Kuda sembrani, hewan mitologi yang dipercaya sebagai tunggangan raja-raja Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi kuda sembrani (Eddi van W/Flickr)

Dalam mitologi Yunani dikenal pegasus, sejenis hewan yang menyerupai kuda bertanduk yang dapat terbang karena memiliki sayap. Di Jawa, juga terdapat hewan yang menyerupai pegasus yang disebut kuda sembrani.

Kuda Sembrani konon merupakan hewan tunggangan dari para raja-raja Jawa. Seekor kuda bersayap yang dapat terbang ini dikisahkan sangat berani. Bahkan, bagi sebagian masyarakat Jawa, keberadaannya dianggap sebagai mustika.

Lalu bagaimana kisah tentang kuda sembrani? Dan apakah mitologi ini begitu melekat bagi masyarakat Jawa? Berikut uraiannya:

1. Tunggangan raja

Sultan Agung (bambangsujarwanto/Instagram)

Bambang Suwondo dalam Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta seperti dinukil dari Hewanpedia menyebutkan dalam cerita pewayangan, kuda sembrani dikisahkan sebagai kuda tunggangan Batara Wisnu.

Sementara menurut hikayat rakyat Jawa, sembrani merupakan alat transportasi bagi raja, ratu dan senopati. Konon para petinggi kerajaan itu sengaja bepergian menggunakan kuda sembrani agar lebih muda dan cepat sampai tujuan.

Kemampuan terbang kuda sembrani dikenal luar biasa. Dalam sekali kepakan sayap, kuda sembrani dapat melesat sejauh ratusan kilometer. Konon, para raja Mataram sengaja menggunakan kuda sembrani untuk berangkat ke Makkah guna menunaikan ibadah haji.

  Dewi Sri, mitologi bagi tradisi kesuburan pertanian di Nusantara

“Salah satu raja Jawa yang konon biasa menggunakan kuda sembrani untuk pergi ke Makkah adalah Sultan Agung yang memimpin Mataram Islam,” ujar Bambang.

2. Kuda sembrani bagi orang Jawa

Tapak jaran sembrani (Jogjabelajar)

Mitos mengenai kuda sembrani tidak hanya berasal dari kalangan istana, rakyat Jawa pun banyak yang mempercayainya. Misalnya kisah kuda sembrani muncul di Desa Jenalas, Gemolong, Sragen.

Cerita rakyat mengenai kuda sembrani dikisahkan secara lisan oleh warga sekitar secara turun temurun. Bahkan konon penamaan Desa Jenalas berawal dari cerita warga sekitar yang memergoki keberadaan hewan misterius tersebut.

Bahkan warga mempercayai tapak kuda sembrani pernah ada di desa tersebut. Namun kini bekas tapak kuda itu sudah tidak terlihat jelas, karena tertutup genangan air dari sebuah sendang yang ada di desa tersebut.

“Kuda sembrani warna putih dari langit lalu minum di sebuah sendang di tengah hutan. Ketiba beberapa penduduk mengintip atau nginjen, kuda sembrani itu pun terbang. Tempat penduduk mengintip atau nginjen kuda sembrani di hutan atau alas itu kini menjadi Desa Jenalas (nginjen alas),” demikian ringkasan kisah terkait mitos kuda sembrani yang diwartakan laman resmi Pemkab Sragen dimuat Solopos.

Tidak hanya di Desa Jenalas, Sragen, mitos kuda sembrani juga menyebar di banyak lokasi di Pulau Jawa. Bahkan sejumlah lokasi disebut sebagai petilasan si kuda mitologi. Misalnya di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di pakis, Kabupaten Magelang.

  Tembakau, cerita awal mula kedatangan "emas hijau" ke Indonesia

Beberapa seniman yang mempercayai mitologi kuda sembrani pun sampai menjalani ritual berbalut performa seni di bebatuan sungai di dusun setempat. Ada sejumlah lokasi ritual mereka di jalur irigasi pertanian warga.

Para seniman ini biasanya melakukan pertunjukan di atas batu kali dengan tekstur nampak keras dan padat, serta warna hitam, bernama Tapak Jaran Sembrani. Jaran dalam bahasa Indonesia berarti kuda.

Di atas permukaan batu terdapat legokan atau cekungan yang dipercaya bekas tapak kuda sembrani. Sementara itu mitos kuda sembrani bagi masyarakat bukan hanya cerita tutur, tetapi bagian dari kearifan lokal mereka dalam menautkan keyakinan.

3. Keberkahan dari kuda sembrani

Ritual tapak kuda jembrani (Antaranews)

Tiga sesepuh warga yang masing-masing mengenakan pakaian adat Jawa, Mbah Jumo (67), Mbah Darto (70), dan Mbah Slamet Suharno (53) menyajikan rangkaian cerita rakyat pada ritual yang digelar pada Sabtu (7/11/2020) siang.

Cerita rakyat ini memiliki nilai kearifan lokal atas tapak kaki kuda sembrani. Dikisahkan tentang seorang bidadari yang mandi di Gerojokan Sekablak. Untuk kembali ke kayangan, sang bidadari dijemput kuda sembrani berparas ayu.

  Sungai Brantas dan jejak sejarah perdagangan internasional

Setelah take off, si kuda meninggalkan jejak berupa empat lubang di bebatuan sungai. Warga setempat melihat empat lubang dengan letak berdekatan mirip bekas lutut dan kaki kuda, masing-masing dua lubang.

Hingga saat ini, lubang-lubang batuan selalu terisi air meskipun air sungai tidak sedang mengalir deras. Warga memanfaatkan air dari lubang-lubang batu itu untuk menyembuhkan penyakit belek, panas badan, dan penyakit ringan lainnya.

“Setelah warga sembuh, lalu memberikan boreh berupa bunga kenangan dan mawar warna merah serta putih di bekas tapak kaki kuda sembrani itu,” papar Muh Khodiq Duhri.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya