Tembakau, cerita awal mula kedatangan “emas hijau” ke Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tembakau (Nicotiana tabacum) diduga merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan atau Amerika Utara. Setelah konsumsi tembakau menjadi gaya hidup masyarakat di Eropa. Sekitar awal abad ke 17, tembakau dibawa masuk ke Indonesia oleh kolonialisme barat.

Dalam literasi, kolonialisme barat ini terdiri dari bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda. Kemungkinan mereka menjadi pihak yang berperan untuk membawa tembakau ke Indonesia. Walaupun, secara etimologi, istilah tembakau sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yaitu tabaco.

1. Tembakau dan perjalanannya ke Nusantara

Perkerja kebun tembakau (Wikipedia)

Seorang sejarawan Belanda, Bernard Hubertus Maria Vlekk yang menulis karya monumental berjudul Nusantara: History of Indonesia (1959) menyebutkan bahwa tanaman tembakau pertama kali masuk ke Asia melalui orang-orang Spanyol yang singgah di Filipina pada abad ke 16.

Dalam lama Tirto.id, ditulis pada permulaan tahun 1600-an, tembakau mulai tiba di wilayah Nusantara dan ditanam secara menyeluruh. Kendati demikian, popularitas tembakau di Indonesia rupanya tidak membutuhkan waktu yang lama.

Pada akhirnya, Kompeni berusaha melakukan monopoli komoditi tembakau di tahun 1626. Pada waktu yang bersamaa, kebiasaan mengisap lintingan tembakau yang disulut ujungnya telah menjadi tradisi di kalangan elite lokal. Kala itu merokok dipandang sebagai alat representasi status sosial.

  5 hewan yang muncul dalam Alquran yang perlu diteladani

Dari catatan duta VOC di Jawa abad ke 17 yang dikumpulkan oleh Amen Budiman dan Onghokham dalam Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara (1987), Kesultanan Mataram adalah lingkungan yang cukup akrab dengan kretek.

Menurut beberapa orang utusan VOC, Sultan Agung dan Sunan Amangkurat I dikenal sebagai sosok yang gemar menghisap tembakau dengan menggunakan pipa perak. Pada Abad 19, tembakau lalu berubah menjadi salah satu komoditas unggulan Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada akhirnya pemerintah berharap bisa mendapatkan untung besar dengan cara memulai menanam tembakau secara besar-besaran melalui sistem tanam paksa. Dengan hal itu, perkebunan tembakau lalu bermunculan bertahap dari ujung timur Pulau Jawa, mulai dari Besuki, Kedu, Cirebon, hingga ke Batavia.

Mulai bermunculan para pemilik perkebunan yang melakukan monopoli terhadap tumbuhan berdaun lebar ini. Mereka dating dari berbagai kalangan mulai dari pekebun Belanda, orang-orang China di sekitar Batavia. Baru pada akhir abad ke 19, masyarakat pribumi baru mulai menguasai sektor budidaya dan pengolahan tembakau.

  Ironi buaya irian, Dianggap sakral oleh masyarakat adat tetapi tetap diburu

2. Budaya tembakau di Indonesia

Tembakau (Commons wikimedia)

Di lereng Sumbing-Sidoro-Prau, masyarakatnya masih sering melakukan ritual among tebal. Ritual ini merupakn salah satu dari empat ritual masyarakat setempat yang berkaitan dengan tembakau. Pasalnya among tebal dikenal sebagai upacara menjelang penanaman bibit hari pertama.

Ritual ini ditujukan untuk menghormati dan mengenang orang suci yang dipercaya sebagai orang pertama yang memperkenalkan bibit tembakau di daerah itu. Menurut kabar yang beredar, tembakau ini diperoleh pertama kali dari Ki Ageng Makukuhan dari Sunan Kudus.

Istilah mbako konon berasal dari bahasa Jawa yang berasal dari ucapan Ki Makukuhan: Iki tambaku!, perkataan itu terucap saat dia mengobati orang sakit dan seketika itu juga sembuh. Hingga akhirnya, tembakau dipercayai warga di Lereng Sumbing, Sindoro, dan Prau sebagai bibit tembakau yang ditanam di daerah mereka.

Ada juga masyarakat Madura yang percaya tentang cerita rakyat tentang sejarah tembakau dan hubungannya dengan seorang tokoh Bernama Pangeran Katandur. Istilah katandur memiliki arti menanam.

Sebutan ini disematkan kepada Habib Ahmad Baidlowi, seorang yang dikenal menjadi cikal bakal tanaman tembakau dan dikembangkan di Pulau Garam sejak abad ke-12. Beberapa komunitas adat Sunda, seperti Sunda Wiwitan Ciptagelar, Bayan (Welu Telu) juga menyakini tanaman tembakau mirip seperti tanaman cengkeh.

  Peran Mangrove yang membentuk perabadan bangsa Nusantara

3. Emas hijau yang jadi unggulan

Tembakau (Wikipedia)

Dikutip dari laman P2PTM Kemkes, pada 2018 dituliskan Indonesia menjadi negara penghasil tembakau terbesar keenam setelah China, Brazil, India, USA dan Malawi, dengan jumlah produksinya yang mencapai 136 ribu ton atau sekitar 1,91 persen dari total produksi tembakau dunia.

Adapun tiga provinsi yang merupakan penghasil tembakau terbesar di Indonesia, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah dengan tingkat insidensi mencapai 63,7 persen pada petani pemetik daun tembakau.

Inilah sejarah dari tembakau Indonesia, emas hijau bagi para petani tembakau. Komoditas legendaris yang masih memainkan peran bagi bangsa Indonesia. Baik secara ekonomi maupun juga kebudayaan.

Foto:

  • Dari berbagai sumber

Artikel Terkait

Artikel Lainnya