Jejak Taman Sriwedari, tempat hiburan rakyat Solo yang tinggal kenangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Taman Sriwedari (Dunny Hendrawan/Flickr)

Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Solo memiliki kekayaan unsur sejarah, kebudayaan, dan kesenian. Di tempat ini berdiri dua simbol kekuasaan dan kebudayaan dalam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran.

Di samping itu, Solo juga memiliki simbol pelestarian lingkungan dan tempat hiburan masyarakat bernama Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari. Taman ini dibangun sebagai tempat di mana warga Solo seringkali menghabiskan waktunya. Walau kini namanya mulai terabaikan.

Lalu bagaimana sejarah mengenai Sriwedari? Dan apakah taman ini bisa kembali berfungsi? Berikut uraiannya:

1. Taman Sriwedari

Taman Sriwedari (Riza Widianto/Flickr)

Dikutip dari Kompas, Senin (13/6/2022) Taman Sriwedari sejak dahulu dikenal sebagai Taman Raja karena dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, yaitu Sinuhun Pakubuwono X pada 1899, sebagai tempat hiburan rakyat, abdi dalem dan semua sentana dalem keraton.

Taman Sriwedari ini dibangun karena terinspirasi dari keberadaan taman di surga. Disebutkan bahwa istilah Sriwedari sendiri berasal dari Serat Arjunasasra. Dalam serat itu disebutkan bahwa Taman Sriwedari merupakan taman buatan yang keindahannya layaknya taman di Surga.

  Kenapa Gunung Semeru disebut sebagai puncak abadi para dewa? Ini 3 alasannya

Taman ini diresmikan pada Januari 1901 dan mulai dijadikan kawasan rekreasi. Taman ini dibangun di atas lahan yang dibeli PB IX dan diberikan kepada putra mahkotanya PB X. Lokasi tanah yang kini menjadi Taman Sriwedari mulanya milik seorang Belanda, Johannes Busselar.

Pembelian ini tercatat dalam akta notaris dengan nomor 10 tanggal 13 Juli 1877 seharga 65,000 gulden. Pada periode tahun 1905 sampai 1917, Taman Sriwedari mengalami pemugaran dan pengubahan fungsi. Penambahan bangunan dilakukan pada periode tersebut.

Beberapa bangunan dibangun yang menjadi simbol modernitas pada masanya, seperti stadion sepak bola, kebun binatang, bioskop, pentas pagelaran wayang orang, dan wayang kulit. Di taman ini juga pernah diadakan Pekan Olahraga Nasional (PON) 1948 dan acara Malam Selikuran.

2. Tempat hiburan rakyat

Wayang orang (Frederic pauvreau/Flickr)

Taman Sriwedari memang telah mengesankan sejak masa lampau. Hal itu bisa disaksikan lewat sebuah buletin De Locomotief edisi 31 Mei 1935, kolom ini berjudul Solo Stadstuin: de Sriwedari Centrum van Vermak voor geheele Bevolking (1935).

  Catatan Marco Polo soal badak yang disebutnya unicorn

Pewarta itu menyebut bahwa sejak akhir Mei 1935, Taman Sriwedari sedang gencar melakukan pemasaran melalui media massa. Pemasaran itu melambungkan nama Sriwedari yang tak hanya dikunjungi oleh para wisatawan lokal, namun juga dari mancanegara.

“Taman kota Sriwedari akhir-akhir ini menjadi pusat hiburan, tidak hanya bagi orang pribumi, tetapi juga bagi orang Eropa,” catat koresponden itu yang dinukil dari National Geographic.

De Locomotief melalui redaksi beriklannya menyebut Taman Sriwedari memiliki jalan setapak yang indah, pepohonan yang rindang, dan akan mengundang para pengunjung untuk berjalan-jalan. Digambarkan bahwa anak-anak bisa memanjakan diri di sana karena banyak aneka permainan.

Kehadiran Stadion Sriwedari, bioskop dan kebun binatang juga menambah ketertarikan masyarakat untuk datang bahkan dari luar kota. Para hewan-hewan di kebun binatang memang sangat terawat dengan baik, memiliki banyak jenis, dan terus dikembangkan.

3. Tinggal Kenangan

Taman Sriwedari (Harry Purwanto/Flickr)

Selain sebagai tempat rekreasi, Taman Sriwedari juga menyimpan banyak kisah sejarah, salah satunya adalah penyelenggaraan PON pada tahun 1948. Taman ini juga menjadi tempat penyelenggaraan tradisi hiburan Malam Selikuran di Solo sejak masa PB X.

  3 negara ini punya tradisi tanam pohon untuk menyambut kelahiran bayi

Namun dengan banyaknya sejarah ini, tidak membuat Taman Sriwedari lepas dari masalah. Sengketa perebutan hak milik taman ini telah terjadi sejak 1970, antara pihak keluarga ahli waris RMT Wirjodiningrat selaku penggugat dan Pemerintah Kota Solo.

Dari gugatan itu diputuskan lahan Sriwedari seluas 9,9 hektare menjadi milik waris RMT Wirjodiningrat. Terhitung setidaknya telah 15 kali Pemkot Solo kalah dalam gugatan melawan ahli waris lahan Taman Sriwedari. Meski begitu, Wali Kota, Gibran Rakabuming Raka bertekad memperjuangkannya.

“Kita akan bekerja sekeras mungkin untuk mempertahankan Sriwedari. Ini aset terbesar kita,” ujar Gibran yang mengutip Merdeka.

Akibat konflik antara sengketa antara Pemkot Solo dengan ahli waris lahan tersebut, saat ini beberapa bangunan di Taman Sriwedari kurang terawat, salah satunya adalah Gedung Wayang Orang (GWO). Kini Taman Sriwedari pun hanya tinggal kenangan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya