Letusan Tambora, penyebab orang Eropa terpaksa makan kucing dan tikus

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Tambora (merah lintang/Flickr)
Gunung Tambora (merah lintang/Flickr)

Pada 10 April 1815, sekitar 205 tahun lalu, letusan Gunung Api Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelegar ke seluruh dunia. Letusan itu menyebabkan hujan abu vulkanik sejauh 1.300 kilometer dari sumbernya.

Dampak dari erupsi bahkan meluas ke belahan dunia bagian utara. Awan abu dan sulfur dioksida menutupi hampir seluruh Eropa dan menyebabkan tahun tanpa musim panas pada 1816. Namun di balik letusan dahsyat ini, tercipta sebuah peradaban penting, yaitu sepeda.

Lalu bagaimana letusan Tambora memberikan dampak bagi Eropa? Dan apa juga hubungan Tambora dengan penemuan sepeda? Berikut uraiannya:

1. Letusan Tambora

Gunung Tambora (Serba Sembilan/Flickr)
Gunung Tambora (Serba Sembilan/Flickr)

Pada 10 April 1815, Gunung Api Tambora di Pulau Sumbawa, NTB meletus dengan hebatnya. Tak tanggung-tanggung, letusan menyebabkan hujan abu vulkanik sejauh 1.300 kilometer, menyebar bahkan hingga ke penjuru dunia lainnya.

Merujuk pada dokumen Raffles dan Asiatic Journal, Richard B Stothers dalam makalahnya dalam jurnal Science, 15 Juni 1984 mengatakan, gemuruh aktivitas Gunung Tambora pada tanggal itu terdengar hingga kota Makassar (berjarak 380 km), Jakarta (1.260 km), bahkan Maluku (1.400 km).

  Cara orang Jawa membaca pertanda bencana alam

Dalam memoarnya, Raffles mengatakan bahwa gemuruh itu awalnya dikaitkan dengan adanya meriam pada jarak jauh. Kerasnya suara membuat tentara dibariskan di Yogyakarta untuk mengantisipasi serangan pihak lain dan kapal juga dibariskan di pantai mewaspadai kondisi tertentu.

Kabar letusan Tambora juga mencapai Inggris pada November 1815. Media The Times mempublikasikan secarik surat dari seorang pedagang di Hindia Belanda. Dari tulisan itu diketahui adanya sebuah letusan dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kita baru mengalami letusan paling luar biasa yang mungkin belum pernah terjadi di manapun di muka bumi,” tulisnya, seperti dimuat situs sains NewScientist.

2. Berdampak bagi Dunia

Gunung Tambora (Markus Micheler/Flickr)
Gunung Tambora (Markus Micheler/Flickr)

Sejumlah negara ikut terkena getahnya. Materi khususnya berupa partikel debu vulkanik yang terlontarkan ke atmosfer akibat erupsi Gunung Tambora diyakini telah memengaruhi cuaca di seluruh dunia. Musim panas setelah tahun 1815 justru didominasi hujan dan suhu dingin.

Bahkan tahun 1816, dikenal dengan sebutan “Tahun Tanpa Musim Panas” lantaran pada musim panas tahun itu suhu turun 1 hingga 2,5 derajat lebih rendah daripada biasanya. Fenomena alam ini terutama paling dirasakan di sebagian Amerika Utara seperti Kanada dan sebagian besar Eropa Barat.

  Potensi Kopi Gunung Puntang, mengulang kejayaan Java Preanger zaman Belanda

Badai salju melanda New England Juli tahun itu, panen gagal. Eropa juga mengalami kondisi yang sangat parah. Bahan makanan berkurang, orang-orang terpaksa makan kucing dan tikus. Warga Eropa dan sisi timur Amerika Utara mengalami kesulitan tak terbayangkan.

Di belahan dunia lain, efek Tambora juga merenggut ribuan nyawa. Bukan karena letusannya, melainkan akibat epidemi tifus dan kelaparan merata di wilayah Eropa. Rusuh tak terelakkan, rumah-rumah dan toko dibakar dan dijarah.

Tambora bahkan mengubah peta sejarah, 18 Juni 1815, cuaca buruk yang diakibatkan Tambora konon ikut membuat Napoleon Bonaparte kalah perang di Waterloo. Sebuah hari paling pedih bagi dalam sejarah gilang-gemilang Sang Kaisar Prancis.

3. Menciptakan sebuah peradaban

Gunung Tambora (Markus Micheler/Flickr)
Gunung Tambora (Markus Micheler/Flickr)

Erupsi Gunung Tambora memang membuat negara-negara Eropa kalang kabut. Awan abu dan sulfur dioksida menutupi hampir seluruh Eropa. Sepanjang tahun di Eropa menjadi sangat dingin. Gagal panen dan kelaparan massal ada di mana-mana, tak hanya bagi manusia, namun bagi hewan juga.

Seorang pria asal Karlsruhe, Jerman. Baron Karl Von Drais pun mengalami hal serupa. Di titik kesulitan itulah, dia lantas menemukan satu hal yang sampai hari masih digunakan, bahkan menjadi tren yakni sepeda. Sepeda itu memiliki dua roda, setang untuk berbelok, sadel untuk duduk, dan sebuah penopang dada.

  Letusan Gunung Krakatau dan kesaksian bencana di pengujung Agustus 1883

Kegelapan yang menyelimuti Bumi juga menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, Darkness atau Kegelapan karya Lord Byron, The Vampir  atau Vampir karya Dr John Palidori dan novel yang cukup terkenal berjudul Frankenstein karya Mary Shelley.

Cerita Frankenstein ini memang terinspirasi dari perjalanan Mary ketika berada di Swiss pada musim panas 1816. Musim panas yang gelap tanpa sinar matahari, seperti biasanya. Mary bersama Percy Shelly –kelak jadi suaminya– dan penyair Lord Byron berkumpul dan bercerita tentang kisah-kisah hantu.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya