Kegemilangan Desa Lobu Tua dan cerita kemasyhuran Barus yang mendunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kota Barus (Ruangwarna_tour/Instagram)

Di Desa Lobu Tua, Kota Barus, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara terdapat lubang-lubang bekas galian yang tersebar luas. Melongkok ke lubang galian itu seakan menyusuri lorong waktu Barus pada masa lalu.

Situs Lobu Tua diperkirakan sisa-sisa kejayaan bandar niaga internasional Barus yang terkenal di seluruh penjuru dunia sejak awal Masehi. Peradaban ini tiba-tiba menghilang pada abad ke 12.

Lalu bagaimana sejarah di Desa Lobu Tua? Dan mengapa peradaban ini menghilang? Berikut uraiannya:

1. Kejayaan di Lobu Tua

Kota Barus (PotretSumatra/Instagram)

Di Desa Lobu Tua, Kota Barus, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara terdapat lubang-lubang bekas galian yang tersebar luas. Melongkok ke lubang galian itu seakan menyusuri lorong waktu Barus pada masa lalu.

Situs Lobu Tua diperkirakan sisa-sisa kejayaan bandar niaga internasional Barus yang terkenal di seluruh penjuru dunia sejak awal Masehi. Pada dinding galian lubang seluas rata-rata 4 meter persegi itu terlihat lapisan tanah berpasir.

“Di sini dulu ditemukan banyak peninggalan kuno, mulai keramik seperti piring, teko, juga barang-barang dari emas,” kata Rahima Manalu pemilik perkebunan kopi di Lobu Tua yang dimuat Kompas.

Penggalian tim gabungan dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Prancis yang bekerja sama dengan Peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) pada 1995-2000 menemukan berbagai artefak yang menandakan peradaban kuno.

  Akuaduk Segovia, saluran air kolosal Romawi yang dibangun dengan bantuan gravitasi

“Pecahan yang ditemukan begitu banyak sehingga tidak dapat dijumlahkan satu per satu karena kekurangan tenaga manusia,” tulis Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008).

Usai ditimbang, jelasnya, setidaknya ditemukan artefak yang mencapai 600 kilogram. Guillot memperkirakan tembikar ini dibuat di India yang dekat Teluk Persia, sebelum abad pertengahan.

2. Hubungan dengan dunia luar

Pantai Barus (Blink.theproject/Instagram)

Arkeolog Prancis, Marie-France Dupoizat menyebut kemakmuran Lobu Tua bisa terlihat dari kualitas keramik China yang ditemukan dalam penggalian. Meski Barus terpencil tetapi tempat ini memiliki hubungan maritim dengan daerah-daerah luar yang jauh.

Setidaknya, jelasnya dari temuan keramik ini diketahui Barus telah berhubungan dagang dengan daerah di China bagian selatan karena banyak ditemukan tungku-tungku dari Yue (Zhejiang) yang diperkirakan dari abad ke 9 hingga 11 Masehi.

“Luasnya jaringan perdagangan Barus ditandai ditemukannya sekitar 1.000 pecahan tembikar asal Mesopotamia di Timur Tengah dari abad ke 9 hingga abad ke 10,” ucapnya.

Selain itu juga ditemukan kaca-kaca di Lobu Tua. Kaca ini bisa dipastikan bahan impor karena tum penggali tidak menemukan bekas-bekas tungku kaca di Lobu Tua. Diperkirakan kaca-kaca ini berasal dari Timur Tengah.

  Buah ackee, tanaman beracun yang malah menjadi makanan pokok orang Jamaika

Ada juga temuan-temuan lain, seperti manik-manik, logam, batu-bata, dan mata uang emas. Temuan emas ini menunjukkan selain penghasil kapur barus, kawasan ini juga dahulunya adalah pengekspor emas.

“Tak mengherankan karena Barus terletak di Sumatra yang dikenal sebagai Pulau Emas,” tulis Prasetyo Eko dan kawan-kawan dalam Temuan Arkeologi: Jejak Kejayaan Barus di Lobu Tua.

3. Peradaban yang hilang

Kota Barus (Ruangwarna_tour/Instagram)

Arkeolog Puslit Arkenas, Sonny Wibisono mengatakan peradaban Lobu Tua tiba-tiba menghilang pada abad ke-12. Setelah ditinggalkan komunitas multietnis itu, Barus lalu dihuni orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara.

Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa kala itu.

Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke 16 mencatat Barys sebagai pelabuhan ramai dan makmur. Dirinya menamai tempat itu Panchur atau Pansur.

“Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur,” catat Pires.

  Jejak kereta kuda, transportasi andal orang kaya Paris van Java

Tahun 1550, Belanda berhasil menghegemoni perdagangan di Barus. Sepak terjang Belanda mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan di wilayah tersebut.

Barus kian tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke 17. Kerajaan baru itu membangun pelabuhan di pantai timur Sumatra, berhadapan dengan Selat Malaka.

Kini bila menyusuri Barus, jejak kejayaan itu tak terlihat lagi. Kota ini sangat sepi. Jalan beraspal yang sebagian berlubang seperti tak terurus. Sebagaimana kota-kota tua di pantai barat Sumatra, kejayaan itu telah rama redup.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya