Pulau Kelapan, jalur perdagangan maritim yang menyimpan memori masa silam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pulau Bangka (Ahmad Syukaery/Flickr)

Pulau Kelapan menjadi pulau terdepan dalam gugusan dua pulau besar di Provinsi Bangka Belitung, yakni Lepar dan Pongok. Pulau ini diperkirakan sudah dihuni sejak masa Kedatuan Sriwijaya. Sebab, ditemukan sejumlah pecahan gerabah atau keramik dari masa Dinasti Tang (618-907 M).

Selain melaut, cengkih menjadi hasil kebun yang menjanjikan masyarakat Pulau Kelapan. Masyarakat di Pulau Kelapan berharap di wilayahnya tidak dikembangkan pertambangan ikan dan udang, sebab dapat mengancam sumber ekonomi mereka yang juga dikhawatirkan merusak lingkungan.

Lalu bagaimana kisah Pulau Kelapan? Dan benarkah pulau ini telah jadi bagian dari Sriwijaya? Berikut uraiannya:

1. Pulau Kelapan

Pulau Bangka (Deden Heryana/Flickr)

Pulau Kelapan yang luasnya sekitar 385,907 hektare, merupakan pulau terdepan dalam gugusan dua pulau besar di Provinsi Bangka Belitung, yakni Pulau Lepar (16.930 hektare) dan Pulau Pongkok (4.835 hektare). Pulau ini dihuni Suku Bugis yang hidup dengan budaya bahari.

Tokoh adat Pulau Kelapan, Muhammade menyebut sekitar tahun 1960 an, masyarakat Melayu yang berasal dari Tanjung Sangkar (Pulau Lepar) sempat tinggal dan membuka kebun di Pulau Kelapan. Mereka umumnya menanam cengkih, lada, kelapa, padi, dan pisang.

  Hari Bumi dan sosok perempuan sebagai penjaga kemakmuran lingkungan

“Namun sekitar 1965, mereka kembali ke Tanjung Sangkar. Sejak itu masyarakat Bugis mulai menetap serta melanjutkan tradisi berkebun,” paparnya yang dimuat Mongabay Indonesia.

Disebutkan olehnya jumlah penduduk di Pulau Kelapan sekitar 184 jiwa (46 Kepala Keluarga). Mayoritas Suku Bugis yang keseharian melaut dan berkebun. Sementara itu dinamakan Pulau Kelapan karena pulau ini berada di urutan “kelapan” kedelapan dari sejumlah pulau-pulau di sekitar Lepar dan Pongok.

Di Pulau Kelapan, cengkih dipanen dua kali setahun. Satu pohon bisa menghasilkan 30-40 kilogram yang dijual ke Toboali, dengan satu kilogram seharga 100 ribu rupiah. Di sini juga tidak ada yang menanam sawit, karena tidak cocok, butuh banyak lahan, malah bisa mendatangkan bencana seperti longsor dan kekeringan.

2. Dihuni sejak masa Sriwijaya

Perahu Nelayan Bangka (Commons Wikimedia)
Perahu Nelayan Bangka (Commons Wikimedia)

Kepulauan Lepar Pongok yang berada di Selat Gaspar (Pulau Bangka dan Pulau Belitung) merupakan perairan yang ramai dan penting bagi jalur perdagangan maritim Nusantara sejak Kedatuan Sriwijaya. Muhamade menyakini Pulau Kelapan sudah dihuni sejak zaman kerajaan hingga kolonial.

  Gara-gara krisis air bersih, Batavia diserang wabah kolera pada abad 19

Hal ini merujuk temuan sejumlah pecahan  gerabah atau keramik saat warga membuka kebun. Disebutnya ada warga yang menemukan tombak dari kuningan, serta sejumlah pecahan keramik berwarna kuning, hijau, hingga kehitaman. Semuanya sudah diserahkan ke peneliti UBB.

Di atas bukit juga pernah ditemukan bekas bangunan yang diduga benteng pengintaian pada zaman kolonial Belanda. Sementara di sisi timur Pulau Kelapan terdapat padang savana, panjangnya sekitar 200 meter dan lebar 200 meter.

“Bentuknya seperti landasan udara. Dulu pernah saya tanami kelapa, tapi tidak tumbuh, mungkin di bawahnya ada karang atau bangunan,” kata Jumain yang kebunnya berjarak sekitar 100 meter dari savana tersebut.

3. Dijaga

Pulau Bangka (Ahmad Syukaery/Flickr)

Berdasarkan artikel ilmiah yang ditulis Ahmad Syukur Busnia, gerabah dan keramik ditemukan juga di Pulau Pongok. Menurutnya dari hasil analisis menunjukan keramik ini berasal dari Tiongkok sejak masa Dinasti Tang tahun 618-907 Masehi.

Penelitian yang sama menyatakan di sekitar Kepualuan Lepar dan Pongok terdapat tujuh situs kapal tenggelam, yang lima di antaranya telah disurvei oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Ditulisnya situs ini kemungkinan berasal dari sejumlah kapal yang mengalami kecelakaan pada abad ke 5 hingga ke 20.

  Catatan kelam orangutan di masa silam

M Rizza Muftiadi, seorang dosen sekaligus peneliti dari jurusan Manajemen Sumber Daya perairan UBB mengatakan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang ada di sekitar Kepulauan Lepar Pongok harus mendapat perhatian penuh pemerintah.

“Situs kapal tenggelam di Kepulauan Bangka Belitung, khususnya di Kepulauan Lepar Pongok, dapat menjadi daya tarik wisata bawah,” ujarnya.

Masyarakat juga menolak bila ada perusahaan yang ingin membuat tambak di pulau ini. Pulau Kelapan memang masuk zona budidaya laut seluas 2.788,6 hektare, sehingga kemungkinan akan dijadikan tambak udang atau ikan. Sudah banyak bukti, tambak udang skala besar bukannya menguntungkan masyarakat, malah merusak lingkungan.

“Sejak dihuni Suku Melayu hingga Bugis, Pulau Kelapan selalu terjaga. Kami semua berkomitmen melindungi pulau dari segala ancaman yang merusak,” tugas Jumain.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya