Tradisi Karapan Sapi, simbol kebanggaan masyarakat Madura

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Karapan sapi (judex judex/Flickr)
Karapan sapi (judex judex/Flickr)

Karapan Sapi Merah merupakan acara lomba balapan sapi khas masyarakat Madura yang diselenggarakan setiap tahun. Biasanya diadakan pada akhir bulan Agustus atau awal bulan September. Tradisi ini tidak hanya menjadi sebuah lomba tetapi sebagai pesta rakyat yang sudah diselenggarakan secara turun temurun.

Sapi memang memiliki arti penting bagi orang Madura. Karapan Sapi pun diidentikan dengan dakwah Islam di Madura. Di Madura, sejak ratusan tahun lalu, sapi dipelihara dengan baik dan dikenal berkualitas. 

Lalu bagaimana kisah Karapan Sapi di Madura? Apa juga makna sapi di tempat ini? Berikut uraiannya:

1. Karapan Sapi

Karapan sapi (judex judex/Flickr)
Karapan sapi (judex judex/Flickr)

Dengan iringan saronen, orkes gamelan khas Madura, sapi-sapi itu diarak memasuki dan mengelilingi arena pacuan. Melemaskan otot-otot sekaligus memerkan keindahan pakaian (ambhin) dan aksesoris yang beraneka warna. Sesuai parade, pakaian dan seluruh aksesoris dilepas.

Kecuali hiasan kepala (obet) yang berfungsi memberikan rasa percaya diri dan keperkasaan sapi. Setelah itu perlombaan pun dimulai. Debu membumbung tinggi, sepasang sapi yang mengenakan kaleles, sarana pelengkap untuk dinaiki tukang tongkok (joki/sais), melaju kencang.

Adu cepat melawan pasangan sapi lainnya. Kaleles beberapa kali melayang ke udara sementara si joki berusaha mengendalikan dan menunjukkan keliahaiannya. Sorak sorai penonton menambah semarak perlombaan yang diadakan pada saat itu 

  Wajib tahu, ini 5 negara tertua yang pertama kali terbentuk di dunia

Pertandingan dilangsungkan dalam empat babak, yaitu babak pemilihan yang diikuti oleh semua peserta sehingga membagi peserta menjadi dua kelompok yaitu kelompok kalah dan menang. Lalu dilanjutkan dengan babak kedua, babak pemilihan kembali. Di sini sapi akan bertanding menurut kelompoknya masing-masing.

Babak ketiga, babak semifinal. Pada babak ini, kedua kelompok akan bertanding dan tiga peserta teratas dari tiap kelompok akan masuk ke final. Baru pada saat final, juara satu, dua, tiga akan ditentukan. Pemenangnya akan mendapatkan Piala Presiden.

2. Sejarah Karapan Sapi 

Karapan sapi (Alief Baldwin/Flickr)
Karapan sapi (Alief Baldwin/Flickr)

Itulah Karapan Sapi atau kadang ditulis Kerapan Sapi, atraksi budaya dan permainan tradisional masyarakat Madura, Jawa Timur. Hingga sekarang, belum jelas Karapan Sapi lahir. Ada versi peranan Kyai Pratanu yang menyebarkan Islam dengan sarana Karapan Sapi pada akhir abad ke 16.

Sapi memang memiliki arti penting bagi orang Madura. Menurut Sulaiman dalam Karapan Sapi di Madura, masyarakat percaya sapi memiliki raja. Raja sapi betina ada di Desa Gadding, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Sedangkan raja sapi jantan ada di Sapudi, sebuah pulau di sebelah timur Madura.

  Peringkat provinsi penghasil daging sapi terbanyak di Indonesia (2010-2021)

Sejak ratusan tahun lalu, sapi betina di Gadding dipelihara dengan baik dan dikenal berkualitas. Dari daerah inilah asal mula kontes sapi betina yang dikenal dengan istilah sape pajangan atau sape sono. Sementara Sapudi dikenal menghasilkan sapi jantan unggul yang dijadikan sapi kerap atau sapi untuk kerapan.

Cara-cara pemeliharaan sapi di Sapudi dimulai oleh Penembahan Wlingi (Wirobroto) sekira abad ke 14 an dilanjutkan anaknya, Adipoday. Dengan menaiki pasangan-pasangan sapi yang dipasang salaga (guru), para petani membajak sawah dengan gembira dan berlomba cepat selesai. 

“Demikianlah sebuah dongeng yang menyebutkan asal-usul kerapan sapi dari kata garaban, dari kerja pertanian di persawahan berevolusi menjadi pesta Kerapan Sapi,” jelas Sulaiman yang dikutip Indonesia Kaya.

3. Simbol kebanggaan

Karapan Sapi (Claude BARUTEL/Flickr)
Karapan Sapi (Claude BARUTEL/Flickr)

Terlepas berbagai versi, pacuan sapi kemudian menjadi atraksi budaya yang digemari masyarakat. Namun Karapan Sapi mulai berubah pada 1970 an, fungsinya bergeser dari tujuan awal sebagai hiburan, alat berkomunikasi, dan penanda awal tanam. Pelaksanaan Karapan Sapi mulai diorganisir, sapi kerap menjadi penanda status seseorang.

  Danau Kota Kaya dan Jejak Kejayaan Kerajaan Adonara di Pulau Flores

“Dalam hal ini hewan sapi statusnya menjadi hewan aduan, hewan pacuan, dia tidak lagi dipekerjakan untuk pertanian, dia khusus menjadi alat pemuas pemiliknya,” tulis Sumintarsih dalam “Makna Sapi Kerapa Dari Perspektif Orang Madura: Kajian Sosial Ekonomi dan Budaya.

Bagi sebagian besar masyarakat Madura, Karapan Sapi tidak hanya sebatas pesta rakyat biasa atau semata warisan turun-temurun. Karapan Sapi adalah simbol kebanggaan yang mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura. Sebab sapi yang digunakan bertanding adalah sapi-sapi berkualitas.

Dalam Karapan Sapi, harga diri para pemilik sapi dipertaruhkan. Kalau menang, mereka mendapat hadiah taruhan. Harga sapinya juga bisa membumbung tinggi. Sedangkan bila kalah, harga diri pemilik jatuh dan kehilangan uang yang tidak sedikit.

Dalam perkembangannya, muncul kritik atas kekerasan terhadap sapi dalam kerapan atau dikenal dengan istilah rekeng atau melecut badan sapi dengan cambuk berpaku agar berlari kencang. Pemerintah meminta tidak ada kekerasan dari Karapan Sapi, salah satunya dengan menyelenggarakan Piala Presiden.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya