Jejak peradaban Citarum, sungai terpanjang di tanah Pasundan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Situ Cisanti (Citarumharum)

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang mengalir sepanjang 297 kilometer. Sungai Citarum mengalir ke arah utara melalui Cekungan Bandung dan bermuara di Laut Jawa. Hulu Citarum berawal dari lereng Gunung Wayang di tenggara Kota Bandung.

Sungai ini menjadi air minum untuk masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwarkarta, dan Bandung. Namun kini Sungai Citarum telah tercemar. Sungai dengan nilai sejarah, ekonomi, dan sosial ini pernah menjadi salah satu dari sungai dengan tingkat ketercemaran teringgi di dunia.

Beberapa program telah diupayakan untuk mengurangi tingkat kecemaran ini. Dinukil dari Open Data Jabar, pada tahun 2019 indeks kualitas air Sungai Citarum sebesar 33,43 poin dengan status Cemar Sedang menjadi sebesar 55 poin dengan status Cemar Ringan pada tahun 2020.

Peningkatan kualitas air tersebut tidak lepas dari adanya program Citarum Harum, sebuah program yang telah diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2018.

Melihat pentingnya peran Sungai Citarum tentunya perlu bagi kita mengatahui sejarahnya. Juga apa saja peradaban yang pernah mengelilinginya, berikut uraiannya:

  Babiat Sitelpang, legenda harimau yang dipanggil Ompung oleh Orang Batak

1. Sejarah Sungai Citarum

Sungai Citarum (Tirto)

Istilah Citarum berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Tarum. Dalam bahasa Sunda, Ci dipahami dengan Cai yang berarti air. Sementara istilah Tarum berasal dari nama kerajaan Hindu tertua dan terbesar di Jabar yaitu Tarumanegara.

Pada abad ke 5, Jayashingawarman membangun sebuah dusun kecil di tepi sungai Citarum. Berjalannya waktu, dusun kecil ini berkembang menjadi Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Purnawarman yang berkuasa antara 395-434 masehi.

Sungai Citarum memilki tujuh mata air di kawasan Situ Cisanti, yaitu Pangsiraman, Cikahuripan, Cikawedukan, Koleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cisanti. Mata air Pangsiraman merupakan mata air paling besar. Masyarakat setempat sering mengunjunginya untuk melakukan ritual mandi dan memohon doa.

2. Berperan bagi ekonomi masyarakat

Sungai Citarum (Pingpoint)

Sungai Citarum sejak dahulu telah memegang peranan penting, terutama bagi kehidupan manusia. Tingginya nilai ekonomi tanaman di sepanjang sungai ini, membuat banyak warga menjadikannya sebagai ladang perdagangan ekspor ke Tarumanegara,

Hal ini karena tarum atau nila adalah bahan perwarna biru yang biasa digunakan untuk mewarnai jubah kebesaran para bangsawan, salah satunya kaisar Tiongkok. Bukan hanya menghasilkan warna biru, beberapa warna seperti kuning dan merah juga bisa dihasilkannya.

  Catatan Marco Polo soal badak yang disebutnya unicorn

Pada zaman dahulu, biru, merah, dan kuning merupakan warna yang paling disukai. Ketiganya menjadi warna yang istimewa. Biru melambangkan langit sekaligus menjadi warna yang paling sakral sehingga dipakai untuk ritual keagamaan.

Warna merah merupakan lambang besi atau kekuatan. Warna ini biasanya digunakan ketika melakukan peperangan. Sementara warna kuning adalah lambang dari tanah yang mewakili kebijakan. Bahkan orang-orang Belanda menilai kualitas bahan pewarna tarum mengungguli kualitas bahan pewarna sejenis dari Italia.

3. Memiliki peninggalan sejarah

Prasasti Batu Tulis (Wikipedia)

Sungai Citarum menjadi batas dari dua kerajaan, yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Kerajaan Sunda merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara. Sementara Kerajaan Galuh merupakan penerus dari Kerjaan Kendan, bawahan Tarumanegara.

Pada abad ke 15, Sungai Citarum juga menjadi batas administrasi antara Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten. Di sini juga terdapat situ batu tulis sebagai peninggalan Kabupaten Bogor. Banyaknya peninggalan sejarah di Sungai Citarum menandakan bahwa kerajaan-kerajaan itu memiliki pengaruh cukup luas.

Daerah di sekitar Sungai Citarum, seperti Kampung Dangdeur, Bale Kambang, Kabupaten Majalaya banyak ditemukan masyarakat yang bekerja sebagai pengumpul, pemecah batu sungai, dan penambang pasir dari Sungai Citarum.

  Mengapa bangsa Indonesia tidak mengenal adanya zaman tembaga?

Biasanya para pemecah batu mampu mengumpulkan hingga 20 ember batu per hari. Satu ember batu pecah akan dihargai sebesar Rp500 perak. Maka, dalam seminggu mereka akan mendapatkan upah sebanyak Rp100 ribu. Kendati demikian, kedatangan truk pengambil batu ke desa waktunya sulit ditentukan.

Sementara itu lingkungan sekitar Sungai Citarum telah banyak berubah sejak paruh kedua dasawarsa 1980 an. Industrialisasi yang pesat sejak akhir 1980 an di kawasan sekitar sungai telah menyebabkan menumpuknya limbah buangan pabrik-pabrik di Sungai Citarum.

Para pemerhati lingkungan telah mengamati bahwa lebih dari 20.000 ton limbah dan 340.000 ton air limbah dari pabrik dibuah ke sungai setiap hari. Karena itu sejak 2011, pemerintah Indonesia memulai proyek revitalisasi sungai yang bertujuan mengembalikan seluruh sungai menjadi air minum bersih. 

Foto:

  • Citarum Harum
  • Tirto
  • Pingpoint
  • Wikipedia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya