Jejak Singkil (Bagian 1): Sungai pusat perdagangan Aceh yang terlupakan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sungai Singkil (kosewahr/Flickr)

Pada sejarahnya berabad silam sampai zaman kolonial, Sungai Singkil pernah memainkan peran yang sangat besar untuk perdagangan komoditas. Hampir semua hasil bumi diangkut melalui sungai ini.

Hingga saat ini sebagian besar masyarakat di kawasan pesisir Kecamatan Singkil masih bertahan menggantungkan nafkahnya di Sungai Singkil. Namun sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, nelayan sungai mengaku kesulitan mencari nafkah.

Lalu bagaimana sejarah Sungai Singkil? Dan peradaban sungai ini yang begitu jaya pada masa lampau? Berikut uraiannya:

1. Sungai dan peradaban

Sungai Singkil (Abdul_Haris/Instagram)

Sungai Singkil merupakan sungai terpanjang di Aceh dan salah satu yang terpenting di gugusan Pegunungan Pakpak. Sungai ini mempertemukan aliran Sungai Alas di Aceh Tenggara dan Sungai Simpang Kanan di Dairi, Sumatra Utara.

Masyarakat sekitar sungai juga sering menyebut sungai ini dengan nama Batang Air Besar. Sungai dengan lebar sekitar 60 meter ini dapat dilayari jauh ke arah hulu. Sungai ini memiliki dua muara yang dikenal dengan nama Kuala Aceh dan Kuala Baru.

Pada sejarahnya berabad silam sampai zaman kolonial, Sungai Singkil pernah memainkan peran yang sangat besar untuk perdagangan komoditas. Hampir semua hasil bumi diangkut melalui sungai ini.

  Farwiza Farhan, dipuji Bill Gates dan masuk daftar TIME100 Next 2022

“Termasuk komoditas unggulan saat itu: lada, benzoin (kemenyan), dan kapur barus. Kegiatan perdagangan dikonsentrasikan di sebuah pasar,” papar Gatot Widakdo dalam Nenek Limbong dan Sungai Singkil yang diterbitkan Litbang Kompas.

Pasar Kota Singkil terletak sekitar setengah jam dari muara sungai. Pasar ini sangat sederhana. Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu dan bambu beratap daun ilalang dan terletak di pinggir sungai.

Di pasar ini juga bermukim beberapa penduduk yang terdiri dari suku bangsa Melayu, China, dan India. Para saudagar yang datang ke pasar ini berasal dari pedalaman dan kota-kota pantai lain di pesisir barat, bahkan dari luar negeri.

2. Pelabuhan besar

Sungai Singkil (Ahmad_Haris/Instagram)

Gatot menyebut agar bisa mengurus perdagangan, diangkatlah seorang syahbandar. Setiap saudagar yang datang, terutama saudagar yang datang, terutama saudagar dari kota pantai lain, diharuskan melapor terlebih dahulu.

“Raja Singkil juga punya kapal yang pergi berlayar dan berdagang. Mereka menerapkan perdagangan monopolitis,” jelasnya.

Ditulisnya pada kurun waktu tahun 1830, para saudagar non raja, terutama yang berasal dari suku Aceh, Batak, Minangkabau, dan China, mulai diizinkan berdagang secara bebas di kawasan ini.

  Jelajah Lembah Baliem, perkampungan Papua yang dikagumi petualang Eropa

Posisi pedagang China mulai kuat dalam kurun waktu itu sehingga banyak saudagar dari daerah lain yang berdagang dengan mereka. Posisi pedagang China ini makin kuat karena jumlahnya yang bisa mencapai 12 keluarga di Singkil pada 1842.

Catatan Moehammad Saleh dalam buku otobiografinya, Riwayat Hidoep dan Perasaian Saja, 1965, menyebutkan, sampai pertengahan abad ke 19, kota Singkil masih menjadi salah satu pusat perdagangan.

Kota Singkil tetap bertahan sampai masa kolonial Belanda. Dari pelabuhan ini diekspor lada, kemenyan, kapur barus, minyak nilam. Pelabuhan ini juga menjadi tempat persinggahan rombongan calon haji.

3. Terancam

Sungai Singkil (kosewahr/Flickr)

Hingga saat ini sebagian besar masyarakat di kawasan pesisir Kecamatan Singkil masih bertahan menggantungkan nafkahnya di Sungai Singkil. Namun sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, nelayan sungai mengaku kesulitan mencari nafkah.

Padahal sejak puluhan tahun silam, nelayan sungai khususnya melakukan aktivitas perikanan tangkap air tawar, payau, serta bidang usaha mengumpulkan dan mengolah pucuk nipah untuk bahan baku rokok linting (klobot) termasuk pencari kerang.

  Cerita rakyat duyung, mamalia laut yang dihormati masyarakat Buton

Sungai Singkil memiliki banyak sumber kekayaan karena merupakan kawasan dataran rawa dan lahan gambut. Di antaranya berbagai jenis ikan laut dan tawar, siput dan burung punai. Kemudian hasil hutan non kayu, seperti pucuk nipah yang jadi bahan rokok linting.

Sungai ini juga dikenal menjadi habitat dan populasi buaya muara. Meski hewan buas ini beberapa kali berkonflik dengan masyarakat, tetapi banyak wisatawan mancanegara yang sengaja menyewa perahu untuk melihat kemunculan hewan tersebut.

Tetapi kini, karena hama gulma jenis eceng gondok serta tanaman hutan lainnya telah menutupi alur sungai, sehingga berdampak terhadap usaha masyarakat. Banyaknya eceng gondok yang menutupi permukaan sungai menyebabkan perahu tidak lewat.

“Kondisi itu menyebabkan nelayan kesulitan melintasi alur sungai dengan perahu menuju Singkil Lama saat mencari nafkah,” kata Juli salah satu warga yang diwartakan Waspada Aceh.

Disebutkan olehnya, sejauh ini sungai yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat itu belum sekalipun tersentuh kebijakan dari pemerintah. Tentunya sangat disayangkan karena merupakan akses transportasi nelayan. 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya