Saksi sejarah ketika raja-raja Mataram Islam berburu kijang

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kandang Menjangan (aje gile/Flickr)

Panggung Krapyak adalah sebuah bangunan bersejarah berbentuk ruangan menyerupai kubus. Pada masa Kesultanan Mataram Islam, tempat ini digunakan oleh raja-raja Mataram sebagai tempat pengintaian berburu binatang, salah satunya rusa atau menjangan.

Karena itulah, masyarakat sekitar sering menyebut Panggung Krapyak dengan sebutan Kandang Menjangan. Penduduk setempat mempercayai Kandang Menjangan telah berusia 100 tahun.

Lalu bagaimana kisah Kandang Menjangan? Dan bagaimana kondisi tempat ini sekarang? Berikut uraiannya:

1. Kisah Kandang Menjangan

Kandang Menjangan (Harry Purwanto/Flickr)

Kandang Menjangan berada di Kelurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut berbagai sumber Kandang Menjangan telah berusia ratusan tahun.

Dimuat dari Jogja Daily, tempat ini diawali dari cerita Raja Mataram Islam kedua yang bernama Prabu Hanyokrowati. Dirinya mempunyai kegemaran berburu kidang atau kijang. Ketika berburu, dirinya selalu ditemani banyak orang.

Dalam bahasa Jawa berburu dengan orang banyak ini dinamakan dengan ngeroyok atau ngopyok. Kemudian setelah bertemu seekor kijang, mereka akan keroyokan mengepung, menghalangi-halangi dan berjalan kesana kemari seperti hanya gerakan orang menari.

  Taman Junghuhn: jejak awal penanaman kina di Hindia Belanda yang kini terbengkalai

“Sebagian orang yang berada di situ membunyikan alat musik seadanya, seperti menabuh kentongan. Tujuannya, agar kijang tersebut dapat ditangkap dengan mudah oleh mereka,” tulis Wahyudiahadi dalam Raja Mataram Berburu Kijang di Kampung Krapyak.

Kegiatan tersebut yang dinamakan ngrapyak dan ngroyok atau ngopyok. Melalui kegiatan perburuan kijang oleh Prabu Hanyokrowati bersama orang banyak inilah yang menandai berdirinya Kampung Krapyak.

Lalu kijang yang sudah terkepung tersebut digiring terus dari timur ke barat sampai ke lapangan yang terletak di selatan RS Patmasuri. Lapangan di selatan RS Patmasuri inilah yang digunakan untuk mengandangkan kijang hasil buruan,

“Berdasarkan ini, wilayah tersebut diberi nama Janganan, yang berasal dari kata menjangan (kijang),” ucapnya.

2. Mengubah hutan

Kandangan Menjangan (Novia Hadiputri/Flickr)

Setelah zaman Mataram Islam, raja lain yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Sultan ini yang kemudian membangun Panggung Krapyak secara permanen dan megah.

Warga Krapyak Hasanuddin menceritakan, wilayah Krapyak adalah hutan lebat yang ditumbuhi beragam pohon seperti beringin, randu, dan bambu. Selain itu digunakan sebagai tempat berburu oleh raja-raja Mataram.

  Tradisi Lebaran Ketupat dan pesan tentang kearifan lingkungan

“Dari cerita yang saya tahu, dulu kerabat raja kalau memantau hewan buruan, ya dari atas panggung itu,” ujarnya yang diwartakan Radar Jogja.

Panggung Krapyak sendiri berbentuk persegi empat seluas 17,6 meter x 15 meter. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi semen cor dan disusun ke atas hingga setinggi 10 meter.

Bangunannya tampak kokoh, meski beberapa bagian sempat mengalami kerusakan akibat gempa dahsyat yang melanda Jawa Tengah dan Yogyakarta pada 2006 lalu. Beberapa orang menduga Kandang Menjangan juga digunakan sebagai pos pertahanan.

Konon dari tempat ini gerakan musuh dari arah selatan bisa dipantau sehingga bisa memberikan peringatan dini kepada Keraton Yogyakarta, bila terjadi serangan. Para prajurit pun secara bergantian ditugaskan untuk berjaga di tempat ini.

“Sekaligus berlatih berburu dan melatih kemampuan berperang.”

3. Filosofi Kandang Menjangan

Kandang Menjangan (aje gile/Flickr)

Arsitektur bangunannya cukup unik. Setiap sisi bangunan memiliki sebuah pintu dan buah jendela. Pintu dan jendela ditutup dengan pagar besi yang tidak rapat sehingga bagian dalam bisa terlihat dari luar.

  Kecintaan pada alam dan cara Raden Saleh melukisannya

Bagian bawah pintu dan jendela berbentuk persegi tetapi bagian atasnya melengkung, seperti rancangan pintu dan jendela di masjid. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pada lantai atas berupa ruangan terbuka yang cukup luas dan dibatasi pagar.

Daffa Satrio Wibowo menyebut sekilas bangunan ini menciptakan suasana nyaman dan tenang yang diperoleh raja, bahkan saat berburu. Sekaligus membuat raja berburu dengan rasa nyaman dan aman.

“Leluasa mengintai tanpa perlu takut atau khawatir diserang oleh hewan buas ketika berburu,” tulisnya dalam Kandang Menjangan: Tempat Berburu Para Raja Yogyakarta.

Menurutnya bila dilihat dari sisi simbolis dan filosofis, Kandang Menjangan ini memiliki makna sebagai awal di mana manusia dilahirkan dari rahim seorang ibu atau bisa juga bermakna benih awal manusia.

Ditandai dengan adanya Kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak sebagai lambang benih manusia. Mengunjungi Panggung Krapyak, berarti mengunjungi salah satu banguanan penting bagi Kraton Yogyakarata.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya