Timun suri, buah khas bulan puasa yang mengingatkan jati diri sebagai petani

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Potongan timus suri (Catherine/Flickr)

Selain iklan sirup, salah satu hal yang khas pada bulan puasa di Indonesia adalah hadirnya buah mentimun suri. Tetapi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya lebih senang menyebutnya timun suri, bawaan penyebutan ini karena orang Betawi gemar memendekkan kata.

Biasanya pasar-pasar serta di pinggir jalan akan dibanjiri berton-ton timun suri, mulai dari Tambun, Lebak, Cirebon, hingga Pandeglang. Timun suri jadi buah favorit dan utama paling dicari saat puasa. Rasanya tidak lengkap jika sore hari ketika berbuka puasa tidak ada timun suri.

Lalu dari mana sejarah timun suri berasal? Apa manfaat dari kuliner satu ini? Berikut uraiannya:

1. Sejarah timun suri

Timun suri (FX Sudarmadi/Flickr)
Timun suri (FX Sudarmadi/Flickr)

Disadur dari Sejarah Jakarta, meski timun suri ini adalah jenis buah yang tidak kenal musim dan bisa dipanen setiap 60 sampai 75 hari sekali, tetapi luar biasanya telah dikreasikan sedemikian rupa sehingga hanya muncul saat-saat bulan puasa.

“Keluarbiasaan timun suri pun bertambah kuat karena nongol hanya pada bulan puasa yang dianggap luar biasa bagi orang muslim bahkan oleh orang Betawi bulan puasa disebut sebagai “rajanya bulan”,” jelas JJ Rizal dalam artikel berjudul Timun Suri.

Walau begitu, jelas Rizal, timun suri dalam sejarah jawa sama sekali tidak berkait dengan rajanya bulan melainkan raksasa hutan. Buah timun suri medium perempuan sebagai karakter sentral dalam penokohannya cerita rakyat Timun Suri.

“Seorang putri cantik cerdik yang lahir dari pohon timun suri asuhan petani dengan lihai melawan raksasa rakus yang hendak menyantapnya,” jelas sejarawan Betawi ini.

  Semangat kelompok wanita tani upayakan ketahanan pangan desa

Sedangkan dalam sejarah panjang Jakarta, timun suri disebut telah dibudidayakan bersama sayur-sayuran dan terutama semangka yang terbaik oleh petani-petani Tionghoa miskin di ommelanden atau luar kota benteng Batavia, di sekitar Tanjung Kait, Tangerang, pada abad ke 18.

2. Memperkenalkan timun suri

Penjual timun suri (Johanes Christian/Flickr)
Penjual timun suri (Johanes Christian/Flickr)

Rizal menyatakan timun suri bukan termasuk bagian dari banyak tumbuhan yang dibawa dan diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa di Jawa. Namun Denys Lombard menyebut malah sebaliknya, tanaman ini dibawa oleh orang Tionghoa sepulang dari Nusantara untuk disebarkan ke negerinya.

Hal ini karena timun suri disebut tanaman labu dari Kunlun. Menurut Rizal, Kunlun adalah penamaan etnis yang sangat kabur untuk menyebut keseluruhan penduduk maritim di Asia Tenggara pada abad ke 6 Masehi.  Berlatar belakang hal itu jelaslah cerita rakyat Timun Mas adalah khazanah lama masyarakat petani Jawa.

Kepopuleran yang terus bertahan dan dibudidayakan juga oleh petani-petani Tionghoa di masa VOC. Petani-petani yang digarisbawahi sebagai ahli bertanam sehingga punya kebun-buah berkualitas dalam catatan Andries Teiseire dalam terbitan berkala pertama Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschapen (Lembaga Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia) menjelang akhir abad ke 18.

  Ahmad Fahrizal, petani muda dengan misi lestarikan varietas alpukat asli Jakarta

Popularitas timun suri yang bertahan bukan sekadar jejak sejarah yang terus berlanjut, namun saat masyarakat muslim ibu kota Jakarta dan sekitarnya memasukkannya ke dalam hidangan di ruang paling pribadi dan pada bulan paling istimewa mereka.

Nurcholis Madjid, jelas Rizal, pernah mengungkapkan bahwa lebaran adalah idul fitri memiliki makna asalnya dari id-al-fithr. Kata id adalah akar kata yang sama dengan awdah atau awdatun, adah atau adat-un dan istiadat un. Semua kata-kata ini mengandung makna “kembali” atau “terulang.”

“Artinya sesuatu yang diharapkan berulang sebagai adat kebiasaan. Melalui timun suri ada kebiasaan lama diingatkan bahwa adat kita sebagai masyarakat petani,” ucap Rizal.

3. Manfaat timun suri

Timun suri (Ageng Kurniawan/Flickr)
Timun suri (Ageng Kurniawan/Flickr)

Merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diambil dari bahasa Melayu klasik bahwa suri memang memiliki arti sore. Di sini sore bukan berarti buah ini nikmatinya hanya disantap ketika sore. Namun sore ini mengacu kepada suasana sejuk dan memang buah ini bersifat menyejukan tenggorokan serta tubuh.

  Mengintip kreativitas pendirian kebun organik di perkotaan garapan Sutomo

Selain itu, diambil dari kamus bahasa, kata suri juga bisa disimbulkan dengan sesuatu yang luar biasa. Pasalnya buah ini luar biasa sebab ukurunya lebih besar daripada mentimun biasa. Luar biasa bukan hanya dia disebut keluarga timun (cucumis sativus), padahal sesungguhnya keluarga jenis labu-labuan (cucurbitaceae).

Mentimun suri kaya akan nutrisi sehingga sangat mungkin berpotensi baik untuk kesehatan tubuh, terutama jika dikonsumsi secara rutin dan sesuai aturan. Banyaknya manfaat membuat buah ini sangat populer di bulan Ramadan.

Pertama rasa timun suri yang menyegarkan dan lembut dapat memanjakan lidah ketika berbuka. Kedua, rasanya yang hambar mirip alpukat, cocok jika ditambahkan dengan sirup dan susu. Manfaat timun suri yang umumnya banyak diketahui adalah dapat mencegah dan mengatasi sembelit.

Timun Suri mengandung vitamin C yang menurunkan risiko berbagai penyakit. Selain itu manfaat timun suri yang jarang diketahui adalah menjaga tulang tetap sehat. Selain itu juga ada kandungan nutrisi dalam timun suri yang memberi manfaat dalam pencegahan anemia.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya