Napak tilas perkebunan teh Malabar, warisan Bosscha yang mendunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Perkebunan Teh Malabar (Eri Palgunadi/Flickr)

Sebagian besar masyarakat Bandung mungkin sudah tidak asing dengan keberadaan Perkebunan Teh Malabar di Pengalengan. Tetapi masih sedikit yang mengetahui mengenai sejarah dan berbagai kisah tentang keberadaan perkebunan zaman Hindia Belanda ini.

Perkebunan ini didirikan pada bulan Agustus 1896 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pebisnis sukses berkebangsaan belanda. Perkebunan milik Bosscha ini menjadi kebun teh tertua di Pengalengan yang kemudian hari diikuti perkebunan teh lainnya seperti Kertamah, Pasir Malang, Purbasari, Santosa, Talun, dan Sedep.

Lalu bagaimana sejarah Perkebunan Teh Malabar? Dan bagaimana juga kondisinya kini? Berikut uraiannya:

1. Sejarah perkebunan teh

Perkebunan teh malabar (iq ronaldo/Flickr)

Bosscha pertama kali tiba di Hindia Belanda pada tahun 1887. Awalnya dirinya bekerja untuk sang paman, Edward Julius Kerkhoven di sekitar Sukabumi. Sembilan tahun kemudian, Bosscha mendirikan perkebunan teh miliknya sendiri yang diberi nama Perkebunan Teh Malabar.

Nama Malabar konon berasal dari bahasa Arab. Kata “mal” berarti uang dan “abar” yang berarti sumur atau sumber. Memang, sejak dari zaman Bosscha hingga kini Kebun Teh Malabar tetap menjadi tambang uang bagi PT Perkebunan XIII.

  Kisah semua benteng di Ternate yang dibangun demi lindungi cengkeh

Bosscha tidak merasa kesepian hidup di Malabar kendati membujang hingga akhir hayatnya. Saking, cintanya kepada Malabar, Bosscha pun berwasiat agar dikebumikan di lokasi perkebunan teh yang kini luasnya mencapai 1.300 hektare ini.

Di puncak Kebun Teh Malabar yang tingginya sekitar 2.000 meter dari permukaan laut, terdapat vista point atau titik pemandangan yang berbentuk saung. Di sanalah konon Bosscha kerap menghabiskan kesendiriannya sambil minum teh.

Malabar memang sangat mempesona, layaknya permadani hijau yang membentang. Dari sana pula Bosscha setiap hari bisa memandang keindahan kota Bandung. Di puncak itu pula kini masih berdiri kokoh rumah Bosscha yang terawat dengan cukup baik. 

2. Perkebunan teh terbaik di dunia

Tower di Malabar (iq ronaldo/Flickr)

Selama 32 tahun, Bosscha bertindak sebagai administratur pabrik dari 1896 sampai 1928. Dirinya mengelola pabrik dua pabrik teh yang merupakan pelengkap dari perkebunan Teh Malaabar, selain rumah-rumah untuk pekerja perkebunan, sekolah rakyat dan rumah tinggal Bosscha.

Untuk penerangan sekaligus menggerakkan mesin pabrik, didirikan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Cilaki dengan memanfaatkan sumber air Sungai Cilaki. Sungai ini merupakan anak sungai Cisangkuy yang bermuara di Sungai Citarum.

  Mengapa masakan masyarakat Jawa identik dengan rasa manis?

Disebutkan untuk kelancaran pekerjaan perkebunan, dia selalu menggunakan mesin tercanggih yang bisa didapatkan saat itu. Salah satu mesin dalam proses produksi ini merupakan ciptaan Bosscha sendiri, yakni mesin pelayu (dengan mekanik ban berjalan), untuk menggerakannya diperlukan tenaga listrik sebesar 300 hp (=221 kw).

Karena berbagai kecanggihan tersebut, hasil dari kedua perkebunan ini merupakan yang terbesar di dunia saat itu (1910), produksinya sekitar 1.200.000 kg/tahun terdiri dari 5 tingkatan kualitas. Semua ini dikerjakan oleh 12 staff orang Eropa dan lebih dari 3.000 karyawan pribumi.

Karena kesuksesan inilah, Bosscha dikenal sebagai Raja Teh Priangan. Produk unggulannya adalah jenis teh hitam yang melalui proses oksidasi sempurna sehingga menghasilkan rasa dan warna khas. Bahkan, hingga saat ini, produk dari pabrik teh Malabar bisa dijumpai di beberapa negera Eropa.

3. Menjadi tempat wisata

Rumah Bosscha (iq ronaldo/Flickr)

Perkebunan Teh Malabar tentunya tidak boleh absen dikunjungi ketika berlibur ke kota Bandung. Keindahan alam di sini sudah tidak diragukan lagi. Sepanjang jalan para wisatawan akan disuguhi pemandangan karpet hijau yang terbentang di kanan-kiri jalanan.

  Teh kejek: teh injak legendaris yang berasal dari Swiss van Java

Bukan hanya kebun teh, namun suguhan hutan pinus, hamparan kebun sayur, perbukitan landai curam dan sejuknya udara. Tidak jarang pula akan terlihat aktivitas warga setempat yang sedang memetik teh. Pemandangan ini tentu memanjakan setiap mata yang menemukannya.

Di sini, wisatawan juga bisa mengunjungi rumah dan makam Bosscha dengan membayar Rp5.000 atau melakukan wisata edukasi ke pabrik teh Malabar dengan membayar Rp15.000. Bila ingin menginap, tempat wisata ini juga menyediakan villa yang diberi nama Villa Bosscha.

Villa ini dikenakan biaya kamar per malam antara Rp750 ribu – 1 juta. Ada juga guest house dengan harga Rp450-500 ribu per malam. Sedangkan ada beberapa kamar yang memang hanya bisa disewakan kepada tamu khusus, seperti pejabat, menteri, dan lain-lain.

Berbagai aktivitas bisa dilakukan di sini, mulai dari menjelajah kebun teh, hunting foto, maupun camping. Tidak kalah menarik, wisatawan bisa melihat milky way atau galaksi Bima Sakti yang sangat indah di malam hari dari tempat ini.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya