Letusan Gunung Krakatau dan kesaksian bencana di pengujung Agustus 1883

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Krakatau (Haryono ID)

Pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda meletus dan menciptakan gelombang Tsunami setinggi 30 meter, melesat ke daratan dengan kecepatan tinggi, mengempaskan setiap bangunan dan benda yang berada di jalur lintasannya.

Letusan Krakatau digambarkan seperti kiamat. Dunia jadi gelap, diiringi gelegar suara letusan dan gulungan ombak yang melesat ke daratan. Pemerintah kolonial melaporkan pada bencana terdahsyat abad ke 19 itu sekitar 36 ribu orang lebih tewas.

Lalu bagaimana kisah meletusnya Gunung Krakatau? Dan apa dampaknya setelah letusan? Berikut uraiannya:

1. Letusan Gunung Krakatau

Letusan Gunung Krakatau (majalah forbes/Flickr)

Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda meletus pada 27 Agustus 1883, menciptakan gelombang tsunami setinggi 30 meter, melesat ke daratan dengan kecepatan tinggi, mengempaskan setiap bangunan dan benda yang berada di jalur lintasannya.

Pemerintah kolonial melaporkan pada bencana terdahsyat abad ke-19 itu sekitar 36 ribu orang lebih tewas dan menyebabkan bencana susulan lain seperti kegagalan panen serta kelaparan. Sementara itu jutaan kubik abu vulkanik yang memapar langit menyebabkan hari dirundung gelap berkepanjangan.

  Tradisi Lebaran Ketupat dan pesan tentang kearifan lingkungan

Begitu dahsyatnya, letusan Gunung Krakatau bahkan terdengar hingga Australia Tengah yang berjarak 3.300 kilometer dari titik ledakan dan Pulau Rodriguez, kepulauan di Samudra Hindia yang berjarak 4.500 kilometer.

Namun tsunami yang disebabkan oleh Krakatau menjadi tsunami vulkanik terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan Krakatau juga memicu terjadinya tsunami besar setinggi 120 kaki. Gelombang inilah yang menelan banyak korban.

2. Kesaksian

Gunung Krakatau (Rifaldi Fauzan/Flickr)

Johanna Beijerinck, istri kontrolir perkebunan Willem Beijerinck di Katimbang, pesisir pantai Lampung Selatan menjadi saksi dahsyatnya letusan Gunung Krakatau. Dalam catatan hariannya terungkap betapa mengerikannya letusan tersebut.

“Aku mendengar suara berisik batu apung yang menimpa atap rumah, di atasnya terdengar suara geledek dari gunung, serupa auman mengerikan, yang kecepatannya hampir menyamai kecepatan cahaya,” kenang Johanna dalam catatannya hariannya dalam buku Ring of Fire yang dimuat Historia.

Kesaksian lain datang dari Ong Leng Yauw, warga Karangantu Banten sebagaimana dikutip dari makalah Romi Zarman menyebutkan letusan Krakatau mengakibatkan gulungan ombak setinggi pohon kelapa yang meluluhlantakan bangunan dan menelan ribuan korban jiwa di daerah Banten.

  3 negara ini ‘langganan’ mengalami gempa, apa penyebabnya?

Ong yang saat itu berusia 14 tahun menuturkan sebelum tsunami terjadi, air surut sehingga banyak orang lari menuju pantai dengan rasa takjub memunguti ikan yang tergeletak menggelepar. Namun setelahnya ombak-ombak datang bergulung-gulung.

“Dan kemudian datang ombak bergulung-gulung setinggi pohon kelapa yang melempar sampai jauh ke tengah daratan.” ujar Ong.

3. Dampak setelahnya

Gunung Krakatau (Haryono ID)

Ong selamat dari terpaan gelombang tsunami karena tersangkut pada sebatang pohon. Saat tsunami surut, dia menemukan seluruh wilayah Karangantu rata dengan tanah, termasuk rumah orang tuanya yang hilang.

Bupati Serang, PAA Djajadiningrat dalam memoarnya menyebutkan salah satu keluarganya juga menjadi korban. Djajadiningrat menyebut pamannya yang bertugas di Anyer kehilangan anak-istrinya akibat tersapu gelombang tsunami Krakatau.

Simon Winchester dalam bukunya Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 menjelaskan letusan Krakatay bukanlah peristiwa alam biasa yang tak hanya mendatangkan akibat lebih jauh dari sekadar kehancuran fisik dan hilangnya jiwa manusia.

Dia juga menimbulkan dampak sosial dan politik bahkan temuan teknologi komunikasi. Sama seperti pendapat Simon, sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebutkan letusan Krakatau merupakan salah satu penyebab terjadinya pemberontakan petani Banten pada 1888.

  Menguak kisah kawanan binatang yang berada di bahtera Nabi Nuh

“Bencana tersebut telah menyebabkan kegagalan panen dan maraknya wabah penyakit yang semakin mengakumulasi kemarahan rakyat pada otoritas kolonial,” tulis Bonne Triyana dalam Bencana Krakatau di Pengujung Agustus 1883.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya