Keberuntungan Wallace mampir di Lombok dalam penemuan teori evolusi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
A.R Wallace (A.R Wallace/Flickr)

Alfred Russel Wallace sebenarnya tidak pernah berencana untuk berkunjung ke Bali dan Lombok pada Juni-Juli 1856. Seandainya saja Dirinya menemukan jalur yang langsung menuju Makassar dari Singapura, Wallace tidak akan menjejakkan kaki di Lombok.

Dan bila dirinya tidak sampai ke Lombok, Wallace tidak akan menemukan hal-hal yang terpenting dari keseluruhan perjalanannya ke dunia Timur. Hal yang bisa jadi membuat Charles Darwin tidak bisa merumuskan teori evolusi.

Lalu bagaimana peran Lombok bagi Wallace? Dan apa hal yang didapatnya di pulau tersebut? Berikut uraiannya:

1. Wallace dan Lombok

Wallace (A,R Wallace/Flickr)

Alfred Russel Wallace pada bulan Juni 1856 tanpa sengaja mengunjungi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tujuan sebenarnya adalah Makassar. Namun karena tidak ada kapal yang membawanya ke Makassar melalui Buleleng, jadilah dia mengunjungi Lombok.

Di Lombok, Wallace tiba di Pelabuhan Ampenan. Dalam bukunya The Malay Archipelago yang terbit ratusan tahun lalu, Wallace menuliskan kesannya terhadap pelabuhan bersejarah di Lombok ini.

“Teluk dan pangkalan laut dari terjangan angin tenggara dan kondisinya setenang danau. Pantainya berpasir hitam dan sangat terjal. Gelombang pasang selalu sangat kuat dan menghasilkan ombak dengan ketinggalan yang menyebabkan kapal-kapal mustahil untuk berlabuh. Kecelakan serius terjadi di situ,” tulis Wallace.

  5 makanan dan minuman berkhasiat yang disukai Rasulullah

Di Lombok, Wallace tinggal selama tiga bulan. Selama di sana dirinya menginap di rumah Mr. Carter seorang Inggris yang tinggal dan menetap di Ampenan. Selain banyak menembak burung dan menangkap serangga, dirinya juga banyak melakukan perjalanan.

Wallace juga pernah menggunakan kuda pinjaman Carter kemudian berkunjung ke Kota Mataram dan Cakranegara bersama seorang Belanda. Di Kota, Wallace bertemu seorang pengusaha asing yang disebutnya Mr S.

Setelah sarapan pagi, Wallace bergerak dari pesisir Ampenan ke arah utara dengan perlengkapan kerjanya. Tujuannya menangkap aneka hewan. Banyak hal yang ditemuinya kemudian dicatat, salah satunya burung kepodang dan koak-kaoq.

“Di sini burung ini disebut Quaich-quaich karena suaranya yang nyaring dan aneh, seakan mengulang kata-kata tersebut dengan variasi intonasi yang bernada,” imbuhnya.

2. Koleksi spesimen

Wallace (A.R Wallace/Flickr)

Wallace mendapat banyak kesempatan melihat sejumlah spesimen untuk pertama kalinya. Contohnya burung kepodang berwarna jingga yang hanya hidup di Lombok dan pulau-pulau di dekat Sumbawa dan Flores.

Dirinya juga mendapatkan spesimen burung kecil penghisap madu dari genus Ptilotis, burung gorong, delapan spesies raja-udang di antaranya spesies yang kala itu masih baru, yakni Halcyon fulgidus dan burung pemakan lebah kirik-kirik australia.

  5 hewan yang muncul dalam Alquran yang perlu diteladani

Di bukunya itu juga, Wallace menceritakan kesulitannya dalam proses pengawetan spesimen di Lombok, hal ini karena kondisi yang lebih sulit daripada biasanya, Dia melakukannya di ruangan kecil milik David, seorang warga Melayu.

Wallace menceritakan ruangan tersebut dibuat multifungsi sebagai tempat makan, ruang tidur, ruang kerja, tempat penyimpanan, dan tempat pemotongan. Tidak ada laci, lemari pakaian, meja ataupun kursi.

“Semut berkeliaran di mana-mana. Anjing, kucing, dan ayam bisa masuk dengan leluasa,” paparnya.

Wallace juga menceritakan keinginannya untuk bisa mengawetkan tengkorak dari berbagai burung dan hewan, reptil, dan ikan, kulit hewan yang besar, buah-buahan dan kayu-kayuan, serta objek menarik tentang kehidupan dan perdagangan yang lain.

Namun karena kondisi yang serba terbatas seperti itu, mustahil untuk menambah koleksi. Ketika berpergian menggunakan perahu, kondisinya makin sulit. Karena kondisi seperti, Wallace harus membatasi koleksinya.

3. Beruntung mampir ke Lombok

Kondisi di Nusantara (A.R Wallace/Flickr)

Perjalanan Wallace menjelajahi Kepulauan Nusantara membawanya menemukan berbagai spesimen fauna. Hal ini membuatnya menyadari adanya perbedaan pengelompokan fauna antara wilayah Borneo dan Sulawesi, serta antara Bali dan Lombok.

Dia kemudian membuat garis pemisah di antaranya dikenal dengan Garis Wallace (Wallace Line). Teori ini dianut oleh semua ahli zoogeografi dunia dalam kurun waktu 1860 hingga tahun 1890.

  Menjelajahi Gunung Sinai, tempat Nabi Musa bertemu Allah SWT

Garis Wallace memanjang dari utara hingga selatan, dari Selat Makassar sampai Pulau Bali dan Lombok. Garis ini memisahkan wilayah geografi fauna (zoogeography) Asia (Paparan Sunda) dan Australasia.

Dari sinilah peran Lombok begitu penting, karena setelah menyeberang ke Lombok dari Bali pada 1856, dia berkirim surat kepada Samuel Stevens, rekannya di Inggris. Wallace menulis bahwa meskipun tanah di Bali dan Lombok sama, tetapi jenis burungnya sangat berbeda.

“Keunikan itu menginspirasi Wallace tentang teori seleksi alam,” tulis Aris Prasetyo dalam Celepuk Rinjani, Pembunuh Senyap Hama Petani.

Zulhakim, peneliti budaya Lombok pun menyatakan bila Wallace tak singgah ke Lombok, bisa jadi Teori Evolusi yang digagas Charles Darwin tak akan ditemukan. Karena apa yang didapat Wallace di Lombok menjadi dasar bagi Darwin untuk melengkapi teorinya.

Karena menurut Zulhakim dari korespondensi yang dikenal sebagai Letter from Ternate inilah Darwin melengkapi teori evolusi dalam bukunya yang masyhur On the Origin of Species pada tahun 1859.

“Buku ini berisi proses seleksi alam yang memicu evolusi. Dari sini, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi.”

Artikel Terkait

Artikel Lainnya