Pelabuhan Sabang, sisa kejayaan pintu gerbang Indonesia dua abad silam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pelabuhan Sabang (yogi yogi/Flickr)

Selamat datang di Pelabuhan Bebas Sabang. Slogan itu masih terpampang meski status pelabuhan bebas sebenarnya sudah dicabut sejak tahun 1985. Bagi masyarakat Sabang ini seperti sebuah harapan atau mengenang kejayaan kota ini.

Sebelum Perang Dunia II, Pelabuhan Sabang sangat penting dibandingkan dengan Singapura. Tetapi status ini kemudian merosot pada tahun 1985 ketika dibukanya Batam sebagai kawasan perdagangan bebas.

Lalu bagaimana kejayaan Sabang pada masanya? Dan bagaimana pulau ini menjadi salah satu tempat strategis ketika itu? Berikut uraiannya:

1. Sabang dan kejayaannya

Pelabuhan Sabang (Dana Alvino/Flickr)

Selamat datang di Pelabuhan Bebas Sabang. Slogan itu masih terpampang meski status pelabuhan bebas sebenarnya sudah dicabut sejak tahun 1985. Bagi masyarakat Sabang ini seperti sebuah harapan atau mengenang kejayaan kota ini.

Pelabuhan Sabang pernah menyandang sebagai pintu gerbang Indonesia pada masa kejayaannya dua abad silam. Secara historis. Sabang memang dikenal karena pelabuhannya sejak abad ke 19 hingga awal abad ke 20.

Pulau ini melayani kapal-kapal besar dari benua Eropa, Afrika, dan Asia. Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi Sabang sehingga tahun 1881, Belanda mendirikan Kolen Station di Teluk Sabang yang terkenal dengan pelabuhan alamnya.

  Menapaki jalur legendaris puncak, tempat pejabat kompeni hilangkan penat

Dua tahun kemudian, Belanda mendirikan Atjeh Associate oleh Factorij van de Nederlandsche Handel Maatschappij (Factory of Netherlands Trading Society) dan De Lange Co di Batavia untuk mengoperasikan pelabuhan dan stasiun batubara di Sabang.

“Pelabuhan itu awalnya dimaksudkan sebagai stasiun batubara untuk angkatan laut Belanda tetapi kemudian juga melayani kapal dagang umum.” tulis Gatot Widakdo dalam Sabang, Kisah Pintu Gerbang Perdagangan yang diterbitkan Litbang Kompas.

2. Lebih penting dari Singapura

Pelabuhan Sabang (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian/Fliclr)

Ditulis oleh Gatot, sebelum Perang Dunia II, Pelabuhan Sabang sangat penting dibandingkan dengan Singapura. Karena perannya semakin penting, pada tahun 1896, Sabang dibuka sebagai pelabuhan bebas untuk perdagangan umum.

Sabang juga menjadi pelabuhan transit barang-barang, terutama hasil pertanian dari Deli yang telah menjadi daerah perkebunan tembakau sejak tahun 1863 dan hasil perkebunan berupa lada, pinang, dan kopra dari Aceh.

“Sabang pun mulai dikenal oleh lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia,” ucapnya.

Tahun 1903, CJ Karel Van Aalst, sebagai direktur NHM yang baru mengatur layanan dwi mingguan antara Pelabuhan Sabang dan negeri Belanda, melibatkan Stoomvaart Maatschappij Nederland (Netherlands Steamboat Company) dan Rotterdamsche Lloyd.

“Dia juga mengatur suntikan modal penting bagi Sabang Maatschappij dengan NHM sebagai pemegang saham mayoritas,” jelasnya.

  Farwiza Farhan, dipuji Bill Gates dan masuk daftar TIME100 Next 2022

Pelabuhan Sabang terus berkembang hingga akhirnya masa kejayaannya merosot setelah tahun 1985. Status Sabang sebagai daerah perdagangan bebas dan pelabuhan bebas ditutup oleh Pemerintah RI melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 1985.

Pencabutan status ini dengan alasan maraknya penyelundupan dan akan dibukanya Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Keputusan itulah yang membuat Sabang menjadi tertinggal.

3. Mengembalikan kejayaan?

Pelabuhan Sabang (yogi yogi/Flickr)

Disebutkan oleh Gatot, secara geografis sebenarnya posisi Sabang lebih strategis dibandingkan dengan Batam. Sabang terletak di pintu bagian barat Selat Malaka yang dilintasi 50.000-60.000 kapal setiap tahun.

Sementara itu kondisi alam Pelabuhan Sabang juga lebih mendukung. Bagi kapal-kapal besar, syarat kedalaman laut menjadi mutlak untuk menjaga keselamatan dan laluan kapal yang melintas.

Apalagi melihat tren ke depan, kapal-kapal besar akan banyak diproduksi. Kini sudah lebih dari 7.000 kapal peti kemas yang beroperasi di seluruh dunia. Karena itu, jelasnya lebar dan kedalaman Selat Malaka santa terbatas.

Terjadinya tsunami pada 2004 juga menyebabkan sedimentasi (pendangkalan) di beberapa titik di Selat Malaka. Akibatnya kedalaman maksimum yang selamat untuk laluan kapal di Selat Malaka adala 19,5 meter, sehingga kapal peti kemas berukuran 18.000 TEU tidak dapat lagi merentas Selat Malaka.

  Saksi sejarah ketika raja-raja Mataram Islam berburu kijang

Karena itu, disebutkan oleh Gatot, situasi ini menguntungkan bagi Pelabuhan Sabang karena dengan kolam pelabuhan yang dalam secara alami, membuat pelabuhan ini bisa mengambil peran sebagai pelabuhan penghubung.

“Pelabuhan Sabang bahkan berpotensi menjadi pintu keluar masuk barang ekspor Indonesia di bagian barat,” jelasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya