Kenapa Gunung Semeru disebut sebagai puncak abadi para dewa? Ini 3 alasannya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Semeru | @IZZ HAZEL (shutterstock)

Gunung Semeru dipercaya oleh orang-orang Jawa sebagai tempat bersemayam para dewa. Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang dalam kosmologi Hindu diartikan sebagai pusat jagat raya.

Gunung ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia kebawah Lempeng Eurasia. Gunung Semeru juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatra dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.

Gunung ini memiliki ketinggian yang mencapai 3.676 mdpl, sehingga mewakili sebuah wujud kebesaran. Kedigdayaan Semeru tidak hanya tercatat dalam naskah Belanda, tetapi juga sudah terekam dalam naskah kuno Tantu Panggelaran dari abad 15.

Inilah 3 alasan Gunung Semeru disebut sebagai puncang bersemayan para dewa.

1. Kental kisah mitologi

Dalam naskah ini dikisahkan bahwa Semeru merupakan gunung yang berasal dari India. Ketika itu Pulau Jawa masih terombang-ambing oleh Samudra dan kedudukannya masih belum mantap di dunia ini.

“Batara Guru, sang penguasa tunggal, lalu memerintahkan para dewa dan raksasa untuk memindahkan Gunung Mahameru di India, sebagai pemberat agar pulau itu tidak terombang-ambing lagi,” sebut Norman Edwin dalam tulisannya berjudul Pertapaan Kameswara dan Prasasti di Danau yang termuat dalam buku Soe Hok Gie…Sekali Lagi (2009).

Para dewan dan raksasa lalu beramai-ramai mengangkat gunung ini. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang besarnya bukan main, kemudian menggendong Mahameru. Dewa Brahma mengubah dirinya menjadi ular yang Panjang sekali, kemudian melilit gunung itu agar bisa ditarik.

  Saluran air kuno abad 18 ditemukan dalam proyek MRT Glodok-Kota

“Para dewa dan raksasa bergotong royong menyeretnya ke Tanah Jawa,” tulisnya.

Pada proses pemindahan ini, para dewa masih kesulitan memilih tempat untuk menancapkan Mahameru, bila ditaruh di Jawa bagian barat, ternyata membuat bagian timur Pulau Jawa menjungkit ke atas.

Akhirnya mereka memindahkan lagi ke arah timur, sehingga mantaplah kedudukannya di Pulau Jawa sekarang. Dalam pemindahan ini, banyak bagian dari Semeru yang tercecer dan membentuk gunung-gunung di Pulau Jawa.

Tetapi urusan belum selesai, Mahameru posisinya miring ke utara, karena itu diputuskanlah untuk memotong ujung gunung itu, setelahnya dipindahkan ke barat laut dengan nama Gunung Pawitra.

“Mahameru itu adalah Gunung Semeru sedangkan Pawitra sekarang dikenal sebagai Gunung Pananggungan,” jelas Edwin

2. Dipercaya sebagai pertapaan Dewa Syiwa

Dalam naskah Tantu Panggelaran diceritakan juga bahwa Gunung Semeru merupakan pertapaan Dewa Syiwa. Untuk memperindah pertapaannya, diceritakan lagi bahwa Dewa Syiwa telah membuat tempat pemandingan yang konon adalah Ranu Kumbolo.

Kisah ini misalnya diperkuat dengan penemuan beberapa situs purbakala di Gunung Semeru. Prasasti itu terdapat di Ranu Kumbolo dan Arcapada. Prasasti di Ranu Kumbolo diperkirakan telah ada sejak awal abad 12.

Diceritakan sebuah kunjungan dari Kameswara, raja yang berasal dari Kerajaan Kediri, raja ini meninggalkan kerajaan untuk berziarah ke pemandian suci dan diduga dirinya datang ke Gunung Semeru untuk melakukan pertapaan.

  Menelusuri jejak tempat tinggal Wallace ketika berada di Maros

3. Keindahan tingkat dewa

C.F. Clignett, seorang geolog asal Belanda menjadi orang pertama yang mencatat pendakiannya ke Gunung Semeru. Dia mendaki dari arah barat daya dengan melewati jalur Widodaren. Jalur ini merupakan salah satu gunung yang terdapat di dalam kompleks Gunung Semeru.

Setelah mendaki Gunung Semeru, Clignett menuliskan pendakiannya sehingga secara tidak langsung membuat nama Gunung Semeru mulai mendunia, terutama di Eropa pada sekitar 1840 an. Setelahnya ada Franz Wilhem Junghuhn yang melakukan pendakian di Gunung Semeru.

Ahli botani ini melakukan pendakian melalui jalur Gunung Ayek-ayek, Gunung Inder-Inder dan Gunung Kepolo. Junghuhn sangat mungkin melakukan penelitian saat mendaki ke Gunung Semeru. Dirinya juga menjadi salah satu orang yang berkontribusi terhadap tersebarnya informasi mengenai Semeru.

Mr.C.W. Wormer, merupakan seorang penulis berkebangsaan Eropa yang juga pernah mendaki Gunung Semeru pada 1920 an. Dirinya mendaki 30 gunung dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl di Jawa.

Dirinya lantas menuliskan tenang keindahan gunung-gunung di Jawa dan menerbitkannya di Belanda. Buku yang berjudul Bergenweelde atau Kemewahan Gunung-Gunung menyimpan segala keindahan, terutama Gunung Semeru:

Telaga birunya terbentang tanpa gerakan. Sesekali seekor itik liar mengusik permukaan airnya yang licin, kala dia menyelam dalam-dalam dan menghilang. Sampai jauh malam, saya melihatnya berenang di danau dan sesekali terdengar suaranya mengalun di atas permukaan air.

Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam sebagian di dalam air. Entah, sudah berapa tahun batang-batang kayu tersebut membusuk di sana. Di antara dedaunan yang hijau yang lebat dari pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menutupi lereng-lereng gunung di sekitar sini, suara angin malam terdengar berdesis.

Sang Rembulan muncul. Setelah sinar matahari, yang dengan tajam menampakkan bentuk-bentuk dari hutan dan telaganya, sinar rembulan mengaburkan semua keadaan. Sekarang puncak-puncak pepohonan tidak bergerak dan tampak samar-samar dilangit yang cerah. Di atas punggung-punggung gunung kelap-kelip bintang bergelantungan.

Di muka air telaga Sang Rembulan mulai memainkan sinar peraknya, menerangi bivak kami. Suatu malam tropik yang tenang mengendap di atas telaga gunung, yang sudah berabad-abad terlindung oleh dinding-dinding gunung, dan jarang sekali terganggu ketenangan tidurnya oleh kegaduhan manusia.

Eksistensi Semeru juga bisa dilihat dalam catatan harian Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran (2008). Di sini Gie yang merupakan aktivis mahasiswa era 1960 menilai Semeru sebagai tempatnya menemukan kesunyian abadi.

  Gara-gara krisis air bersih, Batavia diserang wabah kolera pada abad 19

Foto:

  • Hariadi Mahsyar / shutterstock
  • Derry Nurmansyah / shutterstock
  • Kittis Srak / shutterstock

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya