Mengenang manisnya pabrik gula yang bawa kejayaan bagi Situbondo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi Pabrik Gula (Ya, saya inBaliTimur/Flickr)

Dua abad yang silam, Situbondo pernah mengalami masa keemasan. Hal ini karena perkembangan agrobisnis sekitar tahun 1830 yang sangat menonjol dibuktikan dengan pembangunan beberapa pabrik gula di Kabupaten Situbondo.

Setidaknya ada lima pabrik gula yang terdaftar di Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Situbondo. Dari lima PG tersebut, dua di antaranya sudah mengalami gulung tikar.

Lalu bagaimana sejarah pabrik gula di Situbondo? Dan mengapa kejayaan tersebut kini menurun? Berikut uraiannya:

1. Pabrik gula di Situbondo

Ilustrasi Pabrik Gula (Susilo Widakdo/Flickr)

Dua abad yang silam, Situbondo pernah mengalami masa keemasan. Hal ini karena perkembangan agrobisnis sekitar tahun 1830 yang sangat menonjol dibuktikan dengan pembangunan beberapa pabrik gula di Kabupaten Situbondo.

Karena itulah Kabupaten Situbondo tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri, tetapi juga layak dijuluki Kota Gula di Pulau Jawa. Karena pada masa kejayaannya, hampir setiap kecamatan di kota ini terdapat pabrik gula.

Dimuat dari Radar Banyuwangi, setidaknya ada lima pabrik gula yang terdaftar di Dinas di Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Situbondo. Yakni PG Geemas, PG Wringinanom, PG Olean, PG Pandjie dan PG Asembagus.

  Burung hud hud, pembawa informasi Nabi Sulaiman yang jadi simbol negara Israel

Kejayaan industri gula ini sudah terlihat dari masa kepemimpinan Raden Prawirodiningrat 1 di tahun 1830, kekuasaannya selanjutnya selanjutnya diganti oleh Raden Prawirodiningrat II yang terjadi perkembangan ekonomi yang sangat menyolok.

“Saat itu pada zaman kekuasaan Raden Prawirodiningrat II, Kota Santri ini dibawa menjadi pusat perkembangan ekonomi yang sangat mencolok dengan berdirinya PG-PG,” ucap Kadiskoperindag Situbondo, Nugroho.

Bahkan karena jasanya itu, pemerintah Belanda memberikan hadiah ke Prawirodiningrat II berupa kalung emas dengan bandul singa. Wilayahnya pun cukup luas hingga sampai ke daerah Probolinggo.

2. Alasan pilih Situbondo

Lokomotif Pabrik Gula (Joachim Lutz/Flickr)

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Muhammad Arum Sabil menyebut besarnya potensi Situbondo untuk industri gula. Hal inilah yang menyebabkan Belanda memilih kota ini sebagai pusat pengolahan tebu.

“Di Situbondo ini potensinya sangat bagus, karena indikasi geografis di sini sangat cocok untuk tanaman tebu. Inilah yang menjadi alasan Belanda mendirikan enam pabrik gula di Situbondo,” ujarnya yang dimuat Liputan6.

Sofyan Hadi, salah satu pemuda asal Situbondo mengungkapkan bahwa Belanda sebenarnya paham dengan potensi Situbondo. Pendirian pabrik gula itu juga menyokong pengembangan bisnis kopi di kawasan Gunung Ijen termasuk daerah Kayumas Situbondo.

  Keindahan alam Hindia Belanda yang lahirkan sebuah aliran seni lukis

Namun seiring perkembangan zaman, sedikit demi sedikit, kejayaan PG yang ada di Kota Santri mulai meredup. Hal ini karena banyaknya persaingan. Terbukti dari lima PG yang ada, dua di antaranya sudah gulung tikar, karena tidak produksi lagi.

Selain karena persaingan, minimnya bahan baku produksi juga menjadi penyebab sejumlah PG di Situbondo gulung tikar. Walau pabrik gula ini merupakan warisan zaman Belanda, tentunya persaingan tidak bisa dihindarkan.

“Kita tidak pernah menyalahkan persaingan bisnis antar perusahaan, karena memang itu hal yang wajar dalam dunia industri,” jelasnya.

3. Jadi tempat wisata

Lokomotif pabrik gula (Joachim Lutz/Flickr)

Kini walau sudah tutup, potensi wisata pabrik gula di Situbondo masih sangat menjanjikan. Salah satunya tujuan wisata adalah PG Olean yang merupakan salah satu pabrik gula tertua di Hindia Belanda.

PG Olean terakhir menjadi milik Fa.Anemaet & Co. Ketika Indonesia merdeka, kepemilikan pabrik diambil alih pemerintah Indonesia dengan nama Pusat Perkebunan Negara. PG Olean pun dinilai sangat strategis oleh kalangan perusahaan wisata.

  Potensi Kopi Gunung Puntang, mengulang kejayaan Java Preanger zaman Belanda

“Rata-rata wisatawan mancanegara datang dari Surabaya, tujuannya ke Bromo, lalu ke Banyuwangi. Di PG Olean nanti bisa mampir, karena searah,” kata Dyah Ayu Tisnawati, CEO Biro Perjalanan Wisata Bayu Citra Persada yang dimuat Kompas.

Dirinya menyambut baik bila PTPN XI mengembangkan PG Olean sebagai destinasi wisata pabrik gula, karena selama ini di Jawa Timur belum ada wisata semacam itu. Tetapi dirinya mendorong agar objek wisata itu dikemas secara profesional.

Samuel Mahendra, seorang pegawai keuangan PG Olean menjelaskan bahwa selama ini semua pengunjung adalah wisatawan mancanegara khususnya dari Belanda. Mereka hanya ingin bernostalgia mengelilingi kebun tebu dengan lokomotif uap.

“Mereka hanya bernostalgia, bahwa bangsanya dulu adalah pendiri pabrik gula dan berkeliling kebun tebu dengan kereta lokomotif uap,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya