Jejak Mbah Loreng, dan bentuk penghormatan orang Jawa pada harimau

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Panthera tigris sondaica (wikipedia)
Panthera tigris sondaica (wikipedia)

Harimau pernah dianggap tidak semata-mata sebagai sebuah ancaman. Bahkan keberadaannya dinilai berperan dalam menjaga ketentraman desa. Mereka dipercaya berdialog lewat isyarat yang hanya dimengerti oleh orang tertentu. 

Mbahu Reksa dipercaya sebagai pemimpin gaib para harimau yang ada di hutan belantara. Si mbah inilah yang kemudian melindungi serta memimpin kawanannya di alam liar. 

Manakala warga desa hendak membuka hutan (mbabat alas), maka sesepuh harus terlebih dahulu membakar kemenyan dan membaca mantra. 

Dipercaya si mbah pimpinan harimau akan muncul untuk berdialog dengan warga, kemudian penguasa hutan ini akan memberikan izin untuk membuka lahan permukiman. 

Walau secara traditional, harimau cenderung menghindari manusia. Kepercayaan akan adanya hubungan antara manusia Jawa dengan harimau memang telah mengakar cukup kuat, berikut catatannya:

1. Harimau adalah jelmaan roh leluhur

Harimau (Commones Wikimedia)

Robert Wessing dalam A Tiger in The Heart: The Javanese Rampok Macan,”Journal KITLV 148 (1992) No. 2 menyebut pada awal abad 19, masih banyak harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang berkeliaran. 

Terkadang tempat tinggal harimau, tumpang tindih dengan tempat hidup manusia. Selain itu masyarakat juga percaya harimau merupakaan jelmaan roh leluhur yang menjaga dan memantau penduduk desa. 

Hal ini memang beda dengan tradisi orang keraton (orang kota Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta) yang memandang harimau sebagai simbol sifat liar, tak bisa diatur, dan bertentangan dengan budaya adiluhung.

  Peristiwa pawang tewas diterkam harimau, mengapa bisa terjadi?

Terlepas dari perbedaan ini, secara umum masyarakat Jawa sangat menghormati harimau. Hal ini terlihat dari panggilan takzim mereka kepada, seperti yakni ‘mbah’, ‘nenek’, ‘kiai’, ‘kiaine’ atau ‘abah gede’.

“Gajah kita panggil simbah gede, harimau kita panggil simbah loreng, atau simbah karet: yang mencakar sambil menyeret,” ujar Ismanu, yang mengaku pernah membuka hutan sekitar Talang Tengah, Ngaras, dikutip dari National Geographic. 

2. Pantangan menyebut harimau

Lampion Shio Harimau di Kelenteng Guan Gong-Bagansiapiapi (wikipedia)

Masyarakat di bentang Bukit Barisan Selatan menyebut kata harimau seperti mencari perkara. Jarang sekali mereka menyebut Harimau, karena hewan ini dianggap punya telinga bumi.

Bila menyebut kata harimau, suaranya akan merambat ke tanah, lalu akan terdengar oleh seekor harimau sehingga akan mengundang hewan ini. Harimau memang dipercaya punya kesaktian supernatural, lengkap dengan mitos dan legendanya.

Harimau dan hutan dipandang memiliki satu kesatuan. Ketika ada seseorang yang mencari kayu, orang akan dihalangi dari harimau. Sedangkan bila ada orang yang ingin berburu harimau, hutan itu akan menyembunyikannya. 

Bahkan orang itu dipercaya akan dibuat tersesat oleh hutan yang angker. Banyak juga yang mempercayai harimau ada penjaga hutan yang akan dirusak oleh manusia. 

“Maka jika etika itu dilanggar, biasanya diperingati oleh auman harimau, bahkan bisa didatangi,” ucap Hudan Zulkarnaen, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ujung Kulon, dikutip dari Liputan6.com.

Ada juga kepercayaan bahwa harimau masih satu keturunan dengan manusia. Karena itu ketika masuk ke hutan, orang harus mengucapkan kata permisi kepada harimau, “mbah, mohon jangan sakiti saya. Saya putra Adam. Silakan lewat dan jangan ganggu saya.” biasanya ucapan izin ini diikuti salawat.

  Burung hud hud, pembawa informasi Nabi Sulaiman yang jadi simbol negara Israel

Harimau Jawa juga dikenal bijak pada masanya. Hewan ini tidak mau mengganggu manusia dan tidak akan memangsa ternak. Mereka akan tetap tinggal di hutan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh kawanannya. 

“Ada yang bilang, kalau bertemu manusia, ia tidak akan mendapatkan makanan selama 40 hari. Jadi, sifat binatang itu sebenarnya menghindari manusia. Kalau bertemu manusia, dia terpergok betul,” ucap Ismanu.

3. Perubahan tradisi yang membawa malapetaka

Harimau Sumatera ( Panthera tigris sondaica )

Terjadinya pergeseran kebudayaan secara tidak langsung menjadi menimbulkan fenomena kepunahan harimau. Masyarakat pedesaan Indonesia pada mulanya melihat pemamfaatan dan pengelolaan sumberdaya hayati dan lingungan dipengaruhi akan kepercayaan dan pantangan.

“Sekarang kepercayaan penduduk terhadap macan telah berubah. Banyak tidak percaya lagi pada mitos. Itu suatu kerugian bagi konservasi,” kata Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjajaran Bandung, Johan Iskandaryang dilansir dari Mongabay.

Johan menilai kearifan lokal merupakan bentuk konservasi alami dari harimau selama ratusan tahun. Apalagi sebagian masyarakat memandang harimau sebagai sosok yang ditakuti sekaligus dihormati.

Baik harimau di Sumatera, Jawa, dan Bali kerap diasosiasikan dengan leluhur. Pendeknya, macan loreng adalah satwa keramat yang dituakan.

“Dulu (harimau) di Sunda disebut menak, Jawa simbah, dan Sumatera datuk. Mereka memperlakukan dengan terhormat,” ujarnya.

  Kisah pawang hujan, 'pengendali' alam yang setia menjaga tradisi

Tetapi perubahan ekologis berdampak kepada munculnya konflik antara manusia dan harimau. Ketika itu hutan-hutan sudah mulai dibabat demi memperluas permukiman dan kepentingan manusia. 

Pada 1822, pemerintah kolonial mulai memperkerjakan pemburu harimau. Sementara itu, pertengahan abad ke-19, Pembukaan hutan membawa perubahan besar-besaran, senapan digunakan, dan membunuh harimau jadi lebih efisien. 

“Maka hasilnya, jumlah harimau anjlok drastis,” kata Wessing.

Pada tahun 1855 dalam catatan Peter Boomgraad, sebanyak 147 orang di Priangan tewas dimangsa harimau. Sedangkan jumlah harimau yang dibunuh sebanyak 1.100 ekor per tahun di pulau Jawa.

Saat itu praktek berburu memang begitu menjanjikan karena pemerintah kolonial Belanda membagikan gulden kepada mereka yang bisa membunuh harimau. Uang ganjaranya senilai 25-50 gulden. Bagi orang Jawa, hadiah sebesar itu cukup untuk bekal makan setahun penuh.

Boomgraad juga menulis bahwa orang Jawa lebih sering membunuh harimau ketimbang orang Sumatra. Mungkin juga karena hutan Sumatra lebih rimbun, sementara di Jawa hutan dibuka selama masa kerja rodi dan politik etis.

“Ketika itu (pandangan alam tradisional) mati, maka harimau juga mati, karena pertahanan harimau oleh adat adalah bagian dari adat, sebagaimana harimau itu sendiri,” kata Wessing dalam The Last Tiger in East Java: Symbolic Continuity in Ecological Change.

Foto:

  • Commones Wikimedia
  • wikipedia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya