Mitos singa barong dan nagareja yang melindungi kawasan Pegunungan Kendeng

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Hutan Blora (abram mercy/Flickr)

Lantunan tembang Dangdanggulo berisi ajakan menyelamatkan Pegunungan Kendeng dan mewaspadai kebijakan pemerintah yang tidak pro lingkungan hidup mengawali pentas Barongan Gembong Samijoyo dengan lakon Geger Nusa Kendeng.

Bagi masyarakat Pegunungan Kendeng, terutama di Blora, Singa Barongan merupakan pelindung hutan jati, Adapun Nagaraja adalah pelindung Pegunungan Kendeng. Masyarakat juga percaya kalau Pegunungan Kendeng yang memanjang dari Kudus-Tuban adalah tubuh Nagaraja sendiri.

Lalu bagaimana mitos ini telah melindungi alam di Pegunungan Kendeng? Dan apakah masih berfungsi untuk melawan kepentingan investasi? Berikut uraianya:

1. Legenda Barongan dan Nagaraja

Petani kendeng (Andreas Sitorus/Flickr)

Tembang Dandanggulo berisi ajakan menyelamatkan Pegunungan Kendeng dan mewaspadai kebijakan pemerintah yang tidak prolingkungan hidup, biasanya mengawali pentas Barongan Gembong Samijoyo dengan lakon “Geger Nusa Kendeng”.

Kisah ini bercerita tentang Prabu Sengkolegeni, penguasa Jawa Tengah yang menginginkan negeri dan masyarakat makmur sejahtera. Bersama Patih Bujangkalong dan Untub, Sengkologeni menyepakati Pegunungan Kendeng menjadi daerah pertambangan karena dapat meningkatkan pendapatan kerajaan dan membuka lapangan kerja.

Tetapi mereka mendapati penolakan dari Warok Randugunting, penguasa Pegunungan Kendeng. Warok yang kesehariannya bekerja sebagai petani, terpaksa angkat senjata. Bersama Gendruwo dan perempuan desa bernama Gainem, dia mengajak Singa Barong dan Nagaraja memerangi Sengkologeni.

  Legenda Jaka Tarub dan cara warga memuliakannya dengan menjaga alam

Bagi masyarakat Pegunungan Kendeng, terutama di Blora, Singa Barong merupakan pelindung hutan jati. Adapun Nagaraja adalah pelindung Pegunungan Kendeng. Masyarakat juga percaya kalau Pegunungan Kendeng yang memanjang dari Kudus-Tuban adalah tubuh Nagaraja sendiri.

Lakon berakhir dengan kemenangan Warok Randugunting. Dia menyerahkan Prabu Sengkologeni ke pengadilan rakyat yang dipimpin Mbah Wo. Sosok ini bersama rakyat kemudian menggantung Sengkologeni dan pengikutnya atas tindakannya selama ini.

“Melalui lakon itu, kami ingin merefleksikan tarik-ulur antara pemerintah dan masyarakat tentang nasib Pegunungan Kendeng,” kata Iwan Sekend, Wakil Koordinator Barongan Gembong Samijoyo yang dimuat dalam Pelestarian Alam dalam Tradisi Masyarakat Kendeng yang diterbitkan Kompas.

2. Mitos Singa Barong dan Nagaraja

Desa kendeng (Ian Duffield/Flickr)

Puluhan anak biasanya akan memakai topeng naga dan barongan sat bermain di antara batu kapur dan pepohonan jati di lereng Pegunungan Kendeng. Sesekali wajah topeng mereka berhadapan dan diadu. Mereka yang terdesak akan bersembunyi untuk mengatur strategi dan melawan kembali.

Itulah salah satu permainan tradisional nagaraja dan barongan. Permainan ini menunjukan pertarungan naga atau nagaraja dan singa barong yang merupakan mitos masyarakat di lereng Pegunungan Kendeng Utara. Dipercaya mereka akan marah jika keseimbangan alamnya terusik.

  Pesona Gua Pancur, keindahan batuan dari sumber mata air Pegunungan Kendeng

“Kalau Pegunungan Kendeng terus diusik, Nagaraja akan bangun dan menghakimi mereka yang merusak tempat tinggal tersebut. Begitu pula jika hutan dijarah habis-habisan, singa barong akan mengejar penjarahnya. Demikian pesan pelestarian alam yang dikisahkan turun-temurun. Sayangnya, kisah itu jarang terdengar dan bergaung lagi,” papar Punky Adi Sulistyo, seniman patung kayu dan batu pegunungan Kendeng Utara.

Pesan pelestarian alam itu muncul karena Pegunungan Kendeng Utara merupakan ruang yang menghidupi masyarakat di kawasan pegunungan dan karst yang menyimpan potensi alam sangat besar, terutama air. Namun sebagai ruang hidup, kawasan ini terusik dengan rencana pembangunan pabrik semen, batu gambing dan kapur.

Menurut aktivis Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Kajian Budaya dan Lingkungan Pasang Surut Blora kisah naga dan singa barong itu sekarang tak lagi berupa mitos dan simbol keseimbangan lingkungan, tetapi mencerminkan masyarakat Pegunungan Kendeng Utara yang menjaga keseimbangan alam.

“Potensi Pegunungan Kendeng Utara itulah yang jadi alasan sebagian besar masyarakat untuk mempertahankan tanah air sumber hidup mereka sebagai ruang kehidupan abadi,” paparnya.

  Era awal warung kopi, munculkan kontroversi dan menjadi musuh negara

3. Potensi dari alam

Tradisi kendeng (Huda Dwi Sakti Muhamad/Flickr)

Pada konteks seni, patung di Blora bahkan sering memadukan dua material yakni bentuknya gembol (akar jati atau bonggol pohon jati) yang membelit batuan karst Kendeng. Gembol itu memanifestasikan potensi hutan sedangkan batu mengibaratkan potensi Pegunungan Kendeng.

Tak sedikit warga menggantungkan hidup dari hasil hutan, semisal dari mencari daun jati. Daun jati termasuk barang serbagua yang banyak dimanfaatkan. Biasanya perempuan-perempuan  mengggendong daun jati dengan obor di tangan. Dalam sehari mereka bisa mendapatkan uang Rp40.000 РRp50.000.

Ada juga sebagian masyarakat yang menggantungkan hidup dari mencari rencekjati. Rencekjati diambil dari ranting pohon yang sudah kering. Warga menjualnya ke pasar atau ke perajin batu bata atau genting. Dalam sehari mereka bisa meraup uang Rp50.000 РRp100.000. 

Sebagian masyarakat juga ada yang menggantungkan hidup dari menanam palawija dan empon-empon di selasela pohon jati. Yang cukup menjanjikan adalah kelompok masyarakat yang mengolah kayu jati menjadi mebel atau barang kerajinan.

“Hasil olahannya berbentuk barang kebutuhan rumah tangga, barang seni (ukir dan pahat), dan cenderamata,” papar Sunaryo dalam Nilai Ekonomi “Napas” Blora.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya