Babeh Idin, pencipta hutan kota Pesanggrahan asli Betawi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Babeh Idin (instagram @sanggabuana_official)

Jakarta selama ini terlanjur dipandang sebagai kota padat penduduk yang tidak pernah bisa keluar seutuhnya dari permasalahan banjir saat musim hujan tiba. Apalagi jika bicara kaitannya dengan sampah yang menumpuk dan meluap dari sejumlah sungai di kota tersebut.

Bukan cuma Ciliwung, salah satu sungai yang juga dikenal kerap menjadi penyumbang terbesar dari luapan air yang menimbulkan banjir di Jakarta adalah Pesanggrahan. Bukan hanya karena air yang meluap, kondisi diperburuk karena memang lokasi bantaran dari sungai tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga Jakarta sendiri.

Tapi itu dulu, kini Pesanggrahan menjadi wilayah yang lebih terjaga bahkan jauh lebih baik. Semua itu terjadi berkat keringat dan aksi besar yang dilakukan oleh seorang warga asli Betawi, yang mendedikasikan puluhan tahun hidup untuk mencipta hutan di kawasan tersebut, yakni Babeh Idin.

1. Terciptanya hutan kota Pesanggrahan

Hutan Kota Pesanggrahan (beritajakarta.id)

Bukan Babeh Idin, nama asli dari sosok pegiat, pelopor, sekaligus pelestari lingkungan di bantaran sungai Pesanggrahan yang dimaksud adalah Haji Chaerudin. Dirinya diketahui sudah melakukan aksi pemeliharaan di sekitar bantaran sungai Pesanggrahan sejak tahun 1986. Ya, lebih dari 3 dekade.

  Mengenal 3 sosok pemuda aktivis lingkungan yang menginspirasi

Usianya sendiri saat ini diketahui sudah berada di kisaran kepala 6, tapi semangatnya untuk memelihara kelestarian lingkungan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun tetap terjaga.

Menukil swa.co.id, Babeh Idin menuturkan jika dulunya kawasan sungai pesanggrahan yang berada di kawasan Lb. Bulus, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan situasinya sangat memprihatinkan. Kotor, banyak sampah, kering, dan sama sekali tidak ada ada tanaman di pinggir-pinggir sungai.

Tapi kini, bantaran dan area sekitar sungai pesanggrahan yang dulunya tak terawat itu sudah berubah sepenuhnya menjadi lahan hijau. Lebih tepatnya area yang dikenal sebagai Hutan Kota Pesanggrahan, Sangga Buana Karang Tengah, yang memiliki luas lahan sekitar 40 hektare.

2. Dianggap gila

Babeh Idin (instagram @sanggabuana_official)

Sama halnya seperti kisah para pejuang lingkungan lain, Babeh Idin menceritakan jika dulunya ia kerap mendapat cemoohan saat pertama kali melakukan aksi pembersihan seorang diri.

Sambil menirukan cibiran orang-orang di masa lalu, ia mengungkap seperti apa ucapan yang kerap dilontarkan kepadanya kala itu.

“Orang-orang bilang, ‘Jangan ngikuti Bang Idin, dia lagi gila, miskin, pengangguran, tiap hari kerjanya ngauk-auk sampah di kali, menanam-nanam pohon,'” kenang Babeh Idin, mengutip Detik.com

Menurutnya, berbagai upaya mulai dari pembersihan sampah, penanaman pohon, hingga pelepasan bibit ikan dia lakukan dengan berlandaskan prinsip jika alam bukan hanya warisan dari nenek moyang, tapi titipan dari anak dan cucu supaya mereka bisa menerimanya dalam kondisi yang baik di masa depan kelak.

  Titik balik kehidupan Mawi, pemburu Harimau Sumatra yang tobat setelah 45 tahun

“Silakanlah orang menghina gue miskin, gila, tapi gue berjalan terus. Begitu pohon yang gue tanam berbuah, gue nggak mengklaim bahwa itu pohon gue,” tambahnya.

3. Keberhasilan kawasan konservasi

Wisata edukasi dan konservasi di hutan kota Pesanggrahan (instagram @sanggabuana_official)

Sekitar 36 tahun berjibaku memperjuangkan kelestarian sungai Pesanggrahan dan lingkungan sekitar, akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Bukan hanya menciptakan lahan hijau, dirinya kini banyak dihormati sebagai sosok yang mengelola Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana.

Dengan adanya KLTH, banyak orang yang kini justru menggantungkan hidupnya dari kawasan di sekitar sungai Pesanggrahan. Mulai dari membuat tambak ikan, membuat pemancingan, hingga tempat wisata.

Hutan Kota Pesanggrahan sendiri memang kini banyak dikenal sebagai kawasan konservasi yang memberikan wisata edukasi berupa pertanian, dan peternakan. Beberapa di antaranya yaitu kuda, kambing, kelinci, ayam, bebek, dan masih banyak lagi. Selain itu ada juga edukasi perikanan, pengolahan sampah, pendidikan lingkungan, bahkan hingga kebudayaan.

“Di hutan kota ini orang bisa sesukanya datang. Duduk-duduk di sini, menikmati kelestarian alam di sini. Anak-anak bisa main di sini, orang-orang di sekitar sini menjadikan tempat ini sebagai tempat mereka berkumpul. Mereka bersosialisasi di sini, ada wadah untuk mereka bertemu dan berkomunikasi.” pungkas Babeh Idin.

  Muhammad Yusri, penjaga kelestarian penyu di Pantai Mampie

“Sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya (suku) Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Ambon, dan mana saja. Semua berkumpul di sini, bercengkrama di sini, ngobrol di sini.” tambahnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya