Keagungan Gunung Gede Pangrango, tempat sakral bagi masyarakat Sunda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Gunung Gede Pangrango, di Provinsi Jawa Barat merupakan tempat yang tidak asing bagi para pecinta alam. Gunung ini masuk dalam ruang lingkup Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebenarnya dua gunung yang berbeda di mana puncak Gede memiliki ketinggiannya sekitar 2.958 mdpl dan Puncak Pangrango dengan ketinggian 3.019 mdpl, terhubung melalui perantara Kandang Badak di ketinggian 2.393 mdpl.

Gunung Gede Pangrango memiliki kondisi alam yang cukup unik dan mempunyai karakter tersendiri sehingga sering dijadikan sebagai tempat penelitian oleh para peneliti.

Ternyata eksistensi Gunung Gede Pangrango telah muncul jauh sebelum catatan Kolonial Belanda. Pada abad 15, Bujangga Manik menuliskan dalam catatan perjalanannya.

Bujangga Manik, adalah seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun sebenarnya dia seorang kesatria dari keraton Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi Kota Bogor).

Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke timur Jawa. Dalam naskahnya ditemukan beberapa tempat-tempat yang dianggap suci.

Gunung Gede, disebutnya sebagai salah satu kabuyutan — tempat suci– dari Kerajaan Pakuan Padjadjaran (Abad 15-16) yang sekarang jadi Bogor.

“Setiba di Bukit Ageung, itulah hulu Ciliwung, kabuyutan (tempat suci) dari Pakuan, (yaitu) sanghiang Talaga Warna“.

Bukit Ageung atau Bukit Agung menurutnya terdapat di daerah Puncak, selain itu ada penyebutan Ciliwung dan Talaga Warna. Dari catatan diidentifikasi tempat suci itu sekarang bernama Gunung Gede atau Gunung Pangrango.

  Kemuliaan andong sebagai alat transportasi bagi kalangan bangsawan di Yogyakarta

Sebagian masyarakat yang sekarang berdiam di sekitar kedua gunung itu, memang sering menyebutnya Gunung Agung atau Gunung Ageung.

“….Menarik untuk diperhatikan pula adalah frasa Sanghiang Talaga Warna yang sesungguhnya dapat merujuk kepada bangunan suci yang terletak di Telaga Warna. Seperti diketahui bahwa kata sanghyang berasal dari kata sang + hyang dan lazim digunakan sebagai kata sandang dari hal-hal yang bersifat sakral atau suci,” tulis Dani Sunjaya dalam Jurnal Purbawidya berjudul Gunung Sebagai Lokasi Situs-Situs Keagamaan dan Skriptoria Masa Sunda Kuno (2019).

Gunung Gede sebagai laboratorium

Gunung Gede (Commons Wikimedia)

Kawasan Gunung Gede, ketika memasuki masa Kolonial Belanda berkembang menjadi area pertanian, terutama perkebunan. Dari tahun 1728 teh Jepang telah mulai ditanam, dan pada 1835 perkebunan teh ini telah dikembangkan di Ciawi dan Cikopo.

Pada tahun 1878, menyusul dikembangkan teh asam yang bahkan lebih sukses, sehingga mengubah lanskap dan perekonomian di kawasan lereng Gede-Pangrango. Bagi peneliti, tempat ini menjadi salah satu tempat tertua dan favorit bagi penelitian tentang alam di Indonesia.

Pada April 1815, beberapa minggu sebelum letusan Tambora. Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur yang bertakhta di Jawa pada periode 1811-1816 telah berjejak di puncak Gunung Gede. Dia sedang meneliti tanaman media di Hindia Belanda bersama koleganya.

  Singa sebagai identitas Kota Malang: sejak zaman Kerajaan Singosari hingga Arema

Ketika berada di Puncak, Raffles mendata dinamika suhu dan langsung mengukur ketinggiannya. Amatan Raffles lalu diabadikan oleh jandanya, Lady Sophia Raffles (Sophia Hull). Sophia menulis ulang amatan Raffles yang berasal dari surat bertanggal 7 Maret 1815.

Kepada koleganya, seorang naturalis Amerika, Dr. Thomas Horsfield (1773-1859), Raffles menulis sebuah surat. Lewat surat itu pula Raffles berseloroh bahwa dirinya adalah orang Eropa pertama yang menjejakkan kaki di puncak Gunung Gede.

“Kami memiliki pandangan paling luas di puncak: jalan-jalan Batavia. dan kami dapat melihat pesisir paling selatan Sumatra, ombak di pantai selatan terlihat dengan mata telanjang, ke timur kami dapat melihat Indramayu dan Bukit Cirebon yang menjulang paling tinggi di sana,” tulis Raffles dikutip oleh Lady Sophia dalam buku Memoir of the Life and Public Servicers of Sir Thomas Stamford Raffles (1830).

Caspar Georg Karl Reinwardt (1773-1854), sosok asal Lüttringshausen, Jerman yang berhasil membangun kebun botani ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg alias Kebun Raya Bogor (1817) pernah juga menjadi saksi keindahan alam Gunung Gede.

Dirinya pernah mendaki Gunung Gede dan mencapai puncaknya pada tahun 1819. Pada surat korespondensinya kepada M. van Marum di Haarlem, Belanda 18 Juni 1819, Reinwardt menuliskan telah mendaki “Gedeh” yang tingginya hampir 3.000 meter.

Dia menyaksikan puncak dengan kawahnya sangat lebar dibandingkan kawah gunung yang pernah dia jajaki sebelumnya.

  Tata ruang Situs Gunung Padang yang dikelilingi mitos dan spiritual

Sedangkan pada awal Agustus 1821, melalui sehelai surat yang dikirim ke Buitenzorg (Bogor). Kuhl dan van Hasselt menyebutkan mereka baru menyelesaikan pendakian dan penelitian ke Puncak Pangrango. Kedua peneliti itu menemukan banyak jejak dan jalur lintasan badak Jawa.

Franz Wilhelm Junghuhn juga tidak mau kalah, pada Maret 1839 dirinya mendaki Gunung Gede Pangrango. Di sana dirinya mempelajari topografi, geologi, meteorologi, serta botani tetumbuhan di daerah ini. Sejak itu, tak lagi terhitung peneliti mengunjungi lokasi ini.

Alfred Russel Wallace, seorang naturalis asal Inggris tersohor juga melakukan pendakian ke Gede Pangrango pada 18 Juli – 31 Oktober 1861. Ketika mendaki untuk meneliti flora dan fauna, Wallace menyadari pendakiannya kali ini adalah kejadian yang paling menarik selama di Pulau Jawa.

Puncak Pangrango, disebutnya, merupakan dataran yang bergelombang dan dibatasi tebing-tebing rendah dengan sebuah jurang yang dalam. Akan tetapi, selama berada di gunung, Wallace tak dapat melihat dengan jelas pemandangan dari puncak gunung.

Pasalnya, antara lain cuaca yang sedang berkabut dan hujan. Walaupun demikian, Wallace sangat menikmati keberadaannya di tempat itu. Lantaran pendakiannya mampu memetakan banyak jenis tumbuhan dan hewan di Gede Pangrango.

“Saya mengamati peralihan flora dari daerah panas ke daerah beriklim sedang, kemudian membuat catatan singkat mengenai perubahan tersebut berdasarkan penelitian saya di Jawa,” cerita Alfred Russel Wallace dalam mahakaryanya Kepulauan Nusantara (2009).

Artikel Terkait

Artikel Lainnya