Peran Mangrove yang membentuk perabadan bangsa Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi laut (Relawan untuk orang dan alam)

Tanaman bakau (mangrove) menjadi salah satu jenis tumbuhan yang memiliki segudang khasiat. Selain sebagai pelindung dari bencana abrasi, mangrove juga bisa menyerap karbondioksida dan jadi karbon biru yang sedang menggema di seluruh dunia.

Mangrove ini juga tidak terpisahkan dari peradaban manusia yang hidup sebelum Masehi (SM) hingga sekarang. Tanaman ini sangat diandalkan oleh manusia-manusia masa silam dalam setiap kehidupannya. Bahkan keberadan tanaman mangrove ini sangat penting untuk bangsa Nusantara.

Lalu bagaimana tanaman mangrove telah membangun peradaban Nusantara? Berikut uraiannya:

1. Mangrove dan peradaban

Hutan mangrove (Ketut Suyasa/Flickr)

Keberadaan tanaman mangrove ini sangat penting untuk bangsa Nusantara. Ary Prihardyanto yang merupakan etnobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerangkan bahwa mangrove memiliki keragaman jenis di Indonesia yang merupakan negara tropis.

Sementara itu bangsa Nusantara yang pada masa lalu bagian dari Austronesia diketahui memanfaatkan mangrove sebagai bagian dari kehidupan mereka. Mereka menggunakan tanaman mangrove untuk kebutuhan keseharian seperti makanan, bahan bangunan, pembuatan kapal, dan juga obat.

  Ketika Alquran jelaskan fenomena kegelapan di lautan yang dalam

Pada masa lalu bangsa Austronesia juga dikenal sebagai kelompok yang menguasai keahlian bertahan hidup baik di darat maupun di laut. Bangsa Austronesia juga memiliki perahu bercadik yang digunakan untuk berlayar ke berbagai tujuan.

Ary menjelaskan ketika sampai ke tujuan, mereka biasa menggunakan mangrove sebagai bagian pendaratan. Pasalnya kawasan mangrove jga menjadi area yang nyaman, karena banyak tersedia kebutuhan Austronesia ataupun kapal yang sedang mereka gunakan.

“Pelayaran besar bangsa Austronesia mengikuti persebaran mangrove, khususnya Rhizphora spp, terutama R. apiculata, R.mucronata dan R.stylosa,” ungkapnya yang dimuat Mongabay Indonesia.

2. Bangsa mangrove

Mangrove (Galapagos Islands/Flickr)

Bangsa Austronesia yang memiliki ikatan kuat dengan mangrove membuat mereka dikenal dengan sebutan bangsa bakau atau bangsa Rhizopora. Sebutan tersebut masih bertahan hingga kini, walau bangsa Austronesia kini hanya tinggal nama.

Pengaruh bangsa Austronesia kemudian melekat pada kerajaan-kerajaan besar yang pernah berkuasa di Nusantara. Sebut saja, Kerajaan Sriwijaya (abad 7 Masehi) di Sumatra dan Majapahit (abad 13 Masehi di Jawa. Kedua kerajaan ini menggunakan mangrove sebagai bagian kehidupan.

  Keindahan pohon tabebuia, pemandangan 'sakura' yang bisa dinikmati di Indonesia

“Itu kenapa, Sriwijaya dan Majapahit juga disebut ikut membangun peradaban bakau di Nusantara,” jelas Ary.

Ary menyebut Sriwijaya menjadi kerajaan pertama yang menjadikan mangrove sebagai bagian dari pembentukan peradaban. Hal ini jelasnya memengaruhi bentukan wilayah kekuasaan kerajaan yang sebarannya menyerupai mangrove, jenis Rhizophora apiculata.

Sementara Majapahit, lanjutnya diketahui sebagai kerajaan kedua yang menjadikan mangrove sebagain bagian dari pembentukan peradabannya. Pengaruhnya bisa dilihat dari sebaran kekuasaannya yang menyerupai persebaran mangrove jenis Rhizophora stylosa.

3. Mangrove adalah jati diri

Mangrove (sichunlam/Flickr)

Kini mangrove masih tetap menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat Indonesia, misalnya sebagai pewarna pakaian di Sulawesi, Banten, bahkan Samoa. Bukti lainnya adalah dalam catatan G E Rumphius menyebut di daerah Ambon tanaman mangrove ini dilindungi oleh hukum adat yang dinamakan Sasi Mangi-mangi.

“Sebutan bakau oleh orang Ambon adalah Mangi-mangi. Dia menuliskan bahwa bakau sangat penting untuk makanan, bahan bangunan, obat, dan pewarna. Dalam tulisan tersebut, bakau menjadi tanaman penting. Karena sebagai tempat berlindung ikan dan tempat hidup kepiting,” paparnya yang dimuat di Herbarium Amboinense diterbitkan pada 1743.

  Pelawan, pohon unik yang bermakna bagi orang Bangka Belitung

Melihat segala fakta yang ada, Ary menyatakan bahwa keberadaan mangrove sudah menjadi hal yang penting bagi eksistensi bangsa Austronesia pada masa lalu. Dengan kata lain, kawasan hutan mangrove di pesisir tidak lain adalah bagian dari bangsa Nusantara.

Karena itu, dirinya berharap agar mangrove bisa terus mendapat perhatian dari masyarakat Nusantara. Pemahaman tentang ilmu etnobiologi juga diharapkannya terus dikembangkan demi generasi penerus. Karena itu menjadi penting, jelasnya, peradaban Indonesia menjadikan mangrove sebagai bagian dari kehidupan.

“Orang Indonesia seharusnya juga menghargai mangrove. Bangsa Indonesia bisa dikatakan bangsa bakau. Jadi, bukan orang Indonesia namanya kalau tidak menghargai mangrove.”

Artikel Terkait

Artikel Lainnya