Tebu ajaib dari Jawa, cerita kegemilangan industri gula di Pasuruan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi tebu | @sugar mils (flickr)

Hampir dua abad, tanam paksa yang disebut oleh pemerintah Hinda Belanda sebagai budaya menanam atau Cultuurstelsel diterapkan di wilayah Nusantara. Tenaman tebu menjadi salah satu tanaman yang wajib ditanam oleh petani pada masa tanam paksa tersebut.

Hal ini menjadikan industri tebu pernah termasyur di seantero Hindia Belanda, bahkan di dunia pada abad 19 dan 20. Pada masa itu Pasuruan mencatatkan tinta emas dalam sejarah gula Hindia Belanda, bahkan dunia. Di kota ini menjadi pusat dari industri gula pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Lalu bagaimana tebu menjadi salah satu komoditas yang mengharumkan nama Hindia Belanda? Apa yang menjadikan Pasuruan dipilih sebagai pusat industri gula di Nusantara? Berikut uraiannya:

1. Perkenalan dengan tebu

Tebu (Flickr.com)

Tebu (Saccharum officinarum L) diduga berasal dari Papua Nugini. Diperkirakan pertama kali ditemukan pada 8.000 sebelum masehi. Ekspansi tenaman ini ke arah barat Papua Nugini berlangsung pada 6.000 SM. Kemudian tanaman ini mulai menyebar ke Indonesia, Filipina, dan India.

Pada waktu itu, tanaman ini belum mendapat perhatian dari bangsa pribumi di Indonesia. Sebab penduduk asli di Pulau Jawa lebih memilih mengonsumsi gula merah. Masyarakat ketika itu tidak tertarik memproses nira tebu menjadi gula kristal.

  Burung hud hud, pembawa informasi Nabi Sulaiman yang jadi simbol negara Israel

Namun, bagi orang Eropa komoditas gula sangat penting. Karena itulah mereka mulai membudidayakan tanaman ini di kawasan dunia, yaitu Indonesia, India, Filipina dan kawasan Pasifik. Disebut, VOC menjadi yang pertama kali mengekspor gula dari Batavia.

Tetapi banyak catatan sejarah yang menyebut Banten sebagai lokasi pertama pembuatan gula kristal di Indonesia. Hal ini bedasarkan adanya batu slinder di Museum Banten Lama dan lukisan peta Kota Banten tahun 1595 yang memperlihatkan kebun-kebun tebu monokultur.

Setelah tanam paksa dihapus, pabrik gula diharuskan menanam tebu sendiri dengan sistem sewa tanah dari petani. Pada tahun 1930 industri gula mulai berkembang pesat, sehingga di Pulau Jawa terdapat 179 buah pabrik gula dan 16 perusahaan tebu sehingga Jawa terkenal penghasil tebu kedua setelah Kuba.

2. Pusaka Pasuruan 

Pabrik gula Pasuruan (Kemendikbud)

Lima belas tahun setelah berakhirnya tanam paksa, Dr IHF Sollewijn Gelpke seorang inspektur kepala pertanian zaman Hindia Belanda tengah serius melakukan penelitian. Dirinya menulis artikel selama empat hari berturut di harian De Locomotief pada Maret 1885 tentang permasalahan industri gula.

  Cara orang Jawa membaca pertanda bencana alam

Gelpke mendesak didirikannya lembaga penelitian di gula di Jawa. Sejak saat itu, lembaga penelitian gula pun bermunculan, Proefstation Het Midden Java (Semarang, 1885), Proefstation Suikerret in West Java (Tegal, 1886), dan Proefstation Oost-Java (Pasuruan, 1887).

Pada awal abad ke 20, melalui lembaga Proefstation Oost-Java inilah, Pasuruan sebuah kota kecil di Jawa Timur (Jatim) kemudian terkenal hingga seantero dunia. Kini peninggalan kolonial ini masih mempunyai fungsi yang sama, namun dengan label baru, yaitu Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).

“Sayangnya, sebagian bangunan lama sudah dihancurkan untuk pembangunan gedung P3GI pada tahun 1977,” tulis Mahandis Yoanata Thamrin dalam artikel bertajuk Pusaka Pasuruan: Dunia Mengakui Tebu Ajaib Berasal dari Tanah Jawa yang dimuat National Geographic.

Selama lima tahun, Proefstation Oost Java di Pasuruan mulai berkiprah. Direktur lembaga tersebut Dr JH Wakker, memulai program penyilangan tanaman tebu secara konvensional. Sebuah varietas perdana yang diharapkan tahan hama, Sereh dilahirkan dengan kode POJ 100.

3. Tebu ajaib dari Jawa

Gula (Flickr.com)

Pada 1907, atas pertimbangan keuangan, cangkupan program dan sinkronisasi program. Maka Proefstation Suikerret in West-Java dan Proefstation Oost-Java digabung menjadi Proefstation voor de Java-suikerindustrie yang berkantor tetap di Pasuruan. 

  Ketika Alquran jelaskan fenomena kegelapan di lautan yang dalam

Tahun-tahun berikutnya POJ 2878 asal Pasuruan telah menyebar ke perkebunan tebu di penjuru dunia. Ada catatan melaporkan, tebu asal Pasuruan mulai diperkenalkan di Karibia dan Lousiana pada 1924 yang menyelamatkan indusri gula mereka dari hama Sereh.

Pada 1930-1933 varietas POJ 2878 telah bersemai di sisi barat laut Amerika Selatan, Columbia. Sampai hari ini perkebunan-perkebunan tebu masih mengadopsi hasil pemuliaan tebu asal Pasuruan, salah satunya Vietnam. 

“Negara tersebut mulai menggunakan hasil pemuliaan tebu POJ 3016 yang kala itu mampu menghasilkan 18 ton gula per hektare,” jelas Mahandis. 

Pasuruan pernah mencatakan kotanya dalam tinta emas perdagangan dunia. Masa-masa yang begitu manis layaknya gula. Namun kenangan kejayaan ini telah terlupakan, entah kapan Pasuruan kembali menghentak dunia? 

Foto:

  • Photolanda (Flickr)
  • Kemendikbud
  • Kitty Nancy (Flickr)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya