Menjelajahi Gunung Sinai, tempat Nabi Musa bertemu Allah SWT

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Sinai (shahida hanifah/Flickr)
Gunung Sinai (shahida hanifah/Flickr)

Gunung Sinai atau disebut juga Gunung Musa yang terletak di Semenanjung Sinai, Mesir. Gunung ini memiliki nilai sejarah dan spritual yang diyakini oleh umat Muslim, Yahudi, dan Kristen. Di tempat itulah, Nabi Musa AS berbicara dengan Allah SWT secara langsung.

Gunung Sinai berdiri setinggi 2.285  meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi ini berada di wilayah kekuasaan Israel pada 1967 – 1979 setelah perang enam hari (Six Day War). Gunung Sinai atau Bukit Tursina kemudian dikembalikan pada Mesir dan dibuka bagi masyarakat umum.

Lalu bagaimana sejarah gunung ini sehingga populer di tiga agama? Lalu benarkan lokasi gunung ini sudah tepat? Berikut uraiannya:

1. Gunung Sinai dan untaian sejarah

Gunung Sinai (Abdullah Taher/Flickr)
Gunung Sinai (Abdullah Taher/Flickr)

Baik Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki ikatan spritualitas akan kisah Nabi Musa di Gunung Sinai. Di Gunung Sinai, Nabi Musa mendapatkan salah satu mukjizat ketika memimpin orang-orang Ibrani keluar dari Mesir dan membelah laut merah.

Nabi Musa juga pernah pergi ke Gunung Sinai dan menetap di sana selama empat puluh malam untuk menerima wahyu yang berupa 10 Perintah Allah SWT (The Ten Commandements). Saat itu dirinya dapat berbicara langsung kepada Allah tanpa perantara.

  Kisah gemilang salak pondoh yang kini namanya meredup

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” surat An Nisa (164). 

Setelah umat Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir dengan perantaraan Nabi Musa, Allah membuat perjanjian di Gunung Sinai. Perjanjian ini menjadi dasar kehidupan beragama dan sosial bagi suku Israel. Perjanjian di Gunung Sinai ini mengikat tidak hanya kepada Musa, tetapi semua orang Israel. 

2. Menjadi tempat wisata

Gunung Sinai (bridgeriddell/Flickr)
Gunung Sinai (bridgeriddell/Flickr)

Gunung Sinai telah menjadi tujuan bagi banyak peziarah sejak abad keempat sebelum Masehi. Selain peziarah, gunung yang mempunyai sejarah panjang ini juga menjadi tujuan para turis dari berbagai macam negara. Turis biasanya datang untuk menikmati pemandangan di sekitar gunung.

Peziarah atau turis biasanya mendaki ke puncak gunung ini. Bebatuan terdiri dari berbagai macam tipe batuan granit dan batuan vulkanik. Waktu yang tepat untuk memulai pendakian adalah pada jam 2 dini hari sehingga menyaksikan panorama keindahan matahari terbit.

Ada dua jalur berbeda yang bisa digunakan untuk pendakian. Jalur pertama lebih panjang yang bisa dilalui dengan berjalan kaki atau naik unta.

  5 pertanda alam ketika malam 'lailatul qadar' datang

Di ujung jalurnya, pendaki masih harus menaiki 750 anak tangga. Jalur kedua lebih cepat tetapi pengunjung harus melalui 3.750 anak tangga yang biasa disebut sebagai “Tangga Pertobatan”.

Disebut demikian karena anak tangga ini konon dibuat oleh seorang biarawan sebagai bentuk pertobatan. Di puncaknya, terdapat sebuah masjid kuno yang dibangun pada abad ke 12 dan juga sebuah kapel yang dibangun pada 1934.

Di kaki gunung ini juga terdapat biara Santa Katarina yang merupakan biara tertua di dunia. Santa Katarina dibangun pada sekitar 548-565 sebelum Masehi, dan merupakan bagian dari gereja ortodoks. Saat ini, Santa Katarina telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

3. Benarkah di Mesir?

Gunung Sina (Jonathan Astin/Flickr)
Gunung Sina (Jonathan Astin/Flickr)

Versi kepercayaan Yahudi, Gunung Sinai dipercaya berada di sekitar Mesir. Sementara versi Islam tidak menyebut tepatnya letak gunung tersebut. Tetapi sebuah dokumen yang bedasarkan sumber-sumber dari Kristen, Yahudi, dan Islam, lokasi gunung ini dipercaya terdapat di barat daya Arab Saudi.

Sejumlah arkeolog yang tergabung dalam riset Doubting Thomas Research Foundation (DTRF) mengklaim bahwa Gunung Sinai disebut berada di Jabal Maqla. Sementara itu analis kemanan nasional, Ryan Mauro menuding pemerintah Arab Saudi telah berusaha menyembunyikan lokasi Gungung Sinai dari seluruh dunia.

  Gara-gara krisis air bersih, Batavia diserang wabah kolera pada abad 19

Sejumlah analis percaya Jabal Maqla, salah satu gunung tertinggi di jazirah Arab. Selain itu, dirinya juga menduga telah menemukan Elam, oasis tempat Musa dan Israel menemukan air setelah melintasi Laut Merah menuju Gunung Sinai.

“Pikiran betapa banyak hal yang sejalan dengan isi Alkitab di sini di gunung ini,” katanya yang dinukil dari Tempo.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya