Soe Hok-gie dan Mapala sebagai perjalanan mencintai alam dan rakyat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Soe Hok gie (suara orang pinggiran/Flickr)

Sebagai seorang pendaki, tentulah nama Soe Hok-gie bukanlah sosok yang asing lagi. Selain menjadi seorang aktivis, pria yang lahir di Jakarta pada tanggal 17 Desember 1942 ini terkenal sebagai pecinta alam.

Bahkan karena cintanya terhadap alam, dirinya pun sampai meninggal di Gunung Semeru tepatnya pada tanggal 16 Desember 1969 pada umur 26 tahun. Kecintaan Soe Hok-gie dengan gunung pun disebarkan kepada rekan-rekannya.

Lalu mengapa Soe Hok-gie memilih gunung sebagai pelarian? Dan bagaimana cara dia memperkenalkan kecintaan perjalanan naik gunung kepada rekannya? Berikut uraiannya:

1. Soe Hok-gie dan alam

Nicholas Saputra jadi Hok-gie (Miles film/Flickr)

Soe Hok-gie adalah aktivis mahasiswa yang terkenal begitu vokal ketika masa Presiden Soekarno. Selain itu Hok-gie, juga mendirikan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia bersama rekan-rekannya.

Herman Onesimus Lantang, rekan Hok-gie di Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengutarakan alasan mengapa sahabatnya itu memilih naik gunung. Salah satunya adalah Hok-gie begitu kaku soal perempuan.

“Ya..daripada main cewek? Gunung dinaikin nggak bakalan bunting, tahu nggak lu? ucap Herman sambil terkekeh yang diwartakan Seri Buku Tempo: Gie.

Selain soal perempuan, menurut Herman, alasan mengapa Hok-gie memilih mendaki gunung adalah mengusir kejenuhan atas konflik antar organisasi kemahasiswaan pada zaman itu. Banyak organisasi mahasiswa yang masuk sebagai onderbouw para politik tertentu.

  Keagungan Gunung Gede Pangrango, tempat sakral bagi masyarakat Sunda

Sama dengan Hok-gie, Herman juga muak dengan iklim politik kampus. Karena dalam benaknya ide membentuk wadah untuk menampung mahasiswa yang ogah digolong-golongkan ke dalam partai politik tertentu dan lebih senang berkegiatan di alam bebas.

Gagasan Hok-gie itu kemudian disambut rekan-rekannya di Fakultas Sastra. Dirinya kemudian memimpin rapat pembentukan organisasi pendaki gunung di Ciampea Bogor, 11 Desember 1964 yang kelak disebut Mapala Prajnaparamita (cikal bakal Mapala UI).

“Nama Prajnaparamita diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti Dewi Pengetahuan,” paparnya.

2. Nomor 007

Soe Hok gie (suara orang pinggiran/Flickr)

Pelantikan anggota baru berlangsung lima bulan setelah anggota Prajnaparamita berdiri. Hok-gie kebagian nomor 007. Dijelaskan oleh Herman, nomor itu bukan Hok-gie yang memilih, kebetulan saja, dan tidak ada hubungan dengan agen rahasia ‘James Bond’.

Tetapi diakui oleh Herman, peran Hok-gie di Mapala boleh dibilang mirip dengan mata-mata Inggris fiktif tersebut. Terutama soal bagaimana menyakinkan para orang tua agar mengizinkan anaknya naik gunung.

“Hok-gie orangnya sangat santun. Dia juga pintar ngomong. Jadi untuk, merayu orang-orang kaya di Menteng yang anaknya mau diajak naik gunung. Hok-gie sama gua yang maju,” kata Herman.

  Kesetiaan anjing yang terekam oleh Alquran dalam kisah Ashabul Kahfi

Herman akan menjaminkan anak-anak yang mereka ajak itu sungguh-sungguh dijaga dan Hok-gie akan memaparkan alasan-alasan mendasar mengapa seorang mahasiswa harus naik gunung yang termuat dalam tulisanya di sebuah artikel.

“Tujuan Mapala ini adalah mencoba membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah, air, rakyat, dan almamaternya,” ujar Hok-gie dalam artikelnya berjudul Bersama Mahasiswa UI Mengikuti Kembali Jalan yang Sudah Hilang di Pangrango.

3. Merayu perempuan

Soe Hok-gie (Wieke Brian/Flickr)

Ternyata Hok-gie tidak hanya menggunakan gagasan-gagasan itu untuk meluluhkan hati orang tua, tetapi juga mahasiswa. Julianti Taluki Bekti, anggota Mapala nomor 021 merupakan salah satu korban.

Perempuan yang disapa Luki ini mengenal kegiatan pendakian dari Hok-gie. Sebagai mahasiswa baru di Fakultas Sastra, dirinya wajib mengikuti perjalanan ke Gunung Gede Pangrango di Kabupaten Bogor yang dirancang Hok-gie.

Awalnya dirinya tidak bisa ikut karena sakit. Tetapi dirinya ikut hadir di kampus untuk mengantar teman-teman yang berangkat pada perjalanan pertama itu. Hok-gie kemudian menyatakan akan mempersiapkan perjalanan khusus bagi mereka yang tidak bisa ikut.

  Butuh perhatian serius, ini 5 masalah lingkungan paling besar di Indonesia

Hok-gie lantas memenuhi janjinya, dia mengajak Luki dan teman-teman lainnya yang belum sempat mendaki Gede-Pangrango. Pendakian pada sekitar Februari 1967 ini menjadi perjalanan naik gunung yang pertama bagi Luki.

Tetapi setelah perjalanan tersebut kemudian membuatnya terus-menerus ingin naik gunung. Luki bertutur dirinya ketagihan karena mendapatkan sensasi bisa mengalahkan diri sendiri. Lebih lagi, perjalanan di bawah bimbingan Hok-gie memberikan banyak pengalaman.

“Hok gie memperkenalkan kami dengan lurah dan anak-anaknya serta mengajak kami tinggal di sana,” paparnya.

Dijelaskan oleh Luki, Hok gie ketika dalam perjalanan sering mengutarakan pemikirannya tentang hal-hal berbau masyarakat. Salah satunya menghormati orang lain meskipun memiliki perbedaan pandangan.

Hok gie memang pandai bercerita, menurut Herman, sahabatnya itu memiliki wawasan yang luas. Ketika sudah bercerita, Hok gie akan membius orang dalam obrolannya dan semua orang akan diam mendengarkan.

“Bukan karena disuruh, tapi karena isi pembicaraannya memang menarik. Apa saja dia bisa omong: seni, sejarah, politik, bahkan teori tentang cinta,” tuturnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya