Darmawan Denassa, pegiat konservasi sekaligus literasi asal Gowa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Darmawan Denassa (instagram @ denassa)

Ada dua bidang gerakan kemanusiaan yang saat ini cukup banyak dilakukan, yakni pemberdayaan literasi dan konservasi lingkungan. Adakah sosok yang bergerak di dua bidang tersebut sekaligus secara bersamaan? Jawabannya ada, salah satunya adalah Darmawan Denassa.

Siapakah Darmawan Denassa?

Pria yang akrab disapa Denassa ini adalah salah satu sosok yang melakukan gerakan pemberdayaan di dua bidang yang dimaksud, jauh sejak tahun 2007. Berkat upaya dan kerja kerasnya pula, ia sudah mendapat sederet pengakuan dan penghargaan yang membanggakan.

Fokus utamanya, Denassa membuat sebuah gerakan literasi yang dipadukan dengan kearifan lokal dan budaya dalam pelestarian dan penyelamatan keanekaragaman hayati.

Seperti apa gerakan yang dilakukan Darmawan dan apa saja hasilnya bagi lingkungan sekitar? Berikut cerita perjalanannya.

1. Mengenal sosok Darmawan Denassa

Darmawan Denassa (instagram @denassa)

Denassa merupakan pria kelahiran tahun 1976 asal Gowa, Sulawesi Selatan. Sebenarnya, ia memiliki latar belakang pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin tahun 1996.

Meski begitu, namanya besar berkat gerakan pendirian Rumah Hijau Denassa (RHD) pada tahun 2007. Diceritakan bahwa inisiatifnya dalam membangun rumah dan taman ekologi itu berangkat dari rasa keprihatinan yang dimiliki.

  5 publik figur Indonesia yang aktif sebagai pegiat lingkungan

Denassa disebut merasa miris karena melihat kondisi kampung halamannya di Borongtala, Kabupaten Gowa. Pohon-pohon yang dulunya menjadi tempat bermain semasa ia kecil lenyap ditebang untuk lokasi perumahan baru.

Hal itu yang membuat hatinya tergerak untuk melakukan perubahan. Ia memulai dengan melakukan penanaman sejumlah pohon di sebuah tanah yang diwarisi oleh orangtuanya. Kemudian, Denassa mendirikan sebuah swadaya ekowisata Rumah Hijau Denassa (RHD).

Bangunan yang dibuat pada kisaran Januari 2007 itu awalnya hanya rumah sederhana dengan bata bercat putih. Lokasinya berjarak sekitar 300 meter dari jalan poros Makassar-Gowa.

Meski begitu, bangunan tersebut berdiri di atas lahan seluas 1,1 hektare, yang seiring berjalannya waktu kini dipenuhi oleh segelintir flora dan fauna endemik Sulawesi Selatan.

2. Upaya yang dilakukan RHD

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Kebun Denassa (@kebundenassa)

Masih mengutip sumber yang sama, di taman ekologi rintisannya tersebut Denassa diketahui membuat ekosistem buatan untuk sejumlah spesies hewan langka. Ia juga menyediakan makanan dan minuman khusus bagi fauna yang hidup di RHD.

  Sri Woro Harijono, ahli meteorologi perempuan pertama di Indonesia

Beberapa jenis hewan penghuni RHD yang dimaksud terdiri dari burung Maleo (Macrocephalon maleo), burung Cilepuk, burung Perkici, burung Pelatuk Sulawesi, dan burung Sikatan Burrata (Cyorniss).

Lain itu, ia juga membangun ekosistem buatan untuk tikus bawakaraeng, cicak terbang, jenis-jenis ulat, kupu-kupu, dan laba-laba.

Dalam salah satu kesempatan, Denassa mengungkap perasaannya mengenai hewan endemik Sulawesi yang terancam punah justru akibat ulah manusia sendiri.

“Sayangnya, orang Makassar tidak tahu, bahkan ada yang menembaki (hewan),” ujarnya.

Selain itu, di tempat yang sama juga setidaknya ada sebanyak 563 spesies tanaman endemik yang dipeliharan dan dijaga Denassa.

Di RHD itu, Denassa menjadi taman ekologi sekaligus sebagai tempat literasi bagi semua kalangan dari berbagai usia, untuk belajar. Baik secara literasi maupun pengetahuan mengenai lingkungan, kekayaan flora dan fauna, dan sejenisnya.

3. Deretan penghargaan

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Darmawan Denassa (@denassa)

Berkat gerakan dan pengaruh yang diberikan, Denassa sudah mendapatkan sederet penghargaan. Salah satunya Penghargaan Gubernur Sulawesi Selatan sebagai Tokoh Pengembangan Perpustakaan Komunitas di Sulsel (2011).

  Swietenia Puspa Lestari, perempuan penjaga laut dari ancaman sampah

Denassa juga pernah mendapat penghargaan Gubernur Sulawesi Selatan Pendiri Kampung Literasi Borongtala (2017). Dan Juara I Anugrah Taman Biodiversitas Pekan Kebudayaan Nasional (2021).

Yang membuat namanya semakin dikenal adalah penghargaan Kalpataru kategori Perintis Lingkungan pada tahun 2021. Sebelumnya juga diketahui jika RHD ternyata telah dikunjungi oleh peminat isu lingkungan dari 72 negara.

Terkait gerakannya ia berharap di masa depan aka nada kalangan anak muda yang memiliki kepedulian lebih tinggi terhadap lingkungan.

“Melalui Rumah Hijau Denassa diharapkan menjadi salah satu bentuk kontribusi besar terhadap penyediaan lahan untuk ekosistem flora dan fauna. Mengajak kaum pelajar untuk datang mencintai alam dan lebih peduli terhadap populasi spesies hewan endemik,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya