Teladan Nabi Yusuf dalam upaya membangun ketahanan pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sawah (Arya Suryadi/Flickr)
Sawah (Arya Suryadi/Flickr)

Ketahanan pangan merupakan komponen utama yang dapat menentukan kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Bahkan sangat berpengaruh terhadap stabilitas negara di semua sektor mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial dan pertahanan keamanan.

Namun, mungkin banyak yang lupa bahwa orang yang menggagas konsep ketahanan pangan itu adalah Nabi Yusuf (1745 – 1635 sm). Salah satu dari 25 nabi ini memberikan bimbingan dan meletakkan dasar-dasar prinsip ketahanan pangan ini lebih dari ribuan tahun silam.

Lalu bagaimana konsep ketahanan pangan dari Nabis Yusuf? Dan apakah kita bisa menerapkan untuk masa kini? Berikut uraiannya:

1. Nabi Yusuf dan takwil mimpi

Menanam padi (Endang Mu'min/Flickr)
Menanam padi (Endang Mu’min/Flickr)

Pada suatu ketika, Raja Mesir, Amenhotep IV bermimpi sesuatu yang selama ini tidak pernah dialaminya. Saat itu raja bermimpi tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi dan tujuh tangkai gamdum yang hijau serta tujuh tangkai gandum yang kering (QS Yusuf: 43),

Raja Mesir ini kemudian mencari jawaban dari mimpinya itu, banyak paranormal dan orang-orang pintar yang dipanggil ke istana. Namun tidak satupun yang mampu menterjemahkan mimpi sang Raja. Jawaban atas kegalauan ternyata datang dari Nabi Yusuf yang ketika itu berstatus narapidana.

  5 makanan tertua di dunia yang ditemukan arkeolog, beberapa dikonsumsi sehari-hari!

Nabi Yusuf dengan kecerdasan intelektualnya bisa menterjemahkan mimpi sang raja yang akhirnya melahirkan sebuah konsep ketahanan pangan. Dirinya memprediksi bahwa di seluruh kawasan kerajaan Mesir akan mengalami 7 tahun musim dengan curah hujan normal yang akan disusul dengan 7 tahun kemarau panjang (QS Yusuf: 48).

Karena itulah, Nabi Yusuf menyarankan kepada sang raja untuk mengambil langkah kongkrit, supaya mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan ditimbulkan akibat kemarau panjang itu. Melihat kecerdasan Yusuf, raja pun menuruti saran ini.

“Setelah melihat kecerdasan dan kemampuan Nabi Yusuf dalam menganalisa kondisi wilayah kerajaan, akhirnya raja Mesir menyerahkan urusan ini kepada Nabi Yusuf dengan mengangkatnya sebagai Menteri Urusan Pangan,” tulis Fathan Muhammad Taufiq dalam artikel Nabi Yusuf AS Peletak Konsep Dasar Ketahanan Pangan.

2. Langkah konkret Nabi Yusuf

Menaman padi (agung tri laksono/Flickr)
Menaman padi (agung tri laksono/Flickr)

Nabi Yusuf kemudian mulai menyusun konsep dan strategi ketahanan pangan. Dirinya memang menilai masalah pangan adalah hal yang paling urgen ketika itu. Nabi Yusuf kemudian menyusun rencana pembangunan ketahanan pangan jangka pendek yaitu selama 7 tahun pertama.

“Hal ini sebagai bentuk antisipasi terhadap perkiraan terjadinya anomali iklim dan cuaca pada 7 tahun berikutnya,” ujar Fathan.

  Sudah swasembada beras, bagaimana kesejahteraan petani desa?

Kebijakan pertama memerintahkan seluruh rakyat Mesir untuk mengoptimalkan sumber daya lahan yang ada. Seluruh potensi lahan yang ada dimanfaatkan untuk mendukung program peningkatan produksi pangan, seperti penanaman dari sekali dalam setahun menjadi dua kali musim tanam dalam setahun.

Strategi ini terbukti sangat efektif meningkatkan produksi pangan. Hasil panen gandum meningkatkan drastis sampai dengan 2 kali lipat dari produksi sebelumnya dan karena ini rakyat hidup dalam kecukupan pangan.

Kebijakan kedua adalah membuat cadangan pangan dengan cara membangun lumbung-lumbung pangan di semua wilayah kerajaan. Rakyat diwajibkan untuk menyimpan setengah dari hasil produksi pertanian mereka pada lumbung-lumbung pangan yang dalam pengawasan dan koordinasi sang menteri.

Kebijakan ketiga adalah mengatur dan mengawasi distribusi cadangan pangan pada saat negara dalam kondisi rawan pangan. Dan ternyata prediksi Nabi Yusuf tentang perubahan iklim dan cuaca terbukti, Mesir dilanda kemarau berkepanjangan.

“Namun demikian, berkat kebijakan Nabi Yusuf membangun lumbung-lumbung cadangan pangan. Seluruh rakyat Mesir tidak sampai mengalami kekurangan pangan meskipun pada saat itu sama sekali tidak ada hasil pertanian apapun, sehingga stabilitas kerajaan tetap terjaga, tidak ada konflik sosial maupun gangguan keamanan, karena rakyat tetap dalam kondisi kecukupan pangan,” tulisnya.

  Padi hibrida, permata para petani Indonesia di masa depan

3. Belajar dari konsep Nabi Yusuf

Sawah (Arya Suryadi/Flickr)
Sawah (Arya Suryadi/Flickr)

Fathan menyebut setidaknya ada empat prinsip pokok ketahanan pangan yang  digagas Nabi Yusuf. Pertama adalah prinsip optimalisasi lahan, yakni melakukan usaha pertanian yang dapat menghasilkan produk berupa bahan pangan pokok.

Kedua prinsip manajemen logistik pangan di mana masalah pangan sepenuhnya dikendalikan langsung oleh pemerintah, yaitu memperbanyak cadangan pangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikan secara selektif pada saat ketersedian pangan masyarakat mulai berkurang.

Ketiga prinsip mitigasi bencana kerawanan pangan, yakni melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana kelaparan. Keempat prinsip deteksi dini dan prediksi anomali iklim dan cuaca, yaitu melakukan analisis terhadap kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim.

Karena itu menurut Fathan, bila Nabi Yusuf bisa melakukannya pada ribuan tahun lalu dengan hanya menggunakan intuisi dan ketajaman intelektual. Saat ini ketahanan pangan, jelas Fathan bisa didukung dengan berbagai kemajuan teknologi seperti mekanisasi pertanian, penggunaan benih-benih unggul,  pola tanam terpadu dan lain-lain.

“Saat ini sudah didukung dengan peralatan navigasi yang telah menggunakan teknologi satelit sehingga mampu menghasilkan data yang valid dan akurat,” ungkapnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya