Sungai Brantas dan jejak sejarah perdagangan internasional

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sungai Brantas (Arif Widianto/Flickr)

Perahu tambang yang dikemudikan para nelayan dari Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur merupakan sisa kejayaan transportasi sungai pada era kerajaan yang muncul silih berganti di sepanjang aliran Sungai Brantas.

Pada masa kerajaan dahulu kala, fungsi penyeberangan dengan perahu tambang yang disebut sebagai penambangan itu sangat vital, karena menghubungkan wilayah pusat dan juga daerah.

Lalu bagaimana peradaban sungai memajukan masyarakat? Dan apa kondisinya saat ini? Berikut uraiannya:

1. Peradaban Sungai Brantas

Sungai Brantas (Rofiq Alichwan/Flickr)

Setiap hari Mulyadi (37) dan empat kawannya bolak-balik menyeberangi Sungai Brantas dengan perahu tambang. Di atas perahu sepanjang 5 meter itu, mereka membawa penumpang beserta sepeda motor, sepeda pancal, cabai, beras, dan ikan.

Pekerjaan yang dilakoni Mulyadi beserta empat kawannya itu sudah dilakukan pendahulu mereka, sekitar 10 abad silam, ketika sungai menjadi jalur transportasi vital yang menghubungkan kerajaan di pedalaman dengan dunia luar.

Perahu tambang itu merupakan sisa kejayaan transportasi sungai pada era kerajaan yang muncul di sepanjang aliran Sungai Brantas, Jawa Timur, mulai Kerajaan Mataram Mpu Sindok (akhir abad 9 Masehi) hingga masa akhir Kerajaan Majapahit (16 Masehi).

“Namun jika dahulu perahu tambang murni digerakkan dengan tenaga manusia, kini Mulyadi dan teman-temannya mendapat tenaga tambahan dari mesin diesel,” tulis Idha Saraswati dan Abdul Latief dalam Tanah Air: Jejak Perdagangan Internasional di Brantas terbitan Kompas.

Para penumpang yang ikut menyeberang ditetapkan tarif Rp1.000, selama sekitar 10 menit ikut menyeberang. Dia bekerja mulai pukul 07.00 hingga pukul 14.00 dilanjutkan dari pukul 19.00 hingga 06.30.

  Asal-usul tradisi Botram yang bertahan hingga saat ini di masyarakat Sunda

Disebutkan pada masa kerajaan dahulu, fungsi penyeberangan dengan perahu tambang yang disebut sebagai penambangan itu sangat vital karena menghubungkan wilayah pusat dan daerah.

“Oleh karena itu, posisi tukang tambang seperti Mulyadi lebih dimuliakan,” paparnya.

Idha menuliskan pada masa itu, Sungai Brantas jauh lebih lebar daripada saat ini. Perahu tambang menghidupkan aktivitas perdagangan antardaerah. Pasar dan pusat pemerintahan di daerah biasanya tumbuh di sekitar lokasi tambangan.

2. Lokasi penting

Sungai Brantas (Arif Widianto/Flickr)

Raja Majapahit, Hayam Wuruk yang melihat fungsi vital penambangan bagi negerinya mengeluarkan Prasasti Canggu (1358 Masehi). Di prasasti itu disebutkan hak-hak istimewa yang diberikan kepada para penjaga tempat penyeberangan sungai.

Disebutkan desa-desa di pinggir sungai yang menjadi lokasi penambangan merupakan daerah perdikan sebagai imbalan atas kewajiban menyeberangkan penduduk dan pedagang secara cuma-cuma.

“Dengan cara itu, warga dilibatkan untuk menjaga fasilitas penyeberangan,” kata M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang.

Dwi Cahyono mencatat ada 34 desa penambangan di Sungai Brantas dan 44 desa penambangan di Bengawan Solo dalam prasasti tersebut. Kepustakaan Inggris menyebut prasasti itu dengan istilah ferry charter.

  Peran sungai dan laut dalam jejak peradaban Pulau Kalimantan

“Titik-titik penambangan menjadi semacam pelabuhan transit bagi perahu-perahu yang berlayar dari Pelabuhan Ujung Galuh (Surabaya) ke ibu kota Majapahit,” paparnya.

Berdasarkan berita dari China dari Dinasti Ming (abad ke 14 Masehi), setiap kapal asing yang hendak menuju Majapahit pertama kali singgah di Pelabuhan Tuban, Gresik, lalu Surabaya dan akhirnya Majapahit.

Dari Surabaya, jung (kapal) asing tidak bisa masuk ke pedalaman. Mereka menggunakan perahu yang lebih kecil dan berlayar ke Canggu yang berjarak sekitar 40 kilometer. Canggu kala itu pelabuhan dengan pasar yang ramai dikunjungi.

3. Pelabuhan internasional?

Sungai Brantas (Dioga Yoga/Flickr)

Jejak hiruk-pikuk perdagangan internasional di Pelabuhan Canggu masih samar-samar. Desa Canggu boleh jadi merupakan bukti eksistensi pelabuhan Canggu masa silam. Hal ini juga bisa dilihat dari toponimi yang melekatnya yang tidak berubah.

“Toponimi cenderung menunjuk masa lalu yang keakuratannya lebih terjamin. Namun sejauh ini tidak ada registrasi situs dan berita otentik yang menunjukkan bahwa lokasi Pelabuhan Canggu berada di Desa Canggu,” kata Kepala Seksi Pelestarian dan Kemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan, Widodo.

Widodo menyebut generasi tua penduduk asli Canggu yang masih tersisa meyakini bahwa desanya adalah lokasi Pelabuhan Canggu semasa Kerajaan Majapahit. Apalagi pada tahun 1942, ada penduduk Dusun Kedung Sumur yang menemukan perahu pecah.

  Teladan Nabi Yusuf dalam upaya membangun ketahanan pangan

“Bahkan dari cerita mbah-mbah, di Canggu ini dulu ada perahu milik Dampu Awang yang pecah saat hendak meninggalkan pelabuhan,” kata Munasir (90), warga Dusun Kedung Sumur, Desa Canggu.

Munasir menunjukan bukti lain berupa makam tua di pemakaman Dusun Kedung Sumur. Makam itu dipercaya milik Cheng Hwie atau Shang Hwie, saudagar asal China, sisa makam tua itu masih bisa dikenali dengan melihat batu nisannya yang terbuat dari bata merah.

Mbah Misno (59), juru kunci Makam Kedung Sumur, meyakini bahwa Pelabuhan Canggu yang dibangun pada 1271 oleh Raja Singasari, Wisnuwardhana terletak di desanya. Hal ini dibuktikan pada 1960 an di Kedung Sumur sempat muncul bangkai perahu kayu.

Menurut Dwi Cahyono, Wisnuwardhana membangun pelabuhan di Canggu karena lokasinya berada di ujung percabangan Sungai Brantas sebelum pecah menjadi Sungai Kalimas dan Sungai Porong.

“Lokasinya strategis. Di situ mereka membangun benteng untuk menjaga pertahanan sekaligus untuk menarik cukai,” ujarnya.

Raja-raja sesudah Wisnuwardhana tinggal meneruskan kebijakan itu. Puncaknya tentu terjadi pada masa Kerajaan Majapahit. Canggu menjadi pelabuhan pedalaman yang ramai dikunjungi pedagang dari banyak bangsa.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya