Peradaban jati, kayu suci yang menjadi bagian kehidupan masyarakat Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pohon jati (Bantul.kab)

Tanaman jati merupakan sejenis pohon penghasil kayu yang memiliki kualitas tinggi. Kayu yang dihasilkan oleh pohon jati terkenal sangat kuat dan awet sehingga sangat cocok digunakan sebagai bahan baku pembuat furniture. Kayunya yang berkualitas tinggi menjadikan banyak orang berminat untuk membelinya.

Bagi masyarakat Jawa, kayu jati bahkan tidak bisa terlepas dari kehidupan mereka. Hal ini bisa terlihat dari berbagai macam peninggalan sejarah dalam wujud bangunan seperti rumah tradisional Jawa, masjid, pendopo-pendopo keraton, mebel maupun dalam serat klasik.

Dalam Serat Centhini (1814-1824) misalnya terlihat bagaimana keakraban antara manusia Jawa dengan pohon jati selama berabad-abad, sehingga bisa menelurkan ciri dan sifat kayu. Kayu ini diyakini mengusung watak yang dapat membuat pemakainya hidup sejahtera dan rukun.

Melihat peradaban kayu jati dengan masyarakat Jawa yang telah terjalin lama, bagaimana awal mula tanaman ini muncul? Lalu seberapa besar peran kayu jati dalam kehidupan masyarakat Jawa? berikut uraiannya:

1. Awal mula tanaman jati

Pohon jati (potensi Indonesia)

Diusut ke belakang, awal mula tanaman jati dipercaya berasal dari Gujarat India. Tumbuhan ini dibawa oleh para pedagang India ke tanah Jawa. Ketika itu, raja menilai jati merupakan sebuah pohon suci. Karena kekagumannya, petinggi kerajaan lalu mengimpor jati dari Kalingga di Pantai Timur India Selatan dari abad ke 2.

  Gelasa, Pulau yang menyimpan jejak misteri peradaban purba Indonesia

Masyarakat kemudian membiasakan menanam jati di sekitar candi. Bagi mereka pohon jati di lingkungan candi sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Shiwa.  Dalam dimensi religi lama, kayu jati dinamai kayu suci sehingga ditanam di sekitar candi untuk menghormati dewa.

Di pengujung periode Hindu, akhirnya hutan jati mulai marak ditanam di Jawa. Pohon jati menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Karawang hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sementara itu pemanfaatan kayu jati oleh masyarakat Jawa belum diketahui secara pasti. Tetapi banyak ahli yang menyebut, sebelum abad ke 8, masyarakat Jawa telah memanfaatkan kayu ini sebagai bahan baku untuk membuat rumah.

Dugaan ini berasal dari kemiripan antara teknik penyusunan rumah adat Jawa dengan teknik penyusunan batu-batu candi yang ada di Pulau Jawa. Teknik penyusunan batu-batu candi ini umumnya sudah muncul pada abad 8 yang dipercaya mengikuti penyusunan rumah Jawa.

2. Pemanfaatan kayu jati 

Jati (Perum perhutani)

Pemanfaatan kayu jati mulai tercatat sejak masa Majapahit. Ketika itu kayu jati telah diambil untuk membangun armada laut. Made Oka Purnawati menyebut pada masa itu, moda transportasi darat yang menggunakan hewan belum begitu dominan.

  Kenalkan ayam cemani! hewan yang berbalut mitos dengan harga fantastis

“Oleh karena itu, dilakukan penguatan armada laut untuk mengontrol wilayah kekuasaan Mapahit yang sangat kuat,” tulis Purnawati dalam buku Hutan Jati Madiun; Silvikultur Di Karisidenan Madiun 1830-1913. 

Memasuki awal abad 16, pada masa Vereeningde Oostindische Compagnie (VOC) di bumi Nusantara, pemanfaatan kayu jati kembali berlanjut. Kayu jati digunakan VOC untuk membangun kapal dagang, kapal perang, dan untuk diperdagangkan ke dunia internasional.

Sejak saat itulah istilah Java teak muncul untuk menyebut kayu jati yang terkenal sangat tinggi harganya dalam perdagangan internasional. VOC juga menggunakan kayu jati untuk memenuhi kebutuhan membangun gudang-gudang, galangan-galangan kapal serta bangunan-bangunan.

3. Peradaban kayu jati di Jawa

Rumah Joglo (Commons Wikimedia)

Sebagai jenis hutan yang paling luas di Pulau Jawa, hutan jati memiliki nilai ekonomis, ekologis, dan sosial yang penting. Sampai dengan masa Perang Dunia kedua, orang Jawa pada umumnya hanya mengenal kayu jati sebagai bahan bangunan.

Hal ini bisa terlihat dari rumah-rumah tradisional Jawa, seperti rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan kayu jati di hampir semua bagiannya, seperti tiang-tiang, rangka atap, hingga ke dinding-dinding berukir. Dalam industri kayu sekarang, jati bisa diolah menjadi venir untuk melapisi wajah kayu lapis mahal.

  Dewi Sri, mitologi bagi tradisi kesuburan pertanian di Nusantara

Sementara untuk masa tebang jati membutuhkan waktu paling tidak 40 tahun, bahkan di Jawa Timur dan Jawa Tengah, daur jati bisa mecapai 60 tahun dan ada yang 80 tahun. Jadi kayu jati yang masyarakat gunakan merupakan kayu-kayu yang ditanam oleh para pendahulu.

Hal ini menandakan bahwa kayu jati merupakan warisan dari pada pendahulu untuk menyiapkan kebahagiaan bagi hidup anak cucunya. Sehingga bagi masyarakat Jawa, ada sebuah kewajiban untuk memberikan warisan kepada generasi penerus, salah satunya dengan tanaman jati.

Foto:

  • Bantulkab
  • Potensi-Indonesia
  • Perum Perhutani
  • Wikipedia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya