Peran sungai dan laut dalam jejak peradaban Pulau Kalimantan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kalimantan (Sandi Lesmana/Flickr)

Menyusuri kota-kota pelabuhan di Kalimantan seperti membaca secara terang jejak peradaban pulau terbesar di Indonesia. Kemajuan di tanah Borneo itu tidak terlepas dari peran sungai dan laut.

Kedua hal tersebut merupakan urat nadi kegiatan serta pelabuhan yang menghidupinya. Kekayaan alam berlimpah berbalut budaya sungai ini memberi janji kemakmuran. Namun, sayang infrastruktur menjadi pekerjaan rumah yang berat.

Lalu bagaimana kisah sungai dan laut membawa peradaban Kalimantan? Dan mengapa perkembangan infrastruktur laut terlambat? Berikut uraiannya:

1. Kota sungai

Sungai Kalimantan (clare price/Flickr)

Menyusuri kota-kota pelabuhan di Kalimantan seperti membaca secara terang jejak peradaban pulau terbesar di Indonesia. Kemajuan di tanah Borneo itu tidak terlepas dari peran sungai dan laut.

Kedua hal tersebut merupakan urat nadi kegiatan serta pelabuhan yang menghidupinya. Kekayaan alam berlimpah berbalut budaya sungai ini memberi janji kemakmuran. Sungai, laut, dan pelabuhan begitu setia mendampingi wajah Kalimantan.

Dimuat Kompas, selama berabad-abad, sejak zaman pra kolonial hingga masa kolonial hingga masa kini. Tanah Borneo tak luput dari sentuhan peradaban Eropa. Pada tahun 1606, Kalimantan menerima kedatangan orang Belanda.

  Teratai raksasa terbesar di dunia ditemukan, bisa tahan bobot anak kecil

Gilis Michielzoon, pria berkebangsaan Belanda tiba di muara Sungai Barito. Setelah itu, di banyak bagian sungai lainnya, seperti di Sungai Mahakam, Kapuas, dan Martapura, pendatang-pendatang asing silih berganti dan menjalankan misi perdagangannya.

Sejarawan Belanda, Thomas Lindblad yang meneliti tentang sejarah perdagangan Eropa dalam bukunya, Between Dayak and Dutch (1988) menyebut perdagangan membawa pencerahan dan peradaban.

“Dan di Kalimantan perdagangan itu dimulai dari tepi sungai,” tulis Thomas.

2. Perkembangan peradaban

Kalimantan (Erryanz erryanz_slo/Flickr)

Wilayah pesisir di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah yang perkembangannya lebih cepat. Populasi di kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan di pantai timur, begitu pula kota di bagian selatan seperti Banjarmasin.

“Sungai Barito dan Mahakam memiliki peranan penting menghubungkan wilayah-wilayah pesisir dengan wilayah pedalaman yang dihuni oleh suku-suku asli seperti Dayak atau Banjar,” tulis Gianie dalam Wajah Transformasi Kalimantan dalam Litbang Kompas.

Perbedaan wilayah antara pesisir dan pedalaman ini memunculkan pola perdagangan yang berbeda. Masyarakat pedalaman dengan kemampuan jelajahnya yang tak begitu jauh terkonsentrasi pada kegiatan agraris dan memperdagangkan hasil pertanian.

  Dikenal tahan banting, ratusan ikan sapu-sapu mati mengambang di sungai Jakarta

Lindblad mengatakan tidak mudah melakukan hubungan dagang dengan orang di pedalaman, terutama bagi bangsa Eropa. Wilayah pedalaman menjadi kekuasaan para pendatang Melayu, tetapi pedagang China mulai berhasil menjalin perdagangan.

Karena itu, pendatang-pendatang non-Melayu mulai mendominasi perdagangan di pesisir. Pendatang-pendatang asing tersebut membawa perdagangan Kalimantan terintegrasi dengan pasar dunia melalui ekspor terutama sejak kedatangan Bangsa Belanda.

“Orang-orang Eropa, China, juga Bugis menguasai hasil-hasil bumi Kalimantan dengan memasarkannya ke luar negeri dan jarang muncul di pasar kecil di sepanjang sungai,” paparnya.

3. Terlambat dibangun

Kalimantan (Sandi Lesmana/Flickr)

Meskipun Belanda memelopori eksploitasi minyak dan batubara serta perdagangan luar negeri dari kekayaan alam Kalimantan, otoritas Belanda hampir tidak benar-benar berkuasa di Kalimantan seperti halnya di wilayah Jawa atau Sumatra.

“Selain kurangnya kepentingan modal, perlawanan dari masyarakat setempat dan kondisi alam Kalimantan yang berhutan lebat menyulitkan Belanda,” paparnya.

Otoritas Belanda hanya ada di daerah pantai atau daerah masuk dalam jalur pelayaran internasional. Kurang kuatnya kepentingan Kolonial atau Eropa di Kalimantan ini terlihat dan tidak adanya pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, atau jalur kereta api.

  Kuda sembrani, hewan mitologi yang dipercaya sebagai tunggangan raja-raja Jawa

Disebutkannya perjalanan ke daerah-daerah pedalaman Kalimantan dilakukan lewat sungai atau laut. Kesempatan dilakukan lewat sungai atau laut. Kesempatan untuk berkeliling melalui jalan darat sangat terbatas.

“Konstruksi jalan darat baru dimulai pada dekade-dekade berikutnya,” ucapnya.

“Alhasil meski Kalimantan diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa, kemajuan dan hasil pembangunan belum menggambarkan kesejahteraan,” tambahnya.

DIlihat dari kegiatan ekonominya, keseluruhan produk domestik regional bruto provinsi Kalimantan hanya menyumbang 9-10 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia. Pembangunan infrastruktur pun harus menjadi prioritas.

Kota-kota pelabuhan, seperti Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, dan Balikpapan yang berperan penting sejak masa Kolonial tetap menjadi barometer bagi kemajuan Kalimantan ke depan karena menjadi konsentrasi bisnis dan hunian kaum pendatang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya