Misteri ritual aneh di Gunung Sanggabuana yang mengancam lingkungan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sanggabuana (Arif Tesgi/Flickr)

Setiap malam 1 Suro, masyarakat banyak melakukan beragam ritual. Tidak hanya dilakukan secara normal, tetapi juga ada yang terkesan aneh, seperti membuang celana dalam dan kutang. Ritual ini banyak dilakukan di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.

Tradisi ini bertahan hingga kini walau meresahkan warga sekitar. Masyarakat sempat menghancurkan makam-makam yang dipercaya keramat oleh para peziarah, namun tetap saja ritual ini terus berlangsung. Ritual ini bahkan bisa merusak lingkungan.

Lalu bagaimana tradisi ini muncul? Dan apa dampaknya terhadap lingkungan?

1. Ritual Gunung Sanggabuana

Sanggabuana (Arif Tesgi/Flickr)

Pada 2011 silam, video berdurasi 59 detik menghebohkan warganet karena memperlihatkan tiga orang yang tengah mengumpulkan celana dalam dan kutang di Gunung Sanggabuana. Banyak warganet yang heran dengan kelakukan para peziarah yang membuang celana dalam di kawasan pegunungan tersebut.

Dimuat dari Solopos yang diwartakan dari akun Instagram @info_Karawang, ritual membuang celana dalam ini dilakukan ketika bulan Maulid atau Rabiul Awal. Ritual buang celana dalam di Pegunungan Sanggabuana ini diyakini dapat membuang sial.

  Ragam cerita sejarah Sungai Ciliwung, sumber kehidupan masyarakat Jakarta

Para pendaki pun menemukan celana dalam tersangkut di semak belukar pegunungan. Ketika dikumpulkan jumlahnya sangat banyak dan mencapai satu karung. Bahkan dahulu para warga dan pendaki bisa menemukan hingga 10-20 karung tumpukan celana dalam.

Ahmad Abdul Karim, warga setempat mengaku tidak heran dengan fenomena para peziarah tersebut. Baginya, fenomena itu adalah kepercayaan para peziarah yang sengaja datang ke Gunung Sanggabuana untuk melakukan ritual tertentu.

“Jadi kalau ada orang luar yang mandi di air terjun, dia harus membuang pakaian dalamnya. Kalau perempuan buang celana dalam dan bra, kalau laki-laki hanya celana dalam saja. Tujuannya membuang sial, soalnya mandi di tempat keramat. Di beberapa daerah di Loji ada juga yang melakukan itu,” kata Karim yang dimuat Kumparan.

2. Bertarif mahal

Gunung Sanggabuana (Indonesia Nature Conservation/Flickr)

Budayawan Karawang, Asep Sundapura menjelaskan bahwa ritual yang dilakukan para peziarah mengalami pergeseran tempat. Dahulu, ritual buang pakaian dalam pernah dilakukan di Curug (air terjun Cigentis, bukan di Puncak Gunung Sanggabuana.

Sedangkan di puncak Sanggabuana, jelasnya, baru mulai ditemukan sejak tahun 2000 awal, ketika menjamurnya kuburan-kuburan yang ada di sana. Diketahui para peziarah akan membuang kutang juga celana dalam selepas berdoa di makam juga petilasan yang ada di Gunung Sanggabuana.

  Tradisi Karapan Sapi, simbol kebanggaan masyarakat Madura

Sementara itu Ketua Ekspedisi Flora dan Fauna Pegunungan Sanggabuana, Bernard T Wahyu juga menemukan 4 mata air yang dipercaya sebagai tempat keramat, yakni Pancuran Mas, Pancuran Kejayaan, Pancuran Kahirupan, dan Pancuran Sumur Tujuh.

Hal yang aneh bagi Bernard, para peziarah pun akan dikenakan tarif ketika ingin melakukan ritual. Para kuncen akan memandu para peziarah ini dengan membayar Rp250 ribu rupiah untuk memandu ritual dan ubo rampe. Karena adanya fenomena ini, warga lokal sempat membongkar makam itu.

Namun seiring berjalanya waktu, ritual ini kembali muncul. Sedangkan oknum yang mengaku kuncen, disebut Bernard ternyata bukan berasal dari warga sekitar. Musababnya setelah makam-makam itu dibongkar, kuncen warga lokal sudah tidak ada lagi di tempat wisata tersebut.

3. Merusak lingkungan

Sanggabuana (Ucrite Blackcat/Flickr)

Ritual membuang celana dalam dan kutang di Gunung Sanggabuana memang telah meresahkan warga sekitar. Pasalnya, aktivitas ini justru bisa mengancam lingkungan gunung karena mengotori kawasan alam ini. Bernard menyebut sebagian orang yang mengaku kuncen ini hanya meraup keuntungan tetapi mengancam lingkungan.

  Mengenal makna dan filosofis 'Leuit Si Jimat' bagi masyarakat kasepuhan adat

Pasalnya sampah pakaian dalam akan mengotori aliran air. Dijelaskannya, ketika pengunjung dari berbagai kalangan dan daerah datang, kemudian berharap berkah dari pancuran air, tetapi tidak sedang dalam kondisi sehat tentunya berpotensi menyebarkan penyakit menular.

Sedangkan perihal ritual buang celana dalam dan kutang, tim SFC dan pegiat alam lainnya sering melakukan operasi bersih (opsih) celana dalam dan kutang. Tetapi mereka memang harus bekerja keras untuk membersihkannya. Karena itu dirinya meminta agar pemerintah setempat untuk turun tangan agar menertibkan ritual ini.

“Bagi kami Pemkab harus segera turun tangan untuk menertibkan ritual buang celana dalam ini dan kuncen-kuncen juga makom-makom perlu didata apakah benar atau sebenarnya bukan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya