulunya sumur ini merupakan tempat pemandian para raja yang disampingnya dilengkapi dengan kolam. Namun kolam tersebut hanya tersisa puing-puing saja.” kata penjaga rumah, Hamka Muhammad Sarabiti.

Selain bekas puing bangunan, terdapat sebuah masjid yang dibangun raja Arakian Kamba yang berdampingan dengan istana raja. Di sini juga terdapat kuburannya. Sisa bangunan bekas kerajaan mengalami kehancuran ketika gempa dahsyat disertai tsunami mengguncang pulau Flores 12 Desember 1992.

2. Benteng dan Meriam

Kerajaan Adonara (Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia/Flickr)

Desa Adonara merupakan awal pusat kerajaan Adonara kurun tahun 1600-1780 Masehi. Wilayah ini berada di atas bukit karang, berhadapan dengan laut utara.  Tidak jauh dari kantor desa Adonara di bagian barat jalan terdapat sebuah bangunan tua dari bebatuan yang dinamakan benteng Portugis.

  Alasan spesies istimewa ini memerlukan perlindungan

“Bangunan ini memang disebut benteng Portugis dan sepertinya dibangun oleh orang Portugis. Dahulunya benteng dibangun keliling kampung mengitari tebing yang berhadapan dengan laut,” kata Abdul Wahid, keturunan Raja Adonara, Ana Kotah.

Di dalam benteng setinggi lima meter itu terdapat sebuah lubang. Di ujung lubang ditaruh dua buah meriam yang moncongnya menghadap ke arah luar kampung. Meriam tua ini berdiameter pangkal 30 cm banyak bertebaran di perkampungan Adonara.

Meriam berbahan besi bertuliskan bahasa Portugis, sedangkan meriam berbahan kuningan bertuliskan huruf Arab. Sayangnya meriam-meriam tua banyak yang tidak terawat dan dibiarkan bertebaran di mana-mana. Bahkan benteng pun dibongkar masyarakat agar ada jalan keluar dari kampung tersebut.

“Kampung Adonara ini dulu nama sebenarnya Don Nara (Don artinya orang besar Nara artinya sekutu), kampungnya orang-orang besar yang bersekutu. Dulu di sekeliling bukit merupakan perkampungan,” terangnya.

3. Danau unik

Pulau Adonara (Alex Journey/Flickr)

Menurut Abdul Wahid di desa terdapat sebuah danau tua yang masuk wilayah kekuasaan Demon. Tahun 1926, residen Timor datang sehingga terjadi pergeseran batas kekuasaan dan masuk wilayah kekuasaan Paji. Awalnya danau ini tidak memiliki nama.

  Teh kejek: teh injak legendaris yang berasal dari Swiss van Java

Namun, sekitar tahun 1960 an mantan kepala desa Adonara, almarhum Ahmad Bapala dan Nuen Ape, ayah Abdul Wahid memberikan nama danau itu Kota Kaya. Danau ini merupakan danau air tawar meskipun berada persis di dekat bibir pantai.

Dahulu bebek australia sering mengungsi ke danau ini ketika musim dingin di Australia. Banyak juga bangau di danau yang penuh dengan ikan bandeng ini. Selain itu pepohonan bakau terlihat tumbuh subur mengelilingi danau dan pesisir pantai.

Tetapi bakau kemudian ditebang secara besar-besaran untuk budidaya bandeng. Dahulu, kedalaman danau ini 5 meter tetapi karena sedimen, mulai berkurang menjadi hanya sekitar dua meter. Karena itu saat hujan, air dan lumpur mengalir dari lerengnya memenuhi danau.

“Perlu dilakukan pengerukan dasar danau yang dipenuhi lumpur. Pemukiman di dekatnya juga membuat luas danau berkurang akibat pembangunan rumah. Perlu ada aturan desa yang mengaturnya,” harap Abdul.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya