Dewi Sri, mitologi bagi tradisi kesuburan pertanian di Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Subak (Hendri Arba/Flickr)

Sri Asih sosok yang diperankan Pevita Pearce merupakan salah satu karakter dalam Bumi Langit Cinematic Universe yang memukau penonton. Pada film Gundala, sosok ini muncul untuk membalik minibus yang sedang melaju kencang dengan selendangnya.

Sosok Sri Asih merupakan nama lain dari Dewi Sri yang dalam sejarah disebut sebagai dewi kesuburan dan dewi pertanian yang cukup dipercaya pada budaya masyarakat Bali dan Jawa. Cerita Dewi Sri atau Nyai Pohaci Sang Hyang Sri di Sunda cukup populer.

Lalu bagaimana kisah Dewi Sri ini? Dan apa perannya bagi pertanian masyarakat agraris? Berikut uriannya:

1. Mitos Dewi Sri

Dewi Sri (Commons Wikimedia)

Mitos Dewi Sri bermula dari kisah Batara Guru yang merupakan penguasa langit memerintahkan dewa dan dewi bekerja membangun istana. Siapa yang menolak perintah tersebut akan dipotong lehernya. Mendengar perintah ini, Dewi Antaboga khawatir karena tidak memiliki tangan dan kaki.

Dari situ, Dewi Antaboga meminta saran dari Dewi Narada, tapi Narada tidak bisa membantunya. Lalu, dirinya pun menangis tapi dari tangisannya yang jatuh ke tanah keluar tiga buah permata yang sebenarnya sebuah telur.

  Danau Kota Kaya dan Jejak Kejayaan Kerajaan Adonara di Pulau Flores

Singkat cerita sebagai penebusan dosa, Antaboga pun membawa telur-telur itu kepada Batara Guru. Namun di tengah jalan, Antaboga diserang oleh seekor gagak yang dianggapnya tidak menghormainya. Dua telur yang ada di mulut Antaboga jatuh dan pecah.

Satu telur yang tersisa kemudian setelah besar diberi nama Dewi Sri. Dirinya pun tumbuh semakin cantik, memiliki tutur kata yang halus dan menarik siapapun yang melihatnya. Bahkan Batara Guru pun terpesonanya dengan anak angkatnya.

Para dewa khayangan juga coba memisahkan keduanya. Agar keselaran langit tetap terjaga, mereka pun meracun Dewi Sri hingga tewas. Karena takut disalahkan atas kematian anak kesayangan Batara Guru para dewa pun membawa jasad Dewi Sri ke bumi.

Karena kesucian Dewi Sri dari kuburnya bertumbuh segala tumbuhan yang bermanfaat. Setelah itu masyarakat pun mulai memuja Dewi Sri. Karena dari pengorbanannya memunculkan manfaat untuk umat manusia di Bumi.

2. Sejarah dan kebudayaan pertanian

Sawah (Arya Suryadi/Flickr)
Sawah (Arya Suryadi/Flickr)

Indonesia memang sudah dikenal sebagai negara agraris. Iklim yang teratur, curah hujan dan tanah yang subur merupakan faktor-faktor pendukung yang penting. Karena itu sejak zaman dahulu, bercocok tanam merupakan pekerjaan utama bangsa ini.

  Alap-alap kawah, burung sahabat petani dengan kemampuan terbang setara mobil F1

Tercatat dalam sejarah, padi sudah ditanam di tanah air sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Bukti penanaman padi ini ada di Pulau Sulawesi. Hal ini tertuang dalam buku Indonesia People and History karangan Jean Gelman Taylor.

Bukan hanya padi, masyarakat Nusantara juga menanam kelapa, aren, umbi-umbian, dan buah-buahan tropis. Bahkan pada Candi Prambanan dan Borobudur terdapat relief seorang raja meletakan retribusi pada beras.

Beberapa relief juga menggambarkan hasil produk pertanian seperti pisang, durian manggis dan apel Jawa. Raja-raja Jawa memang sudah memfokuskan pertanian menjadi modal kekuatan mereka. Raja Empu Sendok (Mataram Kuno) telah memerintahkan untuk membuat bendungan.

Sementara pada masa Airlangga, pertanian berkembang pesat karena telah membendung sungai Brantas. Pada zaman Majapahit, pertanian malah berkembang pesat karena pertahian kerajaan. Saat itu raja memberikan perlindungan tanah agar para petani bisa tenang dan mudah bercocok tanam.

3. Tradisi bagi Dewi Sri

Persawahan Desa Detusoko Barat, Kabupaten Ende, Flores, NTT yang menerapkan teknologi lampu perangkap hama. (Nando Watu/Pemdes Detusoko Barat)

Muncul banyak tradisi dan kebudayaan untuk menghormati pertanian. Pada masyarakat Bali, saat upacara Galungan dan Kuningan, penghormatan terhadap pertanian direfleksikan dalam berbagai ragam hias.

  Jejak Taman Sriwedari, tempat hiburan rakyat Solo yang tinggal kenangan

Pada hiasan janur melekung diselipkan hiasan yang mencerminkan hasil pertanian, seperti padi. Pada masyarakat Sunda Kasepuhan di Cirebon, terdapat tradisi pupuhunan, yaitu gubuk kecil yang berhias sebagai masa awal panen, menjelang panen mereka mengadakan “mpit” atau “nyalin”.

Lalu keesokan harinya, mereka berdoa di pupuhunan. Kemudian mereka mengikat lima tangkai padi menjadi induk padi atau indung pare. Sebagai persembahan kepada Dewi Sri. Beberapa tradisi serupa juga banyak dilakukan pada masyarakat Indonesia.

Hal ini semata-mata sebagai penghormatan kepada Dewi Sri yang merupakan personifikasi dari perempuan. Karena perannya dalam memberikan kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteran kepada masyarakat petani.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya