Situs Batu Gajah dan cerita harmoni alam masyarakat Batak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Situs Batu Gajah (BBKSDA_Sumut/Instagram)

Di Kecamatan Dolok Panribuan terdapat sebuah cagar budaya yaitu situs Batu Gajah. Situs ini merupakan salah satu situs peninggalan masa lalu, yaitu masa megalitik yang berfungsi sebagai tempat melaksanakan upacara pemujaan roh leluhur.

Pada situs ini terdapat beberapa relief binatang yang dianggap banyak manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Kompleks Megalitik Batu Gajah merupakan kawasan larangan atau natuurmonument. Telah ditetapkan semenjak masa pemerintahan Hindia-Belanda.

Lalu mengapa situs bersejarah ini cukup penting? Dan apa maknanya bagi masyarakat sekitar? Berikut uraiannya:

1. Situs bersejarah

Situs batu gajah (BKSDA_Sumut/Instagram)

Wisata alam Batu Gajah terletak di Dusun Pamatang, Nagori Negeri Dolok, Kecamatan Dolon Panribuan Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatra Utara. Batu Gajah merupakan satu di antara beberapa Cagar Budaya Alam Megalitik yang telah ditetapkan pemerintah sebagai situs yang dilestarikan.

Keputusan ini berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.88/PW.007/MKP/2011. Pada 17 Oktober 2011. Dilansir dari Kebudayaan.Kemendikbud.go.id, Batu Gajah telah ditetapkan pemerintah Hindia Belanda sebagai kawasan larangan.

Hal ini sebagaimana tertera dalam Zelfbestuur Besluit 1924 No.18 tanggal 18 April 1924, dengan luas wilayah sekitar 0,8 hektare. Di sana terdapat beberapa ukiran di bagian teras dan dinding batu seperti gajah, ular, harimau, kerbau, relief manusia, serta relief yang diduga merupakan kepala kerbau.

  Tidak hanya di Timur Tengah, fenomena laut mati juga terdapat di Indonesia

Ukiran figur hewan dan manusia tersebut dibagi menjadi tiga pengelompokan tempat. Figur ular dan gajah masing-masing menempati gundukan pertama dan gundukan dua teras 1. Sementara figur harimau menempati teras 2.

Di teras 3 atau yang tertinggi merupakan tempat khusus dengan pahatan patung kerbau, relief manusia, serta relief yang diduga merupakan kepala kerbau. Batu gajah diapit dua sungai yaitu Bah Bakisat dan Bah Sipinggan. Persis di sebelah timur situs itu menjadi perpaduan kedua sungai.

2. Beragam mitos

Situs batu gajah (BKSDA_Sumut/Instagram)

Bagi masyarakat sekitar banyak mitos beredar tentang Megalitik Batu Gajah ini. Ceritanya tempat itu sebagai kutukan dan luapan amarah Puang Siboro kepada jadi Raja, penguasa Dolok Panribuan yang tidak mampu mencegah incest antara kedua anak kembar Puang Siboro.

“Jika kamu menjaga anak lelaki dan perempuanku, maka mereka tidak akan membuat noda. Tetapi karena kamu tidak menjaga anak-anakku maka akhirnya aku tak punya anak. Oleh karena itu jika pintu air berair, maka kamu akan diinjak gajah, dimakan harimau, digigit ular, dan binatang piaraanmu akan hilang dicuri!”

  5 hewan yang muncul dalam Alquran yang perlu diteladani

Kisah Puang Siboro begitu populer di kalangan masyarakat yang tinggal di sekitar Kompleks Megalitik Batu Gajah. Jika diperhatikan dengan seksama figur-figur binatang “eksekutor kutukan” itu, semuanya dipahatkan di teras tertentu Kompleks Megalitik Batu Gajah.

Ketiga figur hewan pembawa kutukan tersebut tidak ada yang menempati Teras III. Teras tertinggi yang diasoasikan sebagai tempat suci (banua ginjang). Melainkan di Teras I dan Teras II yang merupakan tempat kejahatan masih beredar dalam kehidupan manusia di dunia fana.

Di Teras III atau yang tertinggi merupakan tempat khusus dengan pahatan patung kerbau, relief manusia, serta relief yang diduga kepala kerbau. Berbeda dengan tiga figur hewan sebelumnya, figur kerbau dan cecak diyakini memberikan pengaruh positif.

3. Harmoni alam

Situs Batu Gajah (BBKSDA_Sumut/Instagram)

Kedua figur hewan ini seringkali disematkan sebagai ornamen penghias bangunan. Terutama yang berfungsi sebagai hunian raja dan masyarakat. Di rumah adat masyarakat Simalungan terdapat kepala kerbau yang dibentuk dari ijuk.

Tempat menancapnya tanduk kerbau asli, yang disebut pinar uluni harbou. Berfungsi sakral untuk menghalau segala marabahaya terhadap tempat tinggal mereka. Ornamen cecak dan kerbau juga bernilai profan yang tercermin dari nilai estetika gaya seni bangunan khas etnis Batak Simalungun.

  Ragam cerita sejarah Sungai Ciliwung, sumber kehidupan masyarakat Jakarta

Prof Harry Truman Simanjuntak menyadari hal itu dalam kajian di Kompleks Megalitik Batu Gajah pada 6-10 Agustus 2018 menyatakan bahwa keistimewaan situs tersebut adalah hubungan antara fakta dan mitos (tradisi megalitik).

“Tradisi ini berkembang pada masa sejarah (masa klasik/perkembangan kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara),” paparnya.

Puang Siboro merupakan figur-figur yang dikisahkan dalam cerita rakyat serta kasus yang melatarbelakangi kutukan tersebut merupakan fakta atau benar keberadaannya pada masa lampau. Sementara kutukan-kutukan merupakan mitos.

“Lebih tepatnya suatu kiasan untuk menerangkan hukuman berat bagi siapa saja yang melanggar hukum adat serta merusak alam,” jelas Harry.

Bagi Harry menjaga kelestarian lingkungan tampaknya sudah mendarah daging dalam setiap individu masyarakat Batak Simalungan. Salah satunya dengan konsepsi tanah larangan. Mereka mengembangkan metode untuk menjaga keseimbangan ekosistem tempat tinggal mereka.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya