Penemuan rel trem zaman Belanda di tengah proyek MRT

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Jalur trem Jakarta (Love_JKT/Instagram)

PT Moda Raya Terpadu (MRT) kembali menemukan jalur trem zaman kolonial Belanda saat melakukan proyek MRT Fase 2 di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Penemuan trem itu diduga jadi kepanjangan dari rel trem yang sudah ditemukan MRT tahun lalu.

Jalur trem mulai pertama diperkenalkan sebagai angkutan umum di Batavia pada tahun 1869. Ketika itu trem yang dibangun menghubungkan daerah di dalam kota yaitu Benteng Kota dengan daerah-daerah di luar kota.

Lalu bagaimana penemuan trem ini? Dan apa juga peran trem dalam sejarah transportasi di Batavia? Berikut uraiannya:

1. Jalur trem

Jalur trem (Love_JKT/Instagram)

PT Moda Raya Terpadu (MRT) kembali menemukan jalur trem zaman kolonial Belanda saat melakukan proyek MRT Fase 2 di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Penemuan trem itu diduga jadi kepanjangan dari rel trem yang sudah ditemukan MRT tahun lalu.

Pada tahun lalu juga ditemukan rel trem di tengah pembangunan proyek MRT Jakarta Fase 2A paket kontrak atau CP 203 Glodok-Kota yang menyita perhatian publik. Apalagi, jalur trem tersebut sudah ada sejak zaman Belanda atau sekitar tahun 1869.

  Kota Banten Lama, kemegahan wilayah yang dianggap menyerupai Amsterdam

“Itu memang semuanya lanjutan dari itu kan dari Harmoni sampai ke Kota. Terusnya dari Kota balik lagi. Tetapi kan itu bisa saja bukan dari Harmoni saja, mungkin juga dari jalur-jalur lain. Saling sambung-menyambung,” ujar Arkeolog Chandiran Attahiyat yang dimuat Jawapos.

Dirinya mengatakan bahwa MRT memang belakangan sering menemukan rel trem sejak zaman tahun 1990 an. Oleh karena itu, selama proyek MRT tetap berjalan sesuai rencana, penemuan rel trem itu bisa saja terjadi lagi di kemudian hari.

“Ya selama lokasi yang di jalur sekarang dan sesuai dengan perencanaan jalur MRT itu udah pasti ditemukan,” ucapnya.

2. Diperlakukan sebagai cagar budaya

Trem Jakarta (Love_JKT/Instagram)

Dirinya menegaskan bahwa rel trem yang ditemukan tersebut sudah seharusnya dilakukan sebagai cagar budaya. Dengan begitu, MRT harus segera mengamankan penemuan rel tersebut melalui perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD).

“Itu diamankan, emang jalur jalur itu apabila memang yang terkena dengan stasiun itu akan dibongkar, tetapi yang tidak terkena dengan stasiunnya tidak dibongkar. Jadi apabila itu memang di stasiun pasti dibongkar dan rel rel itu akan disimpan di PPD,” terangnya.

  Pulau Kelapan, jalur perdagangan maritim yang menyimpan memori masa silam

Sementara itu, melalui akun Instagram resminya, MRT menyebutkan bahwa proses pengangkatan rel trem tersebut sudah dimulai. Nantinya cagar budaya itu akan ditempatkan sementara di storage pool di PPD Jelambar.

“Saat ini juga dalam tahap persiapan untuk pengangkatan rel trem yang berada di lokasi pekerjaan CP 202. Nantinya akan ditempatkan sementara di storage pool PPD Jelambar,” tulis akun @mrtjkt.

Lokasi penemuan rel trem pun ditutup oleh seng di kedua sisi. Jadi pengendara motor tak bisa melihat temuan itu. Kondisi rel trem pun masih utuh dan tak lapuk. Petugas tampak mengangkat bebatuan yang menimbun rel trem.

3. MRT koordinasi dengan Disbud DKI

Jalur trem Jakarta (Love_JKT/Instagram)

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Kebudayaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Norviadi Setio berbicara mengenai temuan trem di proyek MRT. Sejauh ini, tim dari MRT telah berkonsultasi dengan Disbud DKI terkait temuan ini.

“Untuk secara umum, tim dari pihak MRT sudah berkoordinasi dan berkonsultasi intens dengan Disbud,” kata Norviadi yang diwartakan Detik.

Kepala Disparbud DKI Jakarta, Iwan Hendri mengatakan PT MRT Jakarta berusaha merelokasi dan menyelamatkan jalur trem yang terkubur. Hal itu merupakan upaya untuk mengembalikan peradaban masa lampau.

  Kali Besar, keindahan sungai yang membelah kota kembar Batavia

Apalagi MRT sedang berupaya membangun transportasi pada masa kini. Pun trem yang ditemukan juga dalam kondisi baik. Dia pun menjelaskan, trem tersebut menjadi bukti kekayaan sejarah Jakarta pada masa lampu.

Menurutnya, upaya PT MRT Jakarta untuk menyelamatkan jalur trem dengan banyak sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Di mana setiap pihak wajib melaporkan bila menemukan cagar budaya.

Dengan adanya itikad baik dari PT MRT Jakarta, katanya, Disparbud DKI terus melakukan koordinasi secara berkala. Khususnya menyoal temuan atau ekskavasi dari temuan yang diduga jalur kereta tertua di Indonesia itu.

“Sekarang kita belajar, besok jadi pariwisata atau lainnya,” ucap Iwan yang diwartakan Republika.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya