Nineveh, kota kuno pertama dan termegah di dunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Niveneh (lachicaphoto/Flickr)

Penelitian tim arkeolog mendapati Nineveh sebagai kota kuno terbesar dan paling maju di dunia. Hal ini berdasarkan hasil penelitian tim arkeolog University of Pennsylvania AS yang menemukan petunjuk bagaimana kehidupan orang Assyria di Kota Nineveh.

Nineveh menjadi kota yang paling penting dalam peradaban Mesopotamia pada abad ke 14 hingga 7 sebelum Masehi (SM) yang sekarang merupakan wilayah Irak dan juga sebagian wilayah Turki.

Lalu bagaimana para arkeolog menjelaskan tentang penemuan ini? Dan benarkan Nineveh adalah kota tertua di dunia? Berikut uraiannya:

1. Nineveh kota penting

Nineveh (Treasure Lee/Flickr)

Penelitian tim arkeolog mendapati Nineveh sebagai kota kuno terbesar dan paling maju di dunia. Hal ini berdasarkan hasil penelitian tim arkeolog University of Pennsylvania AS yang menemukan petunjuk bagaimana kehidupan orang Assyria di Kota Nineveh.

Nineveh menjadi kota yang paling penting dalam peradaban Mesopotamia pada abad ke 14 hingga 7 sebelum Masehi (SM) yang sekarang merupakan wilayah Irak dan juga sebagian wilayah Turki.

Dimuat dari Detik, kota kuno tersebut masih ada hingga saat ini di Mosul, sebelah utara Irak, tepatnya sisi timur Sungai Tigris. Selama sekian dasawarsa, kota tersebut menjadi ibu kota sekaligus kota terbesar di Kerajaan Assyria baru dan dunia.

  Hikayat pohon gharqad, pelindung kaum Yahudi pada akhir zaman

Sementara itu penemuan ukiran pada batu tersebut dinilai dapat mengungkap apa yang selama ini diketahui oleh arkeolog. Usia ukiran ini sendiri mencapai 2.700 tahun. Ukuran ini menggambarkan taktik militer bangsa Assyria.

“Temuan ini memperkaya data dan pemahaman terhadap sejarah Assyria Baru di Mesopotamia kuno. Kami takjub dengan konservasi dari temuan bersejarah dan langka ini,” ungkap Direktur Museum Penn dari Professor Humaniora University of Pennsylvania AS, Christopher Woods.

2. Sejarah kota Nineveh

Nineveh (lets.book/Flickr)

Sejarah kota ini bermulai dari dewi perang dan cinta Mesopotamia, Ishtar. Sekitar tahun 6.000-3.000 SM, Nineveh menjadi tempat penting untuk menyembah Ishtar. Bahkan kota ini dijuluki sebagai Rumah Ishtar.

“Para peneliti meyakini bahwa sekitar 1813 SM, bangsa Assyria mulai berkuasa di kota tersebut. Kemudian raja Assyria baru menjadikan kota itu sebagai pusat perdagangan.”

Sementara itu pada masa Raja Sennacherib, kota tersebut menjadi ibu kota Kerajaan Assyria. Terutama untuk menjaga dari serangan musuh, Sennacherib membangun tembok di sekeliling kota sepanjang puluhan kilometer.

  Hari Bumi dan sosok perempuan sebagai penjaga kemakmuran lingkungan

Selain itu, dia juga membangun monumen, gerbang utama, istana, hingga kuil. Selama sekitar lima dasawarsa, kota itu menjadi yang terbesar dan paling spektakuler di dunia. Selain menjadi kota pusat agama dan budaya Mesopotamia.

“Bahkan, beberapa sejarawan mempercayai bahwa salah satu dari tujuh keajaiban kuno, Taman Gantung, didirikan di Nineveh.”

3. Tumbangnya kota purba

Niveneh (lachicaphoto/Flickr)

Kota Nineveh diperkirakan tumbang pada tahun 612 SM. Semua kegemilangan itu berakhir secara mendadak setelah Raja Babilonia, menaklukan Nineveh. Kejatuhan ini digambarkan sebagai peristiwa yang menggemparkan dunia purba.

Kerajaan Assyria memang mulai goyah selepas kemangkatan Raja Assurbanipal pada tahun 631 SM, tahun di mana warga Babilon memerdekakan diri. Sekitar 627 SM, Nabopolassar dari Babilon menghancurkan Assyria.

Peristiwa ini menandakan bermulanya sejarah Kerajaan Babilonia yang berkepanjangan hingga ke tahun tumbangnya Nineveh. Walau ketika itu sudah berkuasa, Nabopolassar tetap juga menghapuskan kota-kota penting,

Serangan Raja Babilonia ini menewaskan pasukan Assyria di tebing Sungai Furat di selatan Haran. Namun tidak lama kemudian, dirinya mundur karena ada bantuan pasukan dari Mesir yang kian menghampiri kedudukannya.

  Akuaduk Segovia, saluran air kolosal Romawi yang dibangun dengan bantuan gravitasi

Nabopolassar kemudian melakukan perjanjian dengan Raja Mendes. Putra mahkotanya Nebukadnezar dinikahkan dengan Amytis. Pasukan gabungan ini kemudian menyerang Nineveh dan kota itu tumbang pada bulan Juli.

Artikel Terkait