Kisah semua benteng di Ternate yang dibangun demi lindungi cengkeh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Benteng Tolukko (Alex Newman/Flickr)

Benteng Tolukko berdiri kokoh di sisi timur Pulau Ternate, Maluku Utara. Di puncaknya, pemandangan lepas ke Laut Maluku, Pulau Tidore dan pesisir barat Pulau Halmahera. Hilir mudik kapal di laut sempit itu tak berpenghalang ke segala penjuru mata angin.

Cengkeh menjadi salah satu alasan mengapa bangsa Barat membangun benteng pertahanan di Ternate. Benteng Tolukko menjadi saksi betapa cengkeh menjadi komoditas berharga yang dipertahankan dengan segala cara.

Lalu bagaimana sejarah benteng di Ternate? Dan mengapa bangsa Eropa memperebutkannya? Berikut uraiannya:

1. Dibangun karena cengkeh

Cengkeh (Rokok Indonesia/Flickr)

Alasan bangsa Eropa mendirikan benteng pertahanan di Ternate tentunya karena cengkeh. Benteng itu menjadi saksi betapa cengkeh menjadi komoditas berharga yang dipertahankan dengan segala cara.

Sebelum bangsa Eropa, sudah ada saudagar China dan Arab yang tiba di Ternate dengan alasan sama, tetapi mereka tidak membangun benteng. Nilai cengkeh dan pala yang tinggi membuat wilayah ini selalu ramai dengan hiruk pikuk kapal dagang asing.

Setelahnya terjadi pelayaran besar-besaran bangsa Eropa, Portugis menjadi bangsa Barat yang pertama kali menginjakkan kaki di Ternate pada 1512, setahun setelah mereka menguasai Malaka di Semenanjung Malaya.

Setelah bangsa Portugis, Spanyol lantas menyusul dan menepakkan jejaknya di Tidore yang dapat dicapai 20 menit dengan perahu motor dari Ternate. Setelah kedatangan bangsa Eropa, Ternate dan sekitarnya makin maju.

  Tebu ajaib dari Jawa, cerita kegemilangan industri gula di Pasuruan

Namun di tengah kemakmuran ini, selama bertahun-tahun Ternate jadi medan pertumpahan darah akibat perang saudara dengan Tidore ataupun persaingan Portugis dan Spanyol. Kesengsaraan rakyat Ternate makin bertambah parah karena kedatangan Belanda.

Semula kedatangan Belanda untuk membantu mengusir Spanyol dari Tidore dan Portugis dari Ternate. Tetapi karena hasutan dan politik adu domba. Belanda kemudian bisa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate dan sekitarnya.

“Di kemudian hari, Inggris dan Belanda menancapkan kaki di Ternate di Kepulauan Rempah. Tujuannya masih demi cengkeh dan mereka juga membangun benteng di sejumlah tempat,” dimuat dalam Rempah dan Morotai, Magnet Maluku Utara terbitan Kompas.

2. Benteng di Ternate

Benteng Tolukko (Alex Newman/Flickr)

Benteng Tolukko berdiri kokoh di sisi timur Pulau Ternate, Maluku Utara. Di puncaknya, pemandangan lepas ke Laut Maluku, Pulau Tidore dan pesisir barat Pulau Halmahera. Hilir mudik kapal di laut sempit itu tak berpenghalang ke segala penjuru mata angin.

Tolukko dibangun di atas bukit yang menjorok ke laut di Kelurahan Sangaji, Kota Ternate. Tak hanya strategis untuk memantau kedatangan kapal, benteng yang dibangun Panglima Portugis Fernando Serrao itu juga memiliki akses untuk mengerahkan pasukan ke pantai.

Benteng yang dibangun pada 1540 Masehi ini semula memiliki terowongan di bawah tanah yang langsung menuju laut. Namun renovasi pada 1996 justru menghilangkan bentuk asli benteng bersejarah tersebut.

  Peradaban jati, kayu suci yang menjadi bagian kehidupan masyarakat Jawa

“Pondasi benteng dibangun oleh Portugis. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, akhirnya direbut Belanda,” kata Nurachman Irianto (Maman), ahli benteng dari Universitas Khairun, Ternate

Portugis baru membangun benteng setelah sembilan tahun di Ternate, pada tahun 1521, yaitu Benteng Kastela, di Kelurahan Kastela, Ternate. Benteng itu dibangun untuk menghalau Spanyol yang berusaha masuk Ternate.

Spanyol mendirikan benteng di Tidore, antara lain Benteng Tahula di Soasio pada 1613 dan Benteng Cobo di Desa Cobo Doe Doe. Saat Belanda menguasai Ternate, mereka juga membangun benteng Oranje pada 1607.

“Batu untuk pembangunan diambil dari Kastela. Lonceng gereja benteng pun diambil dan dipindahkan,” paparnya.

Kini ada delapan benteng yang masih bertahan di Ternate, yaitu Tolukko, Kalamata, Kastela, Oranje, Kota Janji, Bebe, Kota Naka, dan Takome. Jumlah aslinya diketahui lebih banyak bahkan dalam catatan Belanda ada 12 benteng di Ternate, seperti Benteng Kalafusa.

“Kami belum tahu lokasi Benteng Kalafusa itu. Ancar-ancarnya di sekitar Tolukko,” kata Maman.

3. Kondisi memprihatinkan

Benteng oranje (Ujon Sujana/Flickr)

Maman menyebut kondisi benteng yang tersisa sebagian besar memprihatinkan. Hanya Tolukko dan Kalamata yang relatif bagus. Beberapa benteng tidak diketahui lokasinya dan kemudian ada yang rusak.

  Ironi buaya irian, Dianggap sakral oleh masyarakat adat tetapi tetap diburu

Pemerintah berupaya memugar benteng itu, Tetapi hal ini justru dikeluhkan oleh para sejarawan dan pecinta benda cagar budaya di Ternate, hal ini karena pemugaran dinilai dilakukan serampangan hingga nilai historisnya hilang.

“Pasca pemugaran, bentuk Benteng Kastela dan Oranje malah jadi aneh. Bahkan, Kastela pernah roboh seusai dipugar sebab pemugarannya tak sesuai kaidah,” ujar Maman.

Pasca pemugaran, Benteng Kastela dilengkapi taman dan jalan melingkar dari batu blok. Di Benteng Kota Janji ada taman plus lantai batu blok yang dikelilingi pagar besi serta pintu gerbang yang tak serasi dengan benteng.

“Akibatnya benteng pertahanan menjadi mirip taman bermain,” keluhnya.

Sementara itu Benteng Oranje yang semula berupa batu gunung yang direkatkan dengan kalero (batu karang yang dipanaskan) justru diplester dengan campuran semen. Lantai benteng yang semula berupa batu merah diganti batu kali dan gunung yang dipipihkan.

Walau begitu masih banyak bangunan bersejarah yang bisa dinikmati. Misalnya bila ingin merasakan sensasi masa lampu, naiklah ke Benteng Tolukko hingga ke bagian atas untuk melihat pemandangan laut dan Pulau Tidore.

Menghadap ke arah depan bentengnya terpampang kemegahan Gunung Gamalama dengan puncak yang seringkali tertutupi awan. Sembari meresapi sejarah tempo dulu, wisatawan bisa menikmati semilir angin laut dan kenyamanan suasana.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya