Farwiza Farhan, dipuji Bill Gates dan masuk daftar TIME100 Next 2022

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
(womensearthalliance.org)

Bertambah lagi salah satu sosok aktivis lingkungan Indonesia yang dikenal dunia, dan mendapat pengakuan bergengsi secara internasional, yakni Farwiza Farhan.

Bukan nama baru, Farwiza selama ini dikenal sebagai salah satu sosok aktivitas yang menggerakan upaya pelestarian di kawasan hutan Leuser, Aceh.

Untuk diketahui, Time 100 Next 2022 sendiri merupakan ajang sorotan dari majalah internasional TIME yang berbasis di Amerika Serikat. Time 100 Next menyorot deretan sosok yang dianggap berpengaruh dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia mulai dari publik figur, politikus, pengusaha, hingga aktivis.

Ada sebanyak lima kategori yang dibuat oleh TIME dalam penghargaan tersebut, yakni kalangan Artists, Phenoms, Innovators, Leaders, dan Advocates.

Adapun untuk Farwiza Farhan, dirinya meraih kehormatan untuk masuk dalam daftar Time 100 Next 2022 untuk kategori Leaders.

1. Daftar teratas kategori Leaders hingga dipuji Bill Gates

Jika dilihat pada laman resmi Time 100 Next 2022, sosok Farwiza Farhan berada di posisi teratas untuk kategori Leaders. Sekadar informasi, kategori Leaders sendiri diisi oleh jajaran sosok yang dianggap sebagai pemimpin, dalam membawa perubahan lebih baik bagi dunia.

  5 publik figur Indonesia yang aktif sebagai pegiat lingkungan

Farwiza Farhan disandingkan dengan sederet sosok menginspirasi dari berbagai belahan dunia lain. Salah satunya Cassidy Hutchinson yang merupakan mantan ajudan dan asisten Gedung Putih di Amerika, dan sejumlah tokoh besar lainnya.

Melalui media sosial Twitter, majalah Time menuslikan jika  apa yang dilakukan Farwiza sebagai sosok yang mempertahankan ekosistem hutan dari industri, pembangunan, dan pemburu liar adalah pekerjaan penting.

Istimewanya, penyataan tersebut rupanya langsung menarik perhatian Bill Gates yang memberikan pujian.

“Pemimpin seperti @wiiiiza (akun Twitter Farwiza Farhan) membuat saya optimis untuk masa depan kita. Awal tahun ini, saya berkesempatan bertemu Farwiza dan sangat terkesan dengan kiprahnya melindungi ekosistem Leuser di Indonesia.” tulis Bill Gates.

2. Mengenal sosok Farwiza Farhan

Farwiza Farhan (via One Earth)

Sepert yang telah disebutkan sebelunya, Farwiza Farhan merupakan sosok aktivis lingkungan yang berjuang melindungi kawasan hutan belantara terakhir di kawasan Leuser, Aceh.

Kawasan Leuser sendiri pada dasarnya memiliki peran penting karena menjadi tempat terakhir di Bumi tempat sejumlah spesies ikonik langka hidup. Adapun spesies langka yang juga endemik yang dimaksud adalah harimau, orangutan, gajah, dan badak.

  Darmawan Denassa, pegiat konservasi sekaligus literasi asal Gowa

Disebutkan bahwa awalnya ia lebih dulu memiliki ketertarikan terhadap ekosistem laut. Dia pertama kali belajar Biologi Kelautan dan kemudian mendapatkan gelar MSc dalam Manajemen Lingkungan.

Namun seiring pertambahan usia, ketertarikannya berubah menjadi pada ekosistem darat. Hal tersebut terjadi seiring dengan kesempatan saat dirinya bekerja di sebuah instansi pemerintah yang mengelola Ekosistem Leuser di Sumatra pada tahun 2011.

Bersamaan dengan itu, Farwiza memulai tekadnya untuk melindungi daerah Leseur dari eksploitasi, dan mendirikan LSM HAkA (Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA), pada tahun 2012.

Lewat HAkA, Farwiza mewakili masyarakat lokal dalam memerangi eksploitasi dan ekspansi manusia yang mengancam Ekosistem Leuser. Ia bersama rekan-rekannya sampai membawa pertempuran untuk alam ke persidangan.

Pada akhirnya salah satu keberhasilan yang terus terekspos hingga saat ini adalah pencapaian Farwiza dan rekannya, dalam kemenangan hukum terhadap upaya untuk mengubah kawasan ekosistem Leuser menjadi perkebunan kelapa sawit.

3. Kata Farwiza Farhan tentang alam

Farwiza Farhan (twitter @wiiiiza)

Sama halnya seperti upaya perjuangan terhadap lingkungan yang belum disadari banyak orang. Farwiza juga mengakui jika dirinya sempat mengalami tantangan.

  Naufan Noordyanto dan 5 karya kampanye lingkungan berbalut desain grafis

“Ketika saya mulai, semua orang berkata, “Kamu tidak bisa melakukan semuanya. Kamu harus fokus. Kamu tidak bisa menjalani pendidikan dan aksi pelestarian kehutanan, kamu harus memilih.””

Dan Farwiza pada akhirnya memilih untuk berpikir;

“Apa gunanya mendidik seorang perempuan muda jika dia kembali ke desanya dan meninggal karena kurangnya sanitasi? Semuanya saling berhubungan. Kita perlu memecahkan masalah ini pada saat yang sama” tegasnya.

Lebih lanjut, Farwiza juga menyatakan pendapatnya soal peran yang ia jalani dalam menjadi seorang konservasionis.

“Seringkali, pertempuran untuk melestarikan alam terjadi di ruang pertemuan, atau di pengadilan. Itu sebabnya konservasionis tidak bisa menjadi klub eksklusif, itu harus mencakup semua orang dari semua lapisan masyarakat. Kita semua membutuhkan ekosistem yang sehat untuk berkembang.” Imbuh Farwiza.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya