Ragam cerita sejarah Sungai Ciliwung, sumber kehidupan masyarakat Jakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kisah tentang Jakarta, masyarakat dan sungai tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lain. Sejak dahulu sungai telah menjadi pusat dari kehidupan masyarakat.

Pada tahun 1500 an, Kerajaan Pajajaran sudah memamfaatkan Sungai Ciliwung sebagai pusat transportasi dari ibu kota kerajaan di Pakuan (Bogor) menuju pelabuhan ke Pantai Utara seperti Banten, Tangerang dan Sunda Kelapa.

Sungai Ciliwung ini berhulu di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Lalu mengalir ke Kawasan Puncak, Ciawi, kemudian membelok ke arah utara melalui Bogor, Depok, Jakarta, dan bermuara di Teluk Jakarta. Bagian sungai yang lurus dari Harmoni ke utara, dulu merupakan kali swasta dengan aturan membayar tol apabila melaluinya.

Melihat hal ini, banyak yang tidak menyadari bahwa Sungai Ciliwung pernah menjadi bagian kehidupan masyarakat Jakarta, berikut uraiannya:

1. Ciliwung sebagai sumber kehidupan

Ciliwung (Wikipedia)

Pada masa awal Batavia, perahu kecil masih bisa berlayar di sepanjang Ciliwung untuk mengangkut barang dari gudang dekat kali besar ke kapal yang sedang berlabung di laut. Cabang sungai Ciliwung ini bermuara ke samudra yang digunakan sebagai jalan masuk kasteel lewat Kapal dan dari kanal ke Waterpoort.

Pembangunan kali ini juga digunakan sebagai sumber tenaga industri, apalagi Ciliwung, airnya sering digunakan oleh masyarakat sekitar. Sampai abad 19, bahkan air Ciliwung masih bisa digunakan sebagai air minum.

  Kenalkan ayam cemani! hewan yang berbalut mitos dengan harga fantastis

Air kali itu mula-mula ditampung dalam semacam waduk (waterplaats atau aquada). Waduk air itu dilengkapi dengan pancuran-pancuran kayu yang mengucurkan air dari ketinggian kira-kira 10 kaki (kurang lebih 3 m).

Dari sana air diangkut dengan perahu oleh para penjual air (waterboereri) dan dijajakan ke kota. Memang pada zaman itu pemahaman masyarakat tentang kesehatan masih sangat rendah.

Sungai Ciliwung juga ketika itu airnya masih sangat jernih, hingga mendapat julukan ‘Ratu dari Timur’. Hal ini yang membuat pemerintah kolonial yang tergabung dengan VOC sangat mengagumi tempat ini.

Tetapi ketika pembukaan hutan-hutan dan penggarapan tanah semakin luas, ditambah pemukiman makin meningkat, air pun mulai tercemar.

Pada 1689 bedasarkan catatan, air yang keluar dari pancuran waduk di Pancoran sangat keruh, bahkan berlumpur di musim hujan.

2. Digunakan sebagai tempat binatu

Sungai Ciliwung (Wikipedia)

Sampai 1960, masyarakar Jakarta masih memamfaatkan air Sungai Ciliwung, walau tidak sebagai air minum tetapi untuk tempat beragam keperluan. Ciliwung menjadi favorit ribuan penduduk untuk mengambil wudhu, mandi, mencuci, sampai berbagai hajat keperluan lain.

  Teladan Nabi Yusuf dalam upaya membangun ketahanan pangan

Pada masa itu, Sungai Ciliwung memang masih cukup jernih, tidak seperti sekarang yang hitam dan berbau tak sedap. Ribuan penduduk Jakarta juga menggantungkan kehidupannya dari Ciliwung.

Ada yang menjadi tukang perahu, pekerja eretan, dan tidak kurang banyaknya yang menjadi tukang binatu. Puluhan tukang binatu tengah mencuci pakaian dan celana di Ciliwung.

3. Tempat beragam jenis hewan

Sungai Ciliwung (Wikipedia)

Ada juga beragam jenis-jenis ikan, ada sebanyak 270 ikan endemik Ciliwung yang bisa menjadi sumber konsumsi. Sayangnya sekarang hanya menyisakan 20 jenis ikan yang tersisa di wilayah Cianjur dan Bogor.

Selain ikan, ada hewan khas di bantarannya seperti kupu-kupu raksasa, bulus atau kura-kura bertempurung lunak, serta ular sanca. Kemudian di bagian muara sungainya ada buaya, kucing bakau, burung bangau, dan berang-berang. Tapi sekarang hewan-hewan ini telah punah.

Memang kondisi ini tidak terlepas dari kondisi air Sungai Ciliwung yang semakin surut, terutama ketika musim panas. Ciliwung bakal mengalami banjir saat musim hujan tiba.

Selain itu, pencemaran menjadi masalah serius sungai Ciliwung saat ini. Kian hari air yang mengalir makin kotor, bahkan berkurang debitnya. Permasalahan tersebut diduga terjadi ketika muncul pembangunan-pembangunan secara masif di Depok, Jakarta, dan Bogor.

  Timun suri, buah khas bulan puasa yang mengingatkan jati diri sebagai petani

Foto: 

  • Dari berbagai sumber

Artikel Terkait

Artikel Lainnya