Gara-gara krisis air bersih, Batavia diserang wabah kolera pada abad 19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sungai Ciliwung (Tjetjep Rustandi/Flickr)
Sungai Ciliwung (Tjetjep Rustandi/Flickr)

Pada abad ke 19, Jakarta ketika masih bernama Batavia pernah menghadapi pembunuh bernama bakteri kolera (cholera asiatica). Orang awam lebih mengenalnya dengan sebutan muntaber (muntah berak). Penderita kolera dapat mengalami kematian dalam beberapa jam apabila tak mendapat penanganan secara serius.

Kolera ketika itu mewabah karena lingkungan kota yang kotor dan sanitasi yang buruk. Apalagi pada awal abad ke 19, rumah di Batavia tak memiliki kakus atau kamar mandi. Ditambah kualitas air tanah dan kanal di Batavia juga sudah menurun sejak seabad sebelumnya.

Lalu mengapa penyakit ini begitu mengerikan pada masa itu? Apa juga pengaruh lingkungan akan hadirnya beragam penyakit di Batavia? Berikut urainnya:

1. Pembunuh nomor satu di Batavia

Pemukiman di pinggir kali Ciliwung (Ali Zaenal/Flickr)
Pemukiman di pinggir kali Ciliwung (Ali Zaenal/Flickr)

Penyakit kolera mulai dikenal pada 1821. Penyakit ini menyerang usus besar dan ditandai dengan gejala muntah-muntah dan buang air besar yang hebat.

Kolera menyebabkan kepanikan luar biasa di kalangan orang Eropa. Pasalnya, wabah kolera menyebar lebih cepat dibandingkan penyakit epidemi lainnya, semisal malaria, tipus, atau disentri.

“Ada hari-hari ketika Batavia terdapat 160 orang mati (akibat kolera). Mereka mengalami kejang-kejang hebat, dan meninggal dunia beberapa saat kemudian,” catat pegawai kolonial urusan pribumi, Roorda van Eysinga dalam Verschillende Reizen en Lotgevallen yang dimuat Historia.

Pada 1864, tercatat penyakit ini merenggut nyawa sebanyak 240 orang Eropa. Jumlah ini menjadi dua kali lipat pada kalangan pribumi. Persebaran bakteri kolera biasanya menular lewat air minum, makanan, dan kontak langsung.

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 2)

Pemerintah kolonial menyatakan wabah ini rentan menjangkit saat terjadi musim kemarau. Jumlah penderita kolera bisa turun saat memasuki musim penghujan. Namun kolera akan muncul lagi bila musim kemarau tiba, karena air sungai mendangkal.

Sedangkan penyakit ini memberi dampak sosial cukup memprihatinkan bagi masyarakat di Batavia. Sangat sulit untuk merawat pasien dari kelas sosial rendah, karena biasanya mereka tinggal di ruangan kecil berdinding bata. Ruangan-ruangan ini perlu ditutup agar mencegah aliran udara.

 2. Buruknya kondisi Ciliwung

Sungai Ciliwung (Ali Zaenal/Flickr)
Sungai Ciliwung (Ali Zaenal/Flickr)

Penduduk di sekitar Ciliwung memang sangat rawan terhadap penyakit. Hal ini karena melihat pemanfaatan air kali yang sudah tercemar dan kotor untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk memasak dan minum. Apalagi banyak masyarakat yang tidak memasak air kali tersebut sebelum diminum.

Sampai abad ke 19, orang-orang Belanda di Batavia masih menggunakan air Ciliwung untuk minum. Air ini akan ditampung terlebih dahulu di suatu tempat penampungan. Selanjutnya air tersebut diangkut dengan perahu untuk dijual di dalam kota,

  Jejak Mbah Loreng, dan bentuk penghormatan orang Jawa pada harimau

“Tidak mengherankan bila seringkali timbul masalah kesehatan di Batavia, akibat meminum air kali yang tidak dimasak. Bahkan sejak 1689 terdapat catatan bahwa air dari tempat penampungan Pancoran sangat keruh. di musim hujan bahkan berlumpur,” tulis Karina Arifin dalam Ciliwung Dalam Lansekap Batavia: Kesehatan di Batavia.

Rendahnya kesadaran mengonsumsi air bersih menyebabkan masalah kesehatan terus berlanjut di Batavia, bahkan sampai abad ke 20. Wabah kolera yang terkenal sudah menyerang penduduk Batavia sejak beberapa ratus tahun masih menjangkiti dengan lebih ganas pada awal abad ke 20.

Bahkan begitu banyaknya orang yang meninggal, sampai-sampai banyak mayat yang tidak sampai dikubur dan diletakan begitu saja di dalam peti matinya di pinggir jalan.

Baru pada 1913 dan 1914, usaha mengatasi penyebaran penyakit ini dilakukan dengan pemeriksaan bibit penyakit kolera pada air Sungai Ciliwung.

3. Memberantas kolera

Sungai Ciliwung (Mohamad Azis Alkatiri/Flickr)
Sungai Ciliwung (Mohamad Azis Alkatiri/Flickr)

Penanganan dan pengendalian kolera baru menemukan angin segar setelah seorang ahli bakteriologi, Robert Koch (1843-1910), pada tahun 1884 berhasil mengidentifikasi bakteri penyebab kolera yang dinamai Vibrio Cholera. Bakteri ini masuk ke tubuh melalui air minum yang telah terkontaminasi karena sanitasi buruk.

Walau kabar penemuan ini sudah mencapai tenaga medis di Hindia Belanda, namun butuh satu dasawarsa untuk perubahan serius dalam pengendalian kolera. Baru pada 1910 an, tenaga media bisa mengendalikan kolera. Kepatuhan warga menjaga kebersihan dan pemasangan pipa air memperkecil jangkauan penyebaran bakteri.

  Danau Kota Kaya dan Jejak Kejayaan Kerajaan Adonara di Pulau Flores

Namun ada tiga faktor utama yang menjadikan pengendalian kolera di Hindia Belanda berhasil. Pertama keberhasilan kerjasama antara Jawatan Kesehatan setempat, Laboratorium Medis, dan pemerintah lokal. Kedua kehadiran jawatan intelijen. Lalu ketiga adalah vaksinasi.

“Terlepas dari keberhasilan eksperimen itu di negara-negara lain jauh sebelum 1900, baru pada 1910 eksperimen pertama dengan vaksin dilakukan di Hindia,” tulis Rifai Shodiq Fathoni dalam artikel berjudul Wabah Kolera di Batavia Abad XIX-XX yang disadur dari Wawasan Sejarah.

Baru pada 1917, Van Romer menyebut bahwa pada periode 1913-1916 terjadi penurunan tajam dalam jumlah kasus kolera. Jumlah kasus di kalangan orang Eropa sudah memperlihatkan kecenderungan menurun selama beberapa tahun setelah vaksin diperkenalkan.

“Kecenderungan yang sama juga diikuti kalangan penduduk bumiputera dan China di Batavia,” pungkasnya. 

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Komunitas Bahadur (@komunitas_bahadur)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya