Prabu Siliwangi dan jejak konservasi alam pada masa Kerajaan Pajajaran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Candi Prabu Siliwangi (Yacob Wijaya/Flickr)

Kerajaan Pajajaran mengalami puncak kejayaan saat dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja atau yang bergelar Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi memimpin Pajajaran, setelah menyatukan kedua kerajaan yakni Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. 

Prabu Siliwangi sebelum memerintah ternyata telah terkenal sebagai pengembara yang menyukai berkeliling hutan untuk berburu. Kedekatannya dengan alam memang dipengaruhi kondisi alam Priangan yang dipenuhi hutan-hutan lebat. Kebun Raya Bogor menjadi saksi pelestarian lingkungan dari Prabu Siliwangi.

Lalu bagaimana raja besar Tatar Priangan ini begitu akrab dengan lingkungan? Dan apa dampaknya yang dirasakan hingga kini? Berikut uraiannya:

1. Prabu Siliwangi dan alam

Candi Prabu Siliwangi (Yacob Wijaya/Flickr)

Prabu Siliwangi menjadi raja yang bisa menyatukan dua kerajaan yakni Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Dirinya memang mendapat mandat memimpin dua kerajaan. Ayahnya Prabu Dewa Niskala, menyerahkan mandat dari Kerajaan Galuh, sedangkan mertuanya Prabu Susuktunggal memberikan Kerajaan Sunda.

Namun konon sebelum memerintah dan memimpin sebagai raja Prabu Siliwangi dikenal sebagai pengembara. Dikisahkan berdasarkan buku Hitam Putih Pajajaran: dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran karya Fery Taufiq El Jaquene, Prabu Siliwangi terkenal sebagai kesatria pengembara yang berani terhadap siapa pun.

  Nasi liwet, olahan masakan yang tunjukan karakter orang Sunda

Prabu Siliwangi memiliki kesukaan menjelajahi hutan sembari berburu binatang. Dalam hal ini dia terkenal memiliki ketangkasan jika dibandingkan dengan teman yang lainnya. Sejarah mencatat, Prabu Siliwangi kemudian menikah.

Dalam perjalanannya, Prabu Siliwangi juga sempat memimpin Kerajaan Sindangkasih yang saat ini masuk wilayah adminstratif Kabupaten Majalengka. Prabu Siliwangi juga dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Galuh yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Ciamis.

Tidak berhenti di situ, Sri Baduga Maharaja kemudian menerima mandat kedua dari mertuanya Prabu Susuk Tunggal. Dari sinilah kemudian Prabu Siliwangi mencatatkan sejarah dengan menyatukan Kerajaan Galuh dan Sunda. Kemudian memindahkan ibu kota negara dari Kawali ke Pakuan Pajajaran.

2. Suka tinggal di hutan dan gua

Pura Jagatkarta (Bambang Subaktyo/Flickr)

Prabu Siliwangi merupakan tokoh leluhur dari suku Sunda atau Pasundan. Beberapa nama tempat menjadi alasan kuat yang selalu merujuk kepada Prabu Siliwangi, misalnya artefak ataupun benda-benda lainnya. Namun di sisi lain, masih banyak yang belum terungkap mengenai sosok Prabu Siliwangi.

Namun dengan segala keterbatasan setidaknya beberapa peninggalan yang ditemukan, Prabu Siliwangi konon berawal dari Rumpin dan Ciampea di daerah Bogor. Dari sanalah diyakini awal kisah Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran digelar ke alam persada ini.

  Kisah pohon-pohon Soekarno yang terekam abadi

Hal ini berdasarkan fakta bahwa Prabu Siliwangi yang menyukai pegunungan dan gua untuk ditinggali. Hutan dan gua menjadi tempat favorit Prabu Siliwangi karena berbagai alasan tertentu. Tempat-tempat ini dianggap sebagai awal mula leluhur tanah Sunda.

Selain itu dahulu kala alam terutama hutan masih sangat lebat atau sebaliknya masih berupa padang savana tanpa pepohonan. Di sisi lain, Prabu Siliwangi juga menyukai gua atau lembah yang mendekati aliran sungai. Hal inilah yang membuatnya mengukir sejarah di beberapa wilayah seperti Batu Tulis dan Pasir Angin Cangkung.

Tempat tersebut merupakan titik awal penyebaran keturunan Prabu Siliwangi sebelum tersebar ke seantero Nusantara. Hampir semua pegunungan di Tatar Sunda pernah menjadi tempat hunian Prabu Siliwangi, seperti Gunung Munara, Gunung Galuh, Gunung Kapur Ciampea, Gunung Gede, Gunung Ceremai, dan lain-lain.

3. Pelestarian lingkungan zaman Pajajaran

Kebun Raya Bogor (Aceng Suparman/Flickr)

Peneliti etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI, M Fathi Royyani menjelaskan pada masa Kerajaan Pajajaran, pelestarian lingkungan dilakukan dengan cara menanam jenis-jenis tanaman yang dianggap penting pada masa itu, terutama untuk memenuhi ritual tradisi.

  Kisah Nabi Daud sebagai penemu dan pengolah besi

“Mereka menanam jenis-jenis pohon yang digunakan untuk ritual di kawasan yang disebut Samida yang lokasinya sekarang diduga terletak di Kebun Raya Bogor,” ujar Fathi.

Samida, jelas Fathi, diduga merupakan hutan buatan yang didirikan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dan menjadi warisan abad ke 14 dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. Pendirian Samida ini tercatat dalam prasasti Batu Tulis yang didirikan oleh Surawisesa putra Prabu Siliwangi.

Dikutip dari Sutaarga, dalam prasati tersebut disebutkan Prabu Siliwangi membuat tanda peringatan gugunungan, mendirikan balai, membuat Samida, dan membuat Sang Hyang Talaga Rena Mahawijaya. Beberapa sumber menyebutkan, Samida merupakan hutan yang kayu-kayunya diperuntukkan bagi upacara-upacara persembahan.

“Sumber lain juga menyebutkan keberadaan Samida ditunjukan untuk keperluan kelestarian lingkungan dan sebagai tempat memelihara benih-benih kayu yang langka,” jelas Fathi.  

Artikel Terkait

Artikel Lainnya