Kisah cenderawasih, burung bersejarah penghuni nirwana

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Burung cendrawasih | @Kurit afshen (shutterstock)

Burung Cenderawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Burung ini biasanya ditemukan di Indonesia bagian timur, seperti Papua. Ada juga di Papua Nugini, pulau-pulau selat Torres, dan Australia Timur.

Cenderawasih adalah burung yang menyandang status sebagai Bird of Paradise atau burung dari surga karena keindahannya diibaratkan turun dari surga. Burung ini menjadi salah satu sumber alam yang menjadi kebanggaan rakyat Papua.

Merujuk dari Kompas, burung cenderawasih merupakan spesies endemik yang hanya terdapat di pulau Papua dan memiliki peran penting dalam adat budaya suku-suku di sana. Kecantikan burung cenderawasih telah dikenal dunia.

Dalam buku Cendrawasih Burung dari Surga karya Endah H.S, burung cenderawasih jantan memiliki warna bulu yang lebih indah untuk memikat cendrawasih betina sebagai pasangannya. Bulu tersebut tumbuh dari area paruh, sayap dan kepalanya.

Biasanya warna bulu sangat cerah dengan kombinasi hitam, cokelat kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau dan ungu.

Burung yang menjadi maskot Papua ini memiliki warna bulu yang indah. Karena keindahannya itu burung cenderawasih konon jarang turun ke tanah dan lebih sering terbang hinggap ke pohon.

Burung cenderawasih telah menarik perhatian peneliti dunia sejak 100 tahun lalu, Ketika seorang naturalis Alferd Russel Wallace menemukannya di “Kepulauan Rempah” (The Spice Island) yang kini dikenal sebagai Kepulauan Aru.

Dipaparkan oleh Historia, pada 1860, Wallace kemudian mengadakan ekspedisi ke Pulau Waigiou, Papua untuk meneliti keadaan alam di sana. Dalam amatannya, burung ini memiliki bulu yang indah bila dibandingkan dengan kelompok burung lainnya.

Wallace menjelaskan bahwa keindahan bulu cenderawasih, terutama warna kekuningan dari sayap yang menjuntai, tidak dapat disamai oleh burung lainnya, kecuali barangkali oleh burung-burung pekicau.

  Saluran air kuno abad 18 ditemukan dalam proyek MRT Glodok-Kota

“Tetapi tetap tidak ada yang melampaui keindahan cenderawasih. Saya adalah satu-satunya orang Inggris yang telah melihat keindahan burung ini di hutan asalnya,” kata Wallace dalam mahakaryanya Kepulauan Nusantara yang berjudul asli The Malay Archipelago.

Paling tidak dalam catatan Wallace sudah ada 50 spesies cenderawasih yang telah diketahui. Sebanyak 40 spesies terdapat di Papua. Di wilayah ini pula terdapat jenis-jenis spesies cenderawasih yang memiliki bulu indah.

Cenderawasih, ironi burung surga tanpa kaki

Ketika para pengembara Eropa terdahulu sampai ke Maluku untuk mencari cengkih, dan pala mereka diberi hadiah berupa burung-burung yang diawetkan. Burung-burung ini sangat indah dan istimewa, bahkan membuat takjub para pelacong yang mencari kekayaan.

Wallace mencatat para pedagang Melayu memberi nama burung tersebut manuk dewata atau burung Tuhan. Sedangkan orang-orang Portugis ketika melihat bahwa burung itu tidak memiliki kaki dan sayap atau tidak bisa mengetahui bentuk aslinya, mereka menyebutnya Passaros de Colatau burung matahari.

“Bahwa tidak ada yang melihat burung ini hidup, karena mereka hidup di udara, selalu terbang ke arah matahari, dan tidak pernah menginjakkan kaki ke bumi sampai mereka mati,” tulisnya.

Sebenarnya sebelum kedatangan Wallace, suku adat telah berburu cenderawasih untuk diambil bulunya yang indah untuk hiasan. Mereka memotong bagian sayap dan kakinya untuk mempermudah pengumpulan bulu, kemudian menyisihkan bagian tubuhnya.

Sampai akhirnya spesimen tubuh burung Greater Bird of Paradise tersebut dibawa ke Eropa sebagai prototipe identifikasi burung spesies baru oleh anggota ekspedisi dagang di Papua. Mereka pun lalu heran dengan ketiadaan kaki dan sayap burung tersebut.

  Fakta Agats, distrik di Papua yang massalkan kendaraan listrik sebelum Jakarta

Banyak yang lalu bertanya, apakah burung ini selalu melayang karena bulu-bulunya dan tak pernah mendarat karena tak punya kaki, seperti berada di surga? Sejak itulah disebut burung ini dengan birds of paradise. Dan Apoda dalam Bahasa latin memiliki arti tidak berkaki.

Sudah sejak lama bulu cenderawasih yang indah pernah menjadi bahan perburuan, baik untuk pakaian adat Papua, maupun di ekspor ke luar negeri, bulu beserta kulitnya untuk dijadikan patung. Suku adat Papua menggunakannya sebagai hiasan kepala, hiasan hidung dan hiasan pakaian.

Hari Suroto dari Balai Arkeologi Jayapura dalam artikel berjudul Perburuan dan Perdagangan Burung Cenderawasih di Papua mencatat Suku Kaipuri dan Sowari di pedalaman Waropen melakukan transaksi tukar menukar dengan penduduk Teluk Wandamen dan Teluk Cenderawasih.

“Suku Kaipuri dan Sowari berburu burung cenderawasih untuk ditukarkan dengan keramik, kotak daun pandan, buah pinang hutan, ikan kering dan peralatan dari besi (mata panah, ujung tombak, dan pisau),” catatnya.

Sementara itu daerah Semenanjung Onin Fak-fak sudah lama menjadi tujuan dari pedagang wilayah lainnya di Indonesia. Kedatangan para pedagang ini adalah dalam rangka mencari pala, kayu masoi dan memburu burung cenderawasih.

Hari juga menulis bahwa pedagang Onin memonopoli perdagangan di Teluk Bintuni, mereka melakukan barter dengan penduduk setempat. Komoditas yang dicari pedagang Onin adalah burung cenderawasih, burung kakaktua, sagu, teripang, tempurung penyu dan Mutiara. Komoditas ini untuk selanjutnya dijual ke pedagang dari Seram.

Perburuan yang memilukan

Seorang pemburu cenderawasih menjelaskan kepada Wallace bahwa mereka menembak burung itu dengan panah. Segera setelah para pemburu mengetahui tempat cenderawasih biasa bertengger di atas sebuah pohon untuk berkumpul, mereka biasanya akan bersumbunyi di antara cabang-cabang pohon.

  8 spesies baru ini mengubah status burung di Indonesia pada 2022

Pohon yang sering dihinggapi oleh cenderawasih adalah pohon yang sangat tinggi. Lalu mereka menunggu di dalamnya hingga sebelum fajar tiba. Dengan bersenjatakan busur dan beberapa anak panah yang ujungnya tumpul. Burung lalu mati karena pukulan keras anak panah tanpa terluka atau mengucurkan darah.

“Seorang pemburu yang lain menunggu di bawah pohon. Pada saat burung-burung datang ketika matahari terbit, burung-burung tersebut bergerombol dan mulai menari. Lalu pemburu memanah dengan anak panah yang tumpul sekuat-kuatnya untuk melumpuhkan seekor burung yang kemudian jatuh ke tanah. Kemudian burung tersebut ditangkap dan dibunuh tanpa merusak bulunya dengan tetesan darah,” beber Wallace.

Perdagangan dan perburuan cenderawasih terjadi di hampir seluruh pesisir Papua. Burung cenderawasih diperdagangkan dengan cara barter. Kehadiran pemburu burung ini dari luar Papua mengubah budaya massyarakat setempat.

Mereka mulai mengenal peralatan dari besi, gerabah, kain timor. Penggunaan istilah-istilah Melayu dan perkawinan campur. Akibatnya banyak barang-barang buatan asli Papua yang terdesak. Misalnya baki untuk sagu telah hilang diganti dengan piring porselen.

Koentjaraningrat dalam Mas Kawin dan Adopsi dalam Masyarakat Bgu di Kecamatan Pantai Utara menyebut sebelum 1922 para pemburu cenderawasih dari Buton, Sangir dan Ambon datang ke tepi pantai utara Papua dekat muara Sungai Wiruwai, Sarmi untuk berburu cenderawasih.

Mulai tahun 1922, memburu burung dilarang oleh pemerintah Belanda. Para pemburu cenderawasih kemudian beralih profesi menjadi pemburu buaya, pengumpul kulit kerang mutiara, kopra, dan hasil hutan misalnya kayu masoi dan pala.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya