Kisah pawang hujan, ‘pengendali’ alam yang setia menjaga tradisi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Dukun (Yaman Ibrahim/Flickr)
Dukun (Yaman Ibrahim/Flickr)

Pawang hujan perempuan, Rara Istiati Wulandari menjadi buah bibir ketika masuk ke paddock untuk menghalau hujan pada balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (20/3/2022). Hujan kemudian reda, balapan bisa dimulai.

Balapan telah usai, namun kisa pawang hujan menjadi pembicaraan hangat warganet. Ada yang menganggap profesi pawang hujan sebagai syirik dan memalukan, ada lagi yang menganggapnya sebagai budaya dan kearifan lokal. Karena memang sejatinya pawang hujan tidak bisa lepas dari tradisi Nusantara.

Lalu bagaimana pawang hujan ini bermula? Adakah tradisi seperti ini masih bisa bertahan di tengah lajunya modernisasi? Berikut uraiannya:

1. Tradisi pawang hujan dalam budaya Nusantara

Dukun (yaman ibrahim/Flickr)
Ilustrasi pawang hujan (yaman ibrahim/Flickr)

Bagi masyarakat perkotaan, pawang hujan mungkin hanya dipandang sebelah mata. Tetapi karena mereka lah pesta-pesta pernikahan, khitanan, dan sejenisnya bisa berjalan lancar. Pawang hujan merupakan orang penting dari balik layar ketika kemampuan manusia tidak bisa mengendalikan alam.

Sering kali pawang hujan akan beradu sakti, bila dalam satu wilayah berdekatan terdapat acara dan pesta. Siapa yang menang akan ditentukan dari langit yang paling cerah. Biasanya mereka tidak perlu datang ke tempat acara, profesinya memang penting tetapi sunyi.

  Heyna, predator yang jadi hewan peliharaan orang Nigeria

“Namanya sayup tak tersebut bila hujan tak jadi datang, namun mendapat hujatan dan cacian bila hujan turun, apalagi dengan derasnya,” ucap Aris Setiawan, pengajar di ISI Surakarta yang dikutip dari Jawapos.

Belum jelas sejak kapan profesi ini lahir, namun ada cerita turun temurun pada masyarakat Betawi, tentang dewa-dewi yang turun ke Bumi. Mereka dikenal sebagai nenek dan aki Bontot. Pasangan ini mengajari manusia mengelola Bumi, mengenali tanda-tanda alam dan hewan.

Cerita yang dituturkan secara turun temurun ini tetap lestari bagi masyarakat Betawi. Kisah nenek dan aki Bontot juga menjadi dasar eksistensi dari profesi unik yang ada dalam masyarakat Betawi, yakni pawang hujan. Tradisi ini dipercaya sudah ada jauh sebelum zaman Islam, bahkan Hindu-Buddha.

2. Pengendali hujan dari suku Indonesia

Dukun Tengger (Anom Harya/Flickr)
Ilustrasi pawang Tengger (Anom Harya/Flickr)

Budayawan dan ahli sejarah Betawi, Yahya Andi Saputra menyebut penggunaan pawang hujan oleh pejabat pemerintah dan masyarakat bukanlah hal aneh. Pada zaman dahulu, masyarakat Betawi telah mengenal istilah dukun pangkeng, mereka disebut selalu ada dalam acara hajatan.

“Hajat apapun, seperti pernikahan, sunatan, syukuran, rumah baru, pasti dukun pangkeng dilibatkan,” ucapnya.

  Ajaran makanan sehat dan ramah lingkungan ala leluhur yang telah dilupakan

Dalam tradisi keraton Jawa, pawang hujan bahkan memiliki kedudukan yang prestisius. Di Keraton Kasunanan Surakarta, misalnya terdapat pawang hujan yang sangat terkenal bernama Haknyo Ramiyono yang baru meninggal pada tahun 2014. Dirinya selalu hadir dalam acara-acara penting di keraton dan sekitarnya.

Tak cuma di Masyarakat Betawi atau Jawa, di berbagai tempat lain berlaku pula hal serupa. Sebagai contoh di Bali, masyarakat menggunakan jasa pawang hujan yang disebut Nerang Hujan. Sementara di Riau, pawang hujan dikenal dengan istilah Bomoh.

Konsepsi para pawang hujan sebenarnya tidak menghilangkan hujan. Dia hanya bermain-main dalam konteks waktu, menunda, mempercepat, atau mengalihkan. Pawang hujan juga hadir sebagai antitesis dari ritual-ritual mendatangkan hujan yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

3. Komunikator alam yang hilang

Dukun (Yaman Ibrahim/Flickr)
Ilustrasi pawang hujan (Yaman Ibrahim/Flickr)

Memasuki zaman teknologi, profesi pawang hujan mulai ditinggalkan. Manusia kini memang tak lagi butuh pawang hujan. Mereka tahu kapan hujan akan datang lewat ramalan cuaca yang terpampang dalam layar handphone. Profesi ini memang tidak terlalu menjanjikan.

Selain itu, masyarakat kadang melihat profesi ini secara parsial, tentang sosoknya yang lebih lekat berbau klenik. Padahal pawang hujan sebenarnya adalah manusia yang sangat sadar dan peduli pada lingkungan. Dia mampu melihat tanda-tanda, menyertakan doa-doa dengan sesaji yang sejatinya sarat makna.

  Melihat ayam yang lebih dari sekadar hewan ternak di Bali

“Beberapa benda profesi itu, misalnya, sapu lidi sebagai simbol menyapu keburukan dalam diri. Janur, cabai, bawang merah dan bawang putih, atau hasil bumi lainnya sebagai wujud syukur dan persembahan kepada sang pencipta,” jelas Imaniar lewat tulisan berjudul Objek-objek dalam Ritual Penangkal Hujan.

Mengakarnya eksistensi pawang hujan di negeri ini, mungkin menjadi pertanda manusia tidak lagi bersyukur, tak mampu merawat alam, tak mampu berdialog dengan Tuhannya, tak mampu membaca tanda-tanda selayaknya pawang hujan.

“Pawang hujan berpedoman pada sebuah tesis sederhana bahwa tidak ada kepastian di dunia ini, manusia hanya memohon dan berdoa, termasuk untuk urusan hujan,” ucap Eva Junalisah dalam Peranan Pawang Hujan dalam Pelaksanaan Pesta Pernikahan pada Etnis Jawa.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Komunitas Bahadur (@komunitas_bahadur)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya