Menapaki jalur legendaris puncak, tempat pejabat kompeni hilangkan penat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Jalur Puncak (yuyayu25/Flickr)

Ketika akhir pekan, puluhan ribu kendaraan merayapi jalur puncak. Sejak era perkebunan awal, Puncak berkembang sebagai tempat pesiar. Bedanya ketika itu kondisi jalanan di Puncak sangatlah buruk.

Pembangunan jalanan Puncak didasarkan sejumlah alasan logis Belanda dalam mengisi koceknya di wilayah pendudukan. Salah satu alasannya kerugian akibat mahalnya ongkos angkut karena buruknya kondisi jalan.

Lalu bagaimana sejarah jalan di Puncak? Dan mengapa tempat ini selalu favorit menjadi kunjungan wisata? Berikut uraiannya:

1. Puncak wisata legenda

Jalur Puncak (didi sadili/Flickr)

Ketika akhir pekan, puluhan ribu kendaraan merayapi jalur puncak. Sejak era perkebunan awal, Puncak, Jawa Barat berkembang sebagai tempat pesiar. Bedanya ketika itu kondisi jalanan di Puncak sangatlah buruk.

Jalur Puncak tersebut merupakan bagian tahap pertama pembangunan Jalan Raya Pos yang diputuskan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 8 Mei 1808. Rute itu meliputi Bogor, Cipanas, Cianjur, Bandung, Sumedang hingga Cirebon.

Dimuat dari Kompas, pembangunannya didasarkan sejumlah alasan logis Belanda dalam mengisi koceknya di wilayah pendudukan. Salah satu alasannya, kerugian akibat mahalnya ongkos angkut karena buruknya kondisi jalan.

  Menelusuri jejak tempat tinggal Wallace ketika berada di Maros

“Perluasan lahan perkebunan kopi dan padi cenderung tak ekonomis,” tulis Ingki Rinaldi dalam Puncak, seperti Enggan Beranjak.

Disebutkan oleh Ingki, buruknya kondisi jalan di antaranya digambarkan anggota Dewan Hindia, Radermacher yang mengelilingi Gunung Gede ditandu melewati Puncak Pass lalu ke Cianjur dan Sukabumi dan balik ke Bogor dan Jakarta.

“Sekarang kami sudah mengelilingi gunung itu, tetapi yang kami lihat hanyalah kemiskinan dan penderitaan. Pegunungannya pun sepertinya selalu dalam kondisi seperti itu sehingga saya tidak bisa sekalipun merekomendasikan perjalanan ini kepada siapa pun,” tulisnya dalam The Dutch Colonial System in the East Indies.

2. Potensi perkebunan kopi

Jalur Puncak (ahadi januar/Flickr)

Diperkenalkannya komoditas kopi membuat Priangan bisa berkompetisi dengan Sri Lanka pada akhir abad ke 18. Karena itulah kawasan Priangan menjadi pemasok penting sekalipun menghadapi beratnya medan.

Karena itulah Jalan Raya Pos seperti disebutkan dibangun dengan memperlebar jalan desa. Tetapi tantangan terberat muncul pada segmen Cisarua-Cianjur melalui Megamendung. Ruas itu membutuhkan 400 pekerja dari Jawa.

  Keindahan alam Hindia Belanda yang lahirkan sebuah aliran seni lukis

“Itu bagian terbesar jumlah orang yang dipekerjakan dari total 1.100 pekerja yang dikerahkan membangun jalan mulai Bogor ke Cirebon,” jelasnya.

Potensi besar kawasan itu sebagai perkebunan berlanjut hingga abad ke 20. Belakangan, didirikan perkebunan Gunung Mas yang membudidayakan teh di Kecamatan Cisarua yang kini berada di bawah pengelolaan PTPN VIII.

Sejumlah catatan menyebutkan sepanjang 1950 hingga 1960 an, keasrian Puncak dengan ruang terbuka hijau mudah ditemukan. Pembangunan berbagai jenis penginapan, termasuk vila dan hotel pun dimulai 1970-an.

3. Meniru Belanda

Jalur Puncak (yuyayu25/Flickr)

Peneliti Pusat Sumber Daya Regional LIPI, Saiful Hakam mengatakan pola rekreasi dan keputusan membangun vila dan berbagai jenis penginapan di Puncak adalah duplikasi kebiasaan bangsa Belanda.

“Konsep pelesiran orang Belanda dalam mencari kawasan berhawa sejuk dilakukan untuk mendekatkan diri dengan kondisi negara asal mereka,” jelasnya.

Pusat pemerintahan di Jakarta yang berhawa panas dan lembab membuat kerinduan pada kesejukan membesar. Konsep itu kemudian ditiru, sebuah tempat peristirahatan dibangun senyaman mungkin, seperti bungalo atau vila di kawasan dataran tinggi.

  Stegodon, hewan purba yang tercatat pernah hidup di wilayah Indonesia

Sejumlah institusi negara ataupun swasta membangun wisma atau rumah peristirahatan, pusat pendidikan, dan latihan di kawasan Puncak. Bangunan dengan sejumlah fungsi itu relatif mudah di temukan di sepanjang Jalan Raya Puncak.

“Ini konsep titirah (sebagian orang) setelah kerja keras,” ucap Saiful.

Sejak itu, kawasan Puncak menjadi magnet warga Jakarta untuk pelesiran. Jalur sekitar 22 kilometer berkontur menanjak, membentang mulai Simpang Gadog hingga Puncak Pass, dipenuhi penginapan, rumah makan, dan bisnis lain.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya